Posts

Showing posts from December, 2010

Ku Ingin Menulis Sajak Cinta Terbaik Sepanjang Masa

Sudahkah anda membaca sajak-sajak cinta ini? Sajak atau puisi cinta yang perlu anda baca. Mungkin ini sajak atau puisi cinta terindah sepanjang masa (hehehe). Silakan kunjungi dan baca dengan sepenuh perasaan. Semoga hanyut dalam rasa mendalam, dalam gelombang pasang sajak-sajak cinta yang penuh kerinduan. Puisi-puisi cinta. Ah puisi puisi cinta seakan tak lekang dalam perjalanan waktu.
Adakah Kau RasaAku MerinduApa Kabar SenjaBagaimana Dapat Kau RasaBagaimana Dapat Kugambarkan BahagiaCintakuDari Kerling HeningDi Ujung SetiaDinyalakan-NyaHalangi Langkah KakiJangan Jadi DuriJika Cinta HadirKau TahuKudekap EngkauKuingin KatakanKumpulan Puisi CintaKunthi HastoriniKutemu SenyummuKutulisLelaki BerpuisiLENGKUNG MIMPIMatamu Adalah Cahaya Purnama BulanMenapak Jejak di Jalan SetapakMenemu Negeri CahayaPada Keping Yang SamaPuisiPuisi BerduaPuisi CintaPuisi Cinta BerduaPuisi Cinta KitaPuisi Cinta RomantisPuisi Kunthi Hastorini

Sajak Di Akhir Tahun

di akhir tahun ini, apa yang coba kau ingat, apa yang coba kau lupakan?

angka angka telah berguguran, dari kalender, hari yang kau lewati, hari yang kau khidmati, dengan langkah tak henti

mungkin ingin kau lupakan kekalahan demi kekalahan, kesedihan demi kesedihan, peristiwa yang menyakitkan

mungkin kau abadikan segala yang membuatmu bahagia. sebagai kenang. sebagai bayang.

huruf huruf yang gemetar di jemarimu, menanda hari berganti, jam berganti, detik berganti

apa yang telah kau lakukan, apa yang telah kau rencanakan, apa yang telah kau katakan, apa yang telah kau inginkan

30 Desember 2010

Adalah Jiwamu yang Haru

: erland

suara yang bening yang hening adalah jiwamu yang haru, menitikkan airmata bagi derita, menitikkan airmata bagi bagia

puisi tercipta dari udara yang bening, terkadang bising, kau menjadi gema bagi suara suara, suara suara yang tak pernah didengar

anak anak yang memanggul cobek di bawah hujan, membuat haru dirimu, seperti puisi yang kau cium dari keringat derita, o kanak siapa?

sisakan sedikit cahaya

sisakan sedikit cahaya untukku, kata ranting kepada matahari, di saat
senja, menunggu burung kembali ke sarangnya, di ranting itu

Rahasia Puisi

apa yang dibocorkan puisi kepadamu? mungkin semacam rahasia yang disembunyikan di dalam kepala dan dada, di dalam rindu yang tak terkata

mungkin di dalam kekosongan

mungkin di dalam kekosongan kau temukan jeda, hiruk pikuk dunia telah
menyihirmu bergerak tanpa henti. diamlah sejenak. temukan kekosongan.

Kunang-Kunang

kunang-kunang beterbangan di jernih air, kunang kunang beterbangan di bersih udara, seperti kurindu kutemu di mata kanakku dulu

seperti ditandai pada waktu

seperti ditandai pada waktu, kelahiran, jodoh dan kematian, sebagai sebuah kehendak yang mungkin tak kita pinta

Sebatang pohon kamboja

:untuk asep sambodja

Sebatang pohon kamboja, bunga-bunganya mewangi, di pemakaman airmata, akan terus tumbuh dan hidup dalam kenangan dan cinta kami.

9 Desember 2010

Pengampun

ALLAH maha pengampun, tapi sudahkah kita minta ampun atas segala aniaya pada diri sendiri?

Nasehat

ketika kita tak mau bersyukur, maka kita akan jadi orang yang serakah. ketika kita tak mau bersabar, maka kita jadi orang pendendam.

MENUNGGU HUJAN REDA

Kau punya payung cadangan. Atau kenangan. Semacam kau cadangkan gurau menunggu hujan. Dengan derai tawa.

PADA DAUN DAUN YANG JATUH

Sebuah suara, daun yang letih, menunggu tunas-tunas tumbuh.

PADA JAM YANG TERUS BERDETIK

Kau menunjuk waktu. Meminta waktu berhenti. Agar kau terdiam dalam bagia tersimpan. Saat itu.

DI BENING MATAMU

Ada yang tersimpan, mungkin kebahagiaan. Yang kau cadangkan, saat duka menghunjammu.

DI SISA WAKTU

Mungkin ingin kau cadangkan harap, semacam rencana-rencana kecil. Di waktu yang tersisa. Tak cuma sia-sia.

DI SAAT HUJAN

Tidakkah kau ingin sisakan airmata. Agar tak semua sampai ke lautan sedihmu. Sisakan sedikit untukku, saja.

SURAT YANG KAU TULIS

Sudah sampai. Ke alamatmu kembali.

Tak henti hujan menulis

Tak henti hujan menulis di tanah, parit, sungai, muara, sampaikan rindu kepada laut yang menunggu.

Menulis Rindu

Kutulis rindu itu di angin lalu, agar sampai kepadamu, cintaku.

Ditulisnya nama

Ditulisnya nama itu di kaca yang mengembun, hingga sengat matahari menghapusnya. Dan ia menunggu embun esok pagi.

Ada Yang Menulis Isyarat

Ditulisnya isyarat, namun tak ada yang mengerti, semata rahasia yang menyimpan rindunya.

Hanya

Ia menulis dengan tinta airmata, hanya sanggup dibaca dengan kacamata cinta

malam malam di bulan desember

malam malam di bulan desember menyimpan hujan, menyimpan cerita yang disampaikan awan kepada angin, isyarat yang tak sampai

di rabumu di rabuku

hembuskan ke dalam rabuku, cintamu yang tulus, agar ku berbahagia, bersamamu, bersama cintamu

di rabumu di rabuku ada ruh yang dihembuskan, yang bersaksi yang berserah, menempuh jalan Cinta.

Mungkin Hanya

mungkin hanya keluh yang kau dengar, mungkin hanya gaduh yang kau dengar, mungkin hanya aduh yang kau dengar, ah senyumMU

kubisikkan di telingamu kata-kata

kubisikkan di telingamu kata-kata, serta nama-nama, namaku namamu nama anak-anak kita, sebagai ingatan, bahwa kita berbahagia

lihatlah bibirku mengeja, agar kau tahu sejarah sedang kubaca, dari matamu yang menyimpan peristiwa, diriku yang mencinta

cintaku, dengarlah degup jantungku, kau akan temukan ombak, memburu pantai, menyeru-nyeru

aku menggigil di buku sejarah

aku menggigil di buku sejarah, merasa sepi di antara letusan peluru dan simbah darah, ah kuasa, ah kekuasaan, siapa yang menatah? mungkin ingin kau hapus huruf, buku-buku sejarah yang tak ingin kau baca, karena pengkhianatan meluka sepanjang masa





Puisi Yang Menjadi Genit, Menggoda Kami

puisi menjadi genit. bersolek dengan kata kata. yang dipungut dari gegas tak berkesudahan. sepanjang detik sepanjang waktu. menggoda kami. aku berdiam dalam simpangsiur. kata kata yang membius. hiruk pikuk. dan aku mulai bergumam. membangun bahasaku sendiri. kami. kita. adalah dia atau mereka. yang dituding. dengan seribu murka. dengan sejuta kutuk. badai tak terhingga. dimana aku? katamu selalu bahasa menjadi gelanggang. adu kekuasaan. berputar putar. makian dan pujian. basa basi. jenguklah dirimu. jenguklah. mungkin aku. dirimu. lalu engkau ciptakan kata dari gula gula. dibungkus manis. sebagai janji. sebagai mimpi. tapi saat kami nikmati terasa getir di bibir. pahit

Engkau adalah Aku. Aku adalah Engkau

akupun diam. sediam engkau. karena bahasa kita sama. engkau adalah aku. aku adalah engkau. mencintai aku. mencintai engkau. dengan sederhana.

seperti lintasan waktu yang putih. kosong. tak bergerak. aku adalah diam. yang tak henti mencintaimu. dalam diam. dengan diam. puncak sajak ah, aku tetap mau menjadi diriku, yang mencintaimu dengan sederhana dan tanpa banyak bicara.

sebagaimana kau kau raba dadaku, kau temukan luka, keasingan yang membisu mengetuk ngetuk pintu jendela. angin yang asing. rasa yang asing karena bahasa penyair bahasa yang tak kau sukai, berputar dari asing ke asing yang lain. tapi lihatlahlah mataku, apakah kau tetap terasing?

aku tetap ingin menjadi diriku yang mencintaimu dengan sederhana dan tak banyak bicara

LARIK LARIK YANG MUNGKIN INGIN KAU ABADIKAN

mengapa jarak selalu membuat risau? sedangkan detak selalu kau dengar dari jantung rinduku

aku ingin menulis puisi demikian riang pagi ini. puisi yang bening, sebening kaca yang diterpa cahaya matahari. seriang nyanyi prenjak menyambut matahari. hati riang di hari yang terang dan tenang!

adalah hidup yang kita hargai dengan katakata bermakna. seperti diterjemah dari airmata. duka atau bahagia. semata. MilikNya.

sebagai embun. berpendar cahaya matahari. lalu meniada.

aku menyapamu. namun engkau diam saja. walau kutahu. kau simpan rindu. selalu. di hatimu.hingga sampai cintamu. di puncak segala puncak pemahaman. diam

YANG MENUNGGU YANG MERINDU YANG BAYANG YANG KENANG YANG DIRI YANG SENDIRI

YANG MENUNGGU YANG MERINDU

menunggu. menunggu. menunggu. menunggu. keberangkatan. jam berapa sekarang? 3 jam lagi?

matahari senja. Cahayanya menerobos kaca jendela. Demikian sayup. Seperti ketuk jejemarimu yang gemetar menanggung rindu

TENTANG KERINGAT

yang menetes adalah keringat yang menyungai adalah keringat yang melaut adalah keringat dan airmata cintaku

kau ingat keringat demikian deras, dan membayar upahnya sebelum kering keringatnya. Kau ingat?

jika peluh menjadi keluh yang lepuh, maka kuingat keringat yang upahnya terlewat bisa berakibat gawat

TENTANG PELUH

tubuh. peluh yang luluh. peluh yang luruh. tubuh yang ingin kau rengkuh

adakah peluh pada lenguh, malam yang gaduh? sebagai gemuruh ranjang seakan meruntuh

DIRI YANG MEMBACA DIRI

diri membaca Diri yang abadi dalam diri itikaf hari hari cinta memburu rindu dendam melulu dimana kekasih diri di dalam diri yang semesta

di dalam lautan Cinta aku seekor ikan berenang kian kemari menari nari

o Engkau yang tak pernah dapat diingkari

haiku atau haimu apa bedanya. hai hai. bulan terang di halaman. memandangmu semalaman

yang membayang pada malam adalah engkau di bawah cahaya bulan bundar warna oranye

seribu bulan benderang cahayanya di dadamu. seperti kutemukan dari kedalaman mata yang mencahaya senyumnya

di jauh malam matahari tetap bersinar, cahayanya memantul di purnama bulan

kau rengkuh rembulan memungut sisa cahayanya

seekor kodok melompat ke dalam mimpiku yang rembulan

di balik awan, rembulan sembunyi. merindu matahari mencintai. seperti dulu lagi

haiku haimu. hatiku hatimu. lebur huruf di dalam api: puisi

rembulan yang sama. rembulan yang itu itu juga. mengapa tetap kau rindu. menjadi puisi abadi.

sebutir rembulan. berbutir bintang. ditatahkan pada malam. tanda cintaku padamu

surat cinta yang kukirimkan jatuh di halaman rumahmu. dipanaspanas dihujanhujan dianginangin. bertumbuhan bunga

YANG ALAY YANG LEBAY

1)

kesenanganmu curhat. curhat kok dipelihara?

(2)

berulangulang dia mengucap hal yang sama hingga engkau menjadi bosan dan mulai menggelar spanduk dengan protes yg diulang juga

?

(3)

aku dengarkan saja keluhanmu yang sama dengan kemarin, lusa, yang lalu. serupa nasi basi. basi tahu. basi. dan kubuang ke tempat sampah

(4)

dari sisi mana akan kulihat dirimu bergulung pita bergulung suara bergulung senyummu yang itu itu juga. menyebalkan!

(5)

mungkin engkau memungut kata dari bahasa yang diduplikasi ribuan kali dan dengan segera menyeru: no comment. copy paste dari kata-kata selebriti yang alay dan lebay.

(6)

unyu unyu!

SAAT IMSAK KULIHAT JAM TERUS BERDETIK MENUJU SUBUH

tik tik tik berdetik waktu hingga menjelma menit jam hari minggu menjelma bulan dan tahun tahun hidupmu yang terus berdetik hingga titik

ada yang berbisik di dalam puisi karena hidup demikian berisik. berbisiklah. hingga sunyi menyelimuti. kekal di dalam diri.

kami ingin memandang hidup demikian seluruh. hingga kami tahu ada yang luruh ada yang utuh. karena tak semua teguh tak semua rapuh.

aku temukan subuh yang teduh. semoga tak kujumpa esok yang mengaduh karena hidup yang gaduh makian yang menuduh dan nasib yang terjatuh

GAUNG ATAU RAUNG YANG KUDENGAR

gaung ataukah raung yang kudengar di antara tebing dan gunung? Kau dengar suara itu, seperti dari dalam relung. Hatiku

YANG MERAMBAT ADALAH

yang merambat adalah kenang hingga menjelma api gigilkan diri terpanggang sepi

yang merambat adalah angan inginku menjangkau cintaMu yang selalu kurindu

yang merambat adalah waktu, berdetik pasti menujuMu

KETELA RAMBAT

ketela rambat merambat rambat ingin kau sapa dengan tanganmu yang erat merambati tubuhnya hingga harum nikmat

PENSIL PATAH

tapi pensil itu patah tuan, harus diraut lagi. hingga bisa merambati umur dunia

yang keluh yang peluh memantra teluh

yang keluh yang peluh memantra teluh. yang kelu yang pilu memeta angka: telu. seperti tari merentak rentak merancak rancak di hingga subuh menyuluh tubuh. duh

mengapa deru yang seru menyaru saru? serumu! serumu! merupa lama merupa mala. menuba tuba membuta buta membatu batu.

pada tubuh subuh kau tahu ada keluh atau peluh? mungkin peluk kelu butuh tubuh. agar subuh tubuh tak rubuh

pada malam aku berangkat menuju dinihari

pada malam aku berangkat menuju dinihari dengan sejumlah kata yang rindu mimpi seperti sihirhujan yang tak henti menjelma puisi

puisi yang random mengikuti dirimu menggumpalkan bahasa dalam kepala seperti kaki kaki hujan yang gaib menyertai

secangkir kopi. sepiring agar agar. dan aku belum terpicing juga.

malam telah melarut. kopi telah melarut. kantuk segera melaut. lautan mimpi menyambut. sebagai cintamu yang lembut

yang menunggu adakah dirimu

yang menunggu adakah dirimu. menunggu waktu untuk kembali ke surga yang kau tinggalkan. dahulu

yang menari adakah dirimu. dengan cericit di atap atap. di sawah penuh bulir padi. disiram cahaya matahari pagi.

yang tersenyum di waktu subuh adakah embunmu. menunggu matahari. atau hujan di pagi hari?

yang mengembun di waktu subuh adakah airmatamu? menunggu matahari pamerkan kilau. dan menciumnya hingga tiada

Kesedihan yang Menyapa. Mu

telah kuserahkan segala. kepadaMu. aku berserah. aku pasrah. pada kehendakMu semata. jadi. maka jadilah. kehendakMu.?

aku adalah air. dengan api yang sangat, aku mendidih.

aku menari. kesedihan yang menari. aku adalah kesedihan. menyapa Engkau. dengan tarian. kesedihan yang menyapa. Mu

di batas ruang aku tulis sesak kalimat

di batas ruang aku tulis sesak kalimat karena puisiku menjelma air yang terus mengucur mengalir hingga sesak kata sirna di isaknya, karena?

hanya kata yang terpilih dimakamkan di sini, di tanah yang tak mungkin kau kenali, seperti jejak itu menggurat 140 huruf terakhir

demikian gaduh. bicara sendiri. di ruang demikian pengap. kau memuja diri sendiri.

dan aku mulai belajar sesuatu yang baru. sesuatu yang asing. dan ragu

seperti adam yang menerka. dan memberi nama. sesuatu yang belum diajarkan. aku beri tanda

pada jalan setapak ini. aku meracau sendiri. menggurat huruf. menanda adaku. melintasi waktu

Yang Berdetik Adalah Waktu

:mahmud fauzi thahir

yang berdetik adalah waktu, yang menitik adalah airmata, di titik puncak penyerahan, dirimu. wahai jiwa yang merdeka, wahai jiwa yang mengetahui arah tuju, wahai engkau yang memakna waktu demi waktu dengan hikmah pengetahuan, akan diri sejati, memakna hidup yang asasi. karena engkau adalah jiwa yang merdeka. manusia yang merdeka!

Menjelang 11 Agustus

1.

setiap detik yang disyukuri
setiap langkah yang melimpah hikmah
setiap bahagia yang dipinta

dengan doa dan usaha

titik usia hanya tanda
berapa tapak menuju
rumah cintaNYA

2.
sayangku, cintaku
lebur cintaku cintamu di dalam
cintaNYA yang bertahta dalam jiwa

3.
semoga engkau tetap bahagia
menatap bening mata kanak-kanak kita

4.
semoga kita dapat bersyukur senantiasa
atas segala karunia

Malang, 10 Agustus 2010

Langit Demikian Cerah

:asep sambodja

langit demikian cerah. seceria wajahmu. karena tuhan memberi apa yang kau pinta. juga yang tak kau pinta. yang kau terima dengan ikhlas ridha. secerah langit. saat ini, menjelang senja.

Aku Ketuk PintuMU

aku ketuk pintumu. Kau bilang, masuklah. Kau dan aku bercakapcakap. tanpa kata. hanya. Cinta. Cinta. Kau dan aku. hanya. Cinta.

Sambutlah Aku dengan RinduMU

sambutlah aku dengan rinduMu. sambutlah. telah kuhitung sebelas purnama. telah kuhitung lukaluka. sambutlah aku dengan cintamu. agar kuhitung seribu bulanmu. menghapus luka. menghapus duka. yang kutikamkan berulang kali ke dada sendiri. sambutlah aku. wahai. Engkau yang kurindu.

Puisi Tentang Puisi

macet lagi. macet lagi. gara gara puisi. menari nari. di jalan jalan. di gang gang. puisi puisi menari nari. hingga esok hari. (7:03pm

puisi puisi sedang berpesta di jalan jalan memacetkan lalulintas. duh puisi mengapa aku tak boleh pergi (6:47pm June 2nd, 2010)

dah puisi. aku harus pergi. ke dalam mimpi. ke dalam diri. ke dalam sunyiku sendiri. dah puisi. besok kita jumpa lagi. jika aku rindu lagi. padamu puisi. (5:59pm June 2nd, 2010)

tanpa basa basi puisi masuk ke dalam otakku. dia berak seenaknya di benak hati. dasar puisi tak tahu diri! (5:53pm June 2nd, 2010)

eh puisi. tunggu. aku pipis dulu. di kamar mandi. (5:51pm June 2nd, 2010)

ayo puisi kita berkelahi lagi. seperti dulu. seperti dulu lagi. aku atau engkau yang menyerah nanti. (5:50pm June 2nd, 2010)

sekerling mata puisi. bikin hati terpikat mati. (5:48pm June 2nd, 2010)

telah aku tikam tepat di jantung puisi. tapi puisi tak pernah mau mati. bangkit berulangkali. menghantui aku lagi. duh gusti… (5:19pm June 2nd, 2010)

adakah…

Jika Engkau Terjepit di Leher Botol, Apa yang akan Kau Lakukan?

buat: afrizal malna

aku akan menulis puisi, katamu

terpejamlah malam dalam kelam dalam suram dalam geram hingga dendam redam terperam dalam hingga karam dalam palung rahasiamu yang terdalam

paras teras keras pasar serat serak sarap retas ada dada dada ada dadaku kuda dada ada daku duka dada ada amat amat mata mata tamat mata mata amat pedas getas gegas cemas gemas remas kemas lemas debar benar getar senar gitar gelar memar tebar samar besar kamar tampar gambar camar gampar sampar

malam muram malam suram malam maram malam malam pejam malam jeram malam malam lebam malam kelam malam kejam malam seram malam geram malam ketam malam malam sekam malam cekam malam peram malam rekam malam redam malam malam karam malam garam malam dawam malam malam waham malam malam kalam malam salam malam makam malam masam malam dalam malam

26 Januari 2010

G.A.Z.A

namun tak usai. karena perih begitu merih. karena aku manusia. engkau manusia. rasakan perih yang sama. pedih yang sama. dan kutuk? aku tak sanggup lagi mengucap kutuk. karena kutuk bukan milikku. bukan milikku. hanya doa lirih yang perih dan pedih. kepada tuhanku. penjawab segala keluh. sungguh aku letih

Tentang Gerimis

1.
gerimis tak habishabis. gerimis yang manis. aku tulis. aku tulis. gerimis yang rinai. gerimis yang ramai. merimis rimis. amatlah manis.

2.
mendung menggantung. dan engkau cemas memandang cuaca. menerka angin dingin dan gelap langit. menghitung titik titik hujan. sebagai rimis. sebagai rimis. menyapamu sore ini.

3.
ternyata, gerimis mempercepat terang. mendung menghilang. langit benderang. gerimis yang segera habis membuatmu tak jadi meringis nangis.

3-4 agustus 2010

Tentang Kemerdekaan

ketika buku buku dilarang. ketika pemikiran dilarang. ketika suara suara kebenaran dilarang. ketika mimpi mimpi dilarang. maka puisiku akan memburumu!

kalian tak akan pernah bisa memenjarakan manusia merdeka. kalian tak akan bisa melarang pemikiran merdeka. kalian tak akan bisa memasung kata kata merdeka!

aku rayakan kemerdekaan dalam hati. aku rayakan kemerdekaan dalam pikiran. aku rayakan kemerdekaan dalam kata kata. aku rayakan kemerdekaan dalam tindakan. ya, karena aku manusia merdeka!

Senja dan Matahari yang Menyusun dirinya dalam Puisi

senja ini menyusun remangnya. ke dalam baris-baris puisi yang gelap. menyisakan cahaya matahari di jeda waktu yang lelah. mungkin keluh ingin disampaikan peluh pada tubuh. yang menggayuh matahari ke balik kelam. seperti ingin kau kabarkan tentang negeri-negeri jauh. negeri yang kau tandai dengan kata cinta.

saat itu, mungkin ada senja yang bersenda. di matamu yang menanda: alamat kemana kau akan kembali. ingin kembali menyusun cahaya matahari. di dalam puisi.

Malang, 5 Agustus 2010

Ketapang - Gilimanuk

ketapang dini hari. truk bus mobil mobil antre. orang orang tertidur. bermimpi. di dalam mimpinya mereka menulis puisi: ketapang dini hari. antre lama sekali. ketapang. kunang kunang cahaya di kejauhan. debur pelan ombak. o mimpi mimpi siapa dibangunkan. dinihari yang merayap. kapal kapal menyeberang. orang orang di dalam perut kapal. dan aku? menulis puisi di asin laut. di embun malam. yang menyeberang ke esok hari.

gilimanuk. bersandarlah kapal. mesin mesin mobil dinyalakan. asap bikin asma kumat. pengap.

Aku Datang, Bali

(1)
tabanan ombak putih putih menyeru pantai menyeru nyiur menyeru rerumputan menyeru pesawahan di subuh yang menetas menjelma pagi

(2)
jalan berkelok kelok. berkelokkelok jalan. naik turun naik turun naik. menanjak menikung menurun menikung. kehidupan. oi kehdupan. kubaca tanda di jalan raya.

(3)
hijau pesawahan. subak. hijau. subak. sawah. subak. mengalir air. subak. dari atas ke bawah. subak. mengalir adil. subak. hijau pesawahan.

(4)
denpasar. terik matahari. hidung mampet. penyair kehilangan kata kata yang sederhana. siang yang asing. menunggu kopi hitam. kendaraan tak menjemput juga. fesbuk tak pernah dipadamkan. jerit peluit tukang parkir. celoteh tak habis. aku ngantuk.

(5)
wangi bunga harum dupa. hantarkan doa doa. degung menggaung mencipta ruang renung. di panas udara. di silir angin. bergulung kenang. menyapa diriku

Legian-Kuta Malam Hari

kuta. hujan tiba tiba. turis kuyup di pelataran pertokoan. mengapa trotoar tanpa atap? katamu suatu ketika. mungkin karena pejalan suka hujan dan sengat matahari. seperti aku yang mencari matahari di malam hari. tiada lagi dirimu di situ.

mengapa aku menjadi demikian asing. menziarahi kenangan. di kuta yang macet. dentum musik sepanjang jalan. hilir mudik turis. di mana engkau. di mana engkau. mengapa aku menjadi demikian asing. di sini

Juli, 2010

Untuk Kanak-Kanakku

kanakkanakku,
doaku selalu
doa kami selalu
doamu selalu.

hari hari yang ingin diberi makna
semata bahagia
disyukuri bersama

Juli, 2010

Senja yang Kuyup, Senja yang Gugup

senja yang kuyup. rimis menjadi hujan melebat sebentar. senja yang gugup. miris menonton acara gosip di televisi. senja yang surup. nyaris angslup matahari ke kedalaman malam.

Yang Berdiam dalam Handphone

buat: pring dan malna

ada yang berdiam dalam handphone. dunia tanda tanda. menanda penanda petanda. dunia benda benda. bandwith modem pulsa fesbuk twitter google yahoo menyala sepanjang waktu. sepanjang waktu jagamu. ah, malna belum kuupload video itu. terlalu besar filenya.

Menyebarang Selat Bali

ke barat ke barat kita kejar matahari, katamu. diombangambing ombak. pusing kepalaku. nenek moyangku seorang pelaut, aku ingin bernyanyi sekeraskerasnya. setuwung mie instan hangat meluncur bebas ke dalam usus. angin berhembus. ombak bergoyang goyang. nenek moyangku, seorang pelaut! pusing kepalaku

kucoba berdamai dengan hempas gelombang dan deru angin: ah, nenek moyangku, seorang pelaut!

Memandang Purnama Bulan

(1)

purnama sempurna bulan. di langit. seorang penyair ragu puisi apalagi yang belum ditulis penyair lain atau mungkin dirinya sendiri tentang bulan yang purnama sempurna.

(2)

sebutir bulan. terang. semangkuk laut. pasang. sebutir bumi. biru. sepandang langit. tatap. seorang aku. Rindu

Batu Kali

batu batu kali batu batu kali berapa tambah berapa diusung ke kota diusung jalan jalan diusung gedung gedung diusung rumahku rumahmu dikubur dalam tanah direkatkan dalam keinginan mengukuhkan batu batu di kepala batu

Hujan yang Kesekian

hujan yang kesekian. hujan yang kau simpan. diam diam. dalam puisi. saat mata ingin terpejam. hujan yang kau kira akan berdiam dalam puisi yang tentram, berubah menjadi kucuran air dari kran. diam diam membanjirkan puisi ke dalam kepalamu. diam diam.

Di Tanah Lot

(1)

di tanah lot. turis berfoto. aku berfoto. kita saling berfoto. tak kulihat lagi tikus yang masuk lobang. hanya kerumunan orang. tak kulihat kamu di situ. di tebing batu. di pasang laut. kemana gemetar dulu. yang menjadi kenang. dalam wingit dupa. dalam harum bunga. ke mana engkau, kenangku yang dulu, lot.

(2)
secangkir kopi tak bisa mencegahku untuk mengantuk. rimis membasah di aspal terminal. mendung cuaca. sekotak nasi. secangkir kopi yang tinggal ampas hitam. sebatang rokok menyala. dan kantuk yang tak mau menunggu.

Aku Hujankan Puisi

aku hujankan puisi di meja meja kantor
penyair yang lupa dengan impiannya
tertumpuk kuitansi dan berkas espeje

aku hujankan puisi di segala waktu
saat kata kata merindu diriku
saat aku merindu mimpiku

aku hujankan puisiku
untukmu untukmu untukmu
yang memendam kata-kata rindu

Aku Bawakan Terang Bulan, Sayang

aku bawakan terang bulan. bulan terang, sayang. manis legit harum terpanggang. aku bawakan terang bulan sayang saat bulan terang. semanis bahagia selegit gembira seharum cinta. aku bawakan terang bulan saat bulan terang.

Aku Datang Ke Kotamu, Pontianak

(1)
aku datang ke kotamu ibnu. kuingin menulis dan baca puisi di tepi kapuas. tapi tak kutemukan dirimu. engkau di mana kawan? kau bilang di pontianak ada pay. aku ingat pay, sajak sajaknya kubaca di cybersastra di waktu lalu. aku datang ke kotamu ibnu. aku ingin menulis dan baca puisi di situ.

(2)
memandang awan. putih. putih. putih. memandang kabut. putih. putih. putih. diguncangguncang. diguncangguncang. 30000 kaki di atas permukaan bumi. duh, gusti hanya kepadamu segalanya kembali.

(3)
katamu, ayo penyair,jangan lagi kau pesan rumput ilalang atau kenang. mari cicipi kepiting lada hitam, udang galah kecap, kakap bakar. mari….

menu menu berlocatan menjelma puisi

(4)
di puncak tugu. matahari. di puncak usia. matahari. di garis khatulistiwa. peta digaris. matahari.

(5)
cermin seribu bayang. kulihat masal alu. masa kini. masa depan. waktu membuatku terharu. memandang cermin seribu bayang. dimana kejayaan masalalu itu. pada berkas kertas di dinding. pada foto foto lama. ah kenang berduy…

Porong Macet

porong. macet. porong. macet. porong. macet. porong .macet. porong. macet. cet. cet. cet. jalan berdebu. debu. debu. beterbangan. sampai ke: matamu!

Aku Sebut NamaMU

aku sebut namamu. aku sebut namamu. aku sebut namamu. aku sebut namamu. aku sebut namamu. aku sebut namamu. dalam hela nafasku. Allahku

SAJAK KANAK (1)

ini ibu, aku sayang ibu
ini ayah, aku sayang ayah
ini adik, aku sayang adik

ibu sayang aku, sayang ayahku, sayang adikku
ayah sayang aku, sayang ibuku, sayang adikku
adikku juga sayang aku, sayang ibuku, sayang ayahku

kami saling menyayangi, aku senang sekali

SAJAK KANAK (2)

aku suka berenang, bernyanyi dan menari
melukis juga aku suka, main boneka juga

hari kamis, di sekolah aku belajar berenang
kalau bernyanyi dan menari setiap pagi

aduh, aku senang sekali sekolah
diantar ibu atau ayah setiap hari






SAJAK KANAK (3)

di rumah aku suka melukis, main boneka
main masak-masakan

aku ingin jadi guru, seperti ayah, guru tk
nanti bisa menyanyi dan menari setiap hari

aku juga ingin punya rumah makan,
biar makan enak setiap hari

di temboknya aku gambar: bintang, bulan, matahari
cantik sekali






SAJAK KANAK (4)

adikku lucu sekali
giginya belum tumbuh semua

aku suka dicium adikku itu
basah mukaku kena ludah adikku

adikku sayang sekali kepadaku
kalau bermain sekolah-sekolahan

adikku jadi murid aku jadi guru





SAJAK KANAK (5)

aku punya teman, dia nakal sekali
aku suka diganggu,

tapi aku bilang ke temanku itu:
jangan suka mengganggu

dan dia sekarang jadi sahabatku





SAJAK KANAK (6)

ayahku tidak bisa melukis, tapi suka menulis
aku ingin bisa menulis, seperti ayahku

aku sudah bisa membaca,
tapi belum bisa membaca banyak

aku sudah bisa menulis
tapi belum bisa banyak

sajak ini aku tulis, dibantu ayahku
senang sekali aku bisa menulisnya





SAJAK KANAK (7)

aku suka melukis
melukis ibu
melukis ayah
melukis adik
melukis aku sendiri

lukisanku bagus kata ibu dan ayahku
sambil dicium kepalaku





SAJAK KANAK (8)

kata pak ustad tuhan sayang anak anak seperti aku dan teman temanku
tuhan yang baik sayangi juga ayah ibu dan adikku ya
o ya, sayangi pak ustad dan bu guru juga





SAJAK KANAK (9)

di sekolahku ada acara
kata bu guru hari kartini
aku didandani ibu pakai baju betawi

senangnya aku jadi cantik sekali
aku bertanya pada ibu: kartini itu apa
ibuku bilang, kartini perempuan yang mulia sekali





SAJAK KANAK (10)

adik, gantian dong
mbak mau nonton upin ipin
adikku suka dora dan teletubies
aku suka upin ipin dan sponge bob
adikku bilang: po po po

Bali, 23 Juli 2010







SAJAK KANAK (11)

ayahku suka mendongeng setiap aku mau tidur sambil diusap usap punggungku dipijat kakiku. ayahku mendongeng kancil dan buaya. kancil yang kecil tapi pintar. buaya yang besar tapi bodoh.
buaya ingin makan kancil.
silakan, kata kancil tapi nanti kalau sudah menyeberang sungai.
kancil menunggang punggung buaya menyeberang sungai.

di atas punggung buaya,
kancil berpikir,
bagaimana cara lepas dari terkaman buaya

sampai di seberang sungai, kancil bilang pada buaya: tunggu sebentar ya.
kancil melompat, lari tak disangka. buaya ternganga tak menyangka.

aku bertanya: kenapa kancil berbohong. kenapa menipu buaya yang lugu?






SAJAK KANAK (12)

aku pingin sepeda baru
aku sudah besar, umurku sudah lima tahun sekarang
sepedaku yang lama rodanya tiga
biar untuk adik saja

ibu bilang nanti kalau tabungannya sudah penuh beli sepeda baru
setiap hari aku menabung di celengan babi yang lucu

celengan babi yang gendut dan lucu, kapan penuh, kapan beli sepeda baru?
aku rajin menabung setiap hari di celengan babiku yang gendut dan lucu.
di hari ulangtahunku, ayah membelikan sepeda baru untukku. dengan uang tabunganku.
sekarang aku sudah besar, enam tahun umurku.





Sajak Kanak (13)

ayahku mendongeng
timun emas dan butho cakil
tersebutlah kisah
raksasa yang rakus
hendak memangsa timun emas
butho cakil, demikian orang memanggil
mati tenggelam di lumpur
terasi dilempar ke butho cakil,
menjadi lumpur
timun emas selamat
rakyat menyambut gembira





Sajak Kanak (14)

aku senang, diajak tamasya ke kota
tapi aku jadi tidak suka
jalan jalan di kota macet

waktu aku tanya ayah, kenapa jalanan macet?
ayah bilang: butho cakil sedang lewat





Sajak Kanak (15)

bu guru bercerita, memikat sekali
cerita si kancil yang pintar banyak akal
tapi si kancil suka nakal
mencuri mentimun pak tani

pak tani yang miskin
menanam mentimun
dipelihara setiap hari

aku kesal kepada kancil
tidak kasihan kepada pak tani

kata bu guru,
kami tidak boleh seperti kancil
yang pintar mencuri






Doa

beri kami kesabaran menghadapi segala coba. beri kami kekuatan untuk menghadapinya. beri kami kesehatan senantiasa…

Terima Kasih

terima kasih. doa yang diaminkan. telah sampai padamu. terima kasih untukmu, wahai sang penepat janji….

Sebelum Berangkat

bismillah. dengan menyebut namamu. yang yang maha pengasih dan penyayang. aku bertawakal. tiada daya upaya selain atas ijinmu. kutapakkan langkah mencari nafkah yang berkah. rizki yang halal. bismillah…

Malang, 2010

Doamu Cintaku

doamu, cintaku,

doa yang dihembus nafas
sebagai cinta
yang tak henti dipanjatkan

mengetuk pintu sorga

Cahaya Matahari Demikian Menyengat

cahaya matahari demikian menyengat, tapi mengapa menjadi gigil di dalam diri. sebagai debar sebagai debur sebagai gelombang berbuncah liar. menemu hampa. menemu asing. cuma…

Malang Pasar Malam

ada yang menari. kanak kanakku. di keriuhan pasar malam. sepanjang jalan. kloneng delman. nyala oncor. wayang kulit. gelembung sabun. balon warna warni. kembali kita kembali. ke dalam kenang.

Malang, 2010-05-21

Agar Kau Catat

buat: wilu ningrat

aku tulis sajak ini, saat hujan menyapa tak henti, karena tanda baca datang dan pergi. mungkin puisi harus dipahat di dinding dinding kenang. agar kau catat. kau ingat. pernah ada sahabat memahat dindingmu. dengan puisi. demikian khidmat.

Malang, 2010

Terjemah Mimpi

buat: sahid

terjemahkan mimpi mimpi puisimu dengan kata. yang berdasar dalam dada. karena kata kembali pada asalnya. kembali ke mula. kata. di dalam dada.

Malang, 2010

Sebuah Tembikar

Buat: adhy rical

sebuah tembikar dari tanah liat yang likat. ditoreh kata. tentang asal mula kata: cinta…

Malang, 2010

di Degup Jantung

Buat: Loektamadji Arif Poerwaka

di degup jantung mengalirlah puisi sebagai darah sebagai cinta yang menyeru nama: wahai sang maha pengasih dan penyayang. dan engkau berserah dengan penuh syukur, alhamdulillah….

Malang, 2010

Kau Ingat Tarian Bulan

buat: doddy moyank

kau ingat tarian bulan. mungkin di lautan. mungkin di senda gelombang. yang mengaramkan sajak. ke dasar. palung terdalam. hingga segala kenang karam. di dalam kelam.

Malang, 2010

Kota yang Mengasingkan

buat: Deni Mizhar

ah, mengapa kota-kota selalu mengasingkan kanak. dari kenang padi-padi. dari kenang layang-layang. dari kenang bening kali. dari segala kenang. o, kanak mari memahat dinding-dinding kota. catatkan namamu. di bawah sajak tentang mimpimu tadi. kenangmu tadi. agar kuingat kau, o kanak yang terasing. kota yang hilang. dari kenang. dari bayang.

Malang, 2010

Assalamu Alaikum

Buat: Ramli Abdul Rahim

assalamu alaikum. doa yang diucapkan. keselamatan bagimu. warrahmatullahi. serta rahmat allah. wabarrokatuhu. dan barokah untukmu. karena dari rahim maka kita bersilaturahim. mengikat diri. pada kasih sayang. cinta tuhan. yang maha

Malang, 2010

BAYANG BAYANG WAKTU

bayang-bayang waktu
membayang

di pelupuk matamu

waktu yang menjelang
tak pernah bisikkan kabar

kapan kan datang

setiap detik
mungkin kau bertanya

kapan kan tiba

segala awal akhir
waktu dirimu

HUJAN DI AKHIR TAHUN

hujan. di akhir tahun. adakah membasuh luka-luka. di hati kami. yang bernanah.
sekian lama tertikam senyum rayuanmu, paduka.

MUNGKIN KAU KIRA

mungkin kau kira akan selamanya. tak. tahta nan fana. tahta tak baka. hanya
sekejap mata. meski kau jaga dengan paksa. meski kau bentengi dengan tipu daya.
sungguh. mungkin kau lupa. apa yang kau punya hanya sementara. hanya makna yang
kami ingat sepanjang masa, dari hidupmu yang tak baka

BAKARLAH BUKU KAMI

bakarlah buku kami
biar menjadi abu

tapi kau tahu
tak pernah bisa kau
sembunyikan kebenaran itu

karena abu yang mendebu
adalah mimpi burukmu
yang menghantu dirimu

dirimu selalu

MUNGKIN TAK PERNAH KAU KIRA

mungkin ingin kau pejamkan mata
sekejap saja terlelap

tapi kau tak bisa

karena bisik-bisik itu semakin bising
menjadi hiruk pikuk

dan amuk

yang mungkin tak pernah kau kira
segala menjadi buruk

dan terkutuk

AYO

ayo, kata-kata
menarilah

sekira kau bisa

sekian lama kata sembunyi
dalam goa

dieram sunyi duka

menarilah kata
menarilah

ini saatnya kau berkata

ADA YANG BERANGKAT DI WAKTU SENJA

ada yang berangkat
di waktu senja

engkau
yang kulepas dengan doa doa

keikhlasan menuju:
keabadian. cinta dan keadilan yang sejati….

Tentang Senja

senja. matahari jingga. dan aku menyerupai bayang-bayang. di batas cakrawala. ada sepi menanti. di batas mimpi. ada sunyi menanti. di batas nyeri. siapa menanti. Kau-kah. tak henti menanti. dengan rindu seluas sunyi. (6:34pm May 24th, 2010)

puisi adalah sepi itu sendiri (5:12pm May 26th, 2010)

selamat senja. selamat senja. biarkan matahari kembali ke peraduan. biarkan malam merapat ke kegelapan. selamat senja. semburat jingga di langit jiwa! (5:24pm May 11th, 2010)

Di Puncak Malam

pangeran, aku harus pergi. malam akan sampai puncaknya. cinderella berteriak dalam hati, karena masih ingin merengkuh jemari yang kukuh.

malam yang menua. malam yang akan menyirnakan segala mimpi. pada dentang ppenghabisan, dia kan temukan nasibnya.

ada yang debar mungkin dari kabar

ada yang debar. mungkin dari kabar: serbuk karbit, logam berkarat, secarik ancaman yang sakit.

mungkin wajahmu yang nyeri. atau dadaku yang ngeri. meraba kelam semakin geram. di kepala yang sakit. di hati yang pahit. kau simpan apa?

mungkin dendamlah yang kau peram. karena cinta tak pernah kau paham. dan segala demikian waham.

seteguk demi seteguk kopi pahit. bayang menyilang dari darah bersimbah. wajah yang lelah. menatapmu.

hidup demikian pahit. surga teramat jauh. melintasi padat jalan raya. sepeda demikian rapuh. dan cinta?

cinta demikian asing. tak henti merahasia.

Selamat Pagi!

selamat pagi! matahari sepenggalah tingginya. menghangatkan jiwamu jiwaku. penuh seluruh. sehangat cinta. seceria bahagia

selamat pagi, katamu kepada matahari. dirimu sendiri. yang mencahaya demikian lembut. menyingkap kabut. mencium embun di daundaun.

Jagalah: Mulutmu!

ada yang akan menerkammu. mungkin kata. yang tak kau jaga. beranak pinak di belantara. liar. mengintaimu diam diam

Aku Selalu Bertanya, dan Engkau tak Pernah Bosan