5/04/2017

DENGAN CINTA

suatu ketika rabi'ah ditanya, apakah kau membenci setan?
jawabnya: tidak

banyak orang kebingungan
dan bertanya: mengapa?

karena dalam diriku hanya ada Cinta


23 Maret 2000



Sila ditengok juga:
 Puisi Universitas Brawijaya 
Nanang Suryadi Lecture UB


DARAH PERTAMA

lelaki yang terlahir di surga
merasa paling tampan sedunia

"apa yang hendak kalian persembahkan?"

lelaki yang terlahir di bumi
persembahkan kurban terbaik

"ah, gagak, ajari aku mengubur adikku sendiri"

begitulah, darah pertama manusia menetes
di tangan saudara sendiri


22 Maret 2000


Sila ditengok juga:
Puisi Universitas Brawijaya 
Nanang Suryadi Lecture UB


SEORANG ANAK, REMBULAN DAN MATAHARI

rembulan merah darah,
tunjuk anak pada langit
itu bulan mengapa marah

matahari merah darah
tunjuk anak pada cakrawala
itu matahari mengapa nangis?

darahnya leleh pada mata

matahari, rembulan
mencium seorang anak
yang selalu bertanya-tanya

dan kata mereka:"syukurlah,
tak kau butakan matahati..."

Malang, 1993 - 1994



Sila ditengok juga:

Puisi Universitas Brawijaya 
Nanang Suryadi Lecture UB


4/30/2017

Pakai

pakailah pakaian itu pakaian yang pantas untukmu tapi jangan kau pakai dengan kesombongan karena kau tak berhak memakai pakaian kesombongan


pakailah pakaian yang pantas untukmu yang masih layak sebelum akhirnya rusak dan kau pakai mengelap barang habis pakai

Bandung, 2016

Sila ditengok juga:
Puisi Universitas Brawijaya 
Nanang Suryadi Lecture UB

Ketika Benda

ketika benda benda berubah menjadi seperti manusia. maka engkau akan.dibisiki tiang listrik, dimarahi hujan, diteriaki matahari, dimakan.sendok, diminum gelas.

aku menulis puisi. benda benda berebut ingin serupa manusia. di dalam puisi mungkin.engkau dijual rumah.


Sila ditengok juga:
Puisi Universitas Brawijaya 
Nanang Suryadi Lecture UB


Menyapamu


Siapakah engkau? Bayang-bayang samar. Tak ada kaca untuk bercermin. Tak mengenali diri sendiri. Siapa engkau? Demikian lekat di denyut nadi.
Kemana ku menghadap? Engkau semata. Tatapmu rahasia. Menembus dalam kalbu
Di jalan puisi aku berjalan. Gaduh ramai manusia, tetap sunyi terasa. Demikian sunyi rahasiamu. Demikian teka-teki jalan sunyi. Menujumu

Aku menyapamu. Menyapamu dalam geletar tak menentu. Gemetar airmataku menyeru-nyeru, karena kutahu engkau maha tahu, segala rindu.

Bandung, 2016

Sila ditengok juga:

Puisi Universitas Brawijaya 
Nanang Suryadi Lecture UB


Yang disukai Sepanjang Waktu

Sebulan Terakhir

Google+ Badge

Google+ Followers

Translate

Total Pageviews