5/06/2013

Contoh Tiga Puisi Yang Sepi

HITAM BAYANG

Kota dan bayang bayang melaju menderu ke arah tak tentu
Mimpi digariskan dalam tidur panjang
Terbunuhlah kanak oleh jemari kutuk
Ditikam dengan bengis ke dalam lubuk jantungnya
Karena nyeri kehidupan
O, berlepasanlah segala riwayat
Dari kehendak
Diserukan gemuruh diserukan deru
Manusia yang kehilangan
Mencampakkan engkau ke dalam parit-parit
Lubang kelamin
Tegang kelamin
Di kelangkang waktu
Hingga bertumbuhan ilusi dalam rahim imaji menggeliatkan janin kalimat
Detak jantungnya adalah hentak tak jelas
Demikian lamat menyeru kehidupan atau sekarat kematian



HANYA ENGKAU

jerit lindap dari kedalaman jiwa yang kosong menyeru meminta jawab rahasia nyeri di mana akhir di mana ujung derita tak bertepi tak tergapai daratan pantai di mana engkau menanti dengan senyum dengan peluk cium o dekaplah aku ayun ambinglah dalam perahu cintamu biar kukayuh biar simbah segala napsu biar punah segala syahwat lebur dalam cahaya cintamu yang gelombang arusnya menenggelamkan ke dalam hakikat kesejatian lumatlah lumatlah dengan sepenuhnya hingga habis diri tumpas diri yang ada hanya adamu semata engkau semata


MENGALIRLAH HIDUP

mengalirlah hidup mengalirlah bersama airmata mengalirlah hidup mengalir bersama mimpimimpi mengalirlah hidup menglir bersama derai tawa luka o inilah catatan yang telah menjadi saksi kesekian tentang kesepian manusia yang terlunta di padang padang buru di padang padang pencarian diri kekasih diri di mana kan ditemu di mana dijumpa karena janji yang ditera jemarinya di telapak tangan sebagai guratan nasib o engkau menarilah bersamaku menari dalam tangis derita bahagia menari dalam darah yang menyembur nyembur menderas mencari asal mula darah asal mula hembus napas asal mula kesejatian hidup



PADA HURUF YANG GEMETAR

pada huruf yang gemetar tersimpan sepi puisi dan gelisah sunyi penyair mengendap di kedalaman palung jiwa menyerta mimpi yang meronta dari dekap peluk waktu fana

Contoh Sajak Rindu kepada Tuhan

Di Saat Aku Merinduimu

Genta waktu yang kau bunyikan
Dentingnya sampai di sini

Di penghujung hari
Saat ku merinduimu

Apa yang ingin kau kabarkan?
Di kelebat saat yang fana

Engkau demikian abadi
Dalam ingatanku

Sejak kau hembus
Tak pupus

Hingga kini
Hingga gigilku sendiri

Merinduimu
Di lelangit harap dan mimpi

Kutatap
Juntaian takdir

Leliku
Jalan-jalan bercabang

Sampaikah aku
Menujumu?

Di hariba
Cintamu

BANDARA TAIPE

Menunggu. Menunggu. Mencoba mengeja dunia. Huruf-huruf tak terbaca. Kata terbata. Berapa harga sebuah dunia? Berapa harga, diri manusia.



Aku Adalah Airmata

aku adalah airmata, yang tak ingin kau hapus?

aku adalah airmata, yang menyerumu penuh rindu. melulu rindu.

aku adalah airmata. menyeru namamu. menyeru namamu!

Malang, 2011

Puisi untuk Sahabat Afrizal Malna

Ada Orang Mati, Malna

orang orang menyimpan asap. di jalan raya indonesia. malna, dimana bahasa. dimana kuasa. dimana identitas. ada yang mati malna. ada. bahasa

ada yang mati malna. orang-orang berbaju hitam. bahasa telah disalahpahami. juga cinta. seperti anjing menggonggong. malam itu. jam patah.

ada orang mati, malna. ada orang mati. jam sudah berangkat. ada pringadi yang rindu kamu. menulis dari tubuh. modernitas yang mati, malna.

Malang, 2011

Sunyi Sebenar Sunyi Meliputinya

sunyi sebenar sunyi meliputinya. sunyi yang ingin dinikmatinya sendiri. jangan kau ganggu. hingga pertapa menemu. masuk telinga ruci. tak ada kepastian baginya. hanya dirinya sendiri. bertarung dengan gelombang. pemikirannya sendiri. lautan api di kepalanya.

5/02/2013

Blog Puisi Cinta Kita

Blog Puisi Cinta Kita dalam beberapa hari terkahir sudah saya update. Blog Puisi berdua Nanang Suryadi dan Kunthi Hastorini ini diganti judulnya agar sama dengan url: puisicintakita.blogspot.com. Puisi-puisi dalam blog Puisi Cinta Kita ini ternyata banyak yang menyalin, tapi sayangnya blog-blog tersebut tidak mencantumkan link sumber pengutipan. Tapi biarlah, semoga isi dari blog Puisi Cinta Kita bisa bermanfaat bagi banyak orang.

O ya, dengan keyword: "Puisi Indonesia Mutakhir", "Puisi Indonesia Kontemporer" dan "Puisi Indonesia Terkini" dalam beberapa hari terakhir blog ini sudah bisa masuk halaman satu google. Semoga anda bisa menemukan puisi-puisi di blog PUISI ini melalui keyword-keyword tadi. Sila blog walking :D

Sila ditengok juga:

Puisi Universitas Brawijaya 
Nanang Suryadi Lecture UB
Web Nanang Suryadi

Kumpulan Puisi Cinta

Kumpulan Puisi Cinta Blog puisi nanangsuryadi.blogspot.com bisa dikatakan sebagai blog Kumpulan Puisi Cinta. Dalam blog ini terdapat banyak puisi-puisi cinta. Selain merupakan kumpulan puisi cinta, blog ini juga menampilkan kumpulan puisi sunyi, kumpulan puisi sosial politik, kumpulan puisi religius. Sila langsung kunjungi di menu, dan temukan kumpulan-kumpulan puisi yang anda inginkan, yang benar-benar puisi. :)

Semoga anda bisa menikmati Kumpulan Puisi Cinta di blog ini.

Beberapa contoh PUISI CINTA di blog ini:

http://nanangsuryadi.blogspot.com/2012/01/kumpulan-puisi-cinta-dan-kesedihan.html
http://nanangsuryadi.blogspot.com/2011/03/cinta-yang-tak-pernah-putus-asa.html
http://nanangsuryadi.blogspot.com/2011/03/cinta-yang-menaklukkan-segala-aniaya.html


Sila ditengok juga:
Puisi Universitas Brawijaya 
Nanang Suryadi Lecture UB
Web Nanang Suryadi

Kumpulan Puisi Sosial Politik Kemasyarakatan

Kumpulan Puisi Sosial Politik Kemasyarakatan
    SAJAK-SAJAK NANANG SURYADI

    ORANG ORANG YANG MENYIMPAN API DALAM KEPALANYA


    PADA TEMARAM PERTARUHAN DIMAINKAN

    di sudut sebuah pasar malam, bayangan tentang las vegas, macao, dan
    crown melintas-lintas dalam benakku, seorang perempuan tua meraup coin
    dari alas penuh nomer, pada temaram pertaruhan dimainkan, nasib baik
    atau buruk penjudi kelas teri

    di pojok yang lain, gambar ikan dan udang yang ditebak menyimbolkan apa?
    selain penasaran yang minta dilunaskan, karena kekalahan menikam ulu
    hati, memakilah, karena tiada mampu berbuat apa melihat segalanya
    terjadi: upeti diselinapkan pada tangan siapa. namun adakah yang peduli,
    karena pertaruhan terus dimainkan. hidup dan mati di meja kehidupan.

    (sepertinya malam telah begitu larut, dalam benak kita menari-nari
    dursasana dan sengkuni yang menang dadu. adakah kita pandawa yang
    terusir ke hutan belantara?)


    Malang, 1997



    KINCIR DIAM SEBUAH PASAR MALAM
    pada loket pasar malam tertulis: tutup, sampai ketemu esok hari. kuda
    yang ditumpaki kanak berhenti, kincir diam menadahi kebekuan malam yang
    mulai mengembun menyentuh rambut di kepalamu yang rontok satu-satu,
    merenungkan apa? selain kebingungan manusia yang saling menyesatkan
    dengan pertanyaan-pertanyaan ---bualan kosong--- melepaskan sesak dalam
    dada. karena kebenaran, katamu, menjadi bahasa-bahasa langit, dan
    teramat sulit untuk dieja.

    maka sambil terpejam kaupun meremangkan tanya,"apa yang dibaca dari
    tanda-tanda jalan raya, tulisan pada buku-buku sejarah, relief pada
    candi-candi, selain manusia yang ingin membaca dirinya sendiri dengan
    kejujuran atau pura-pura?"

    Malang, 1997


    ORANG-ORANG YANG MENYIMPAN API DALAM KEPALANYA
    Meledak juga akhirnya, kemarahan itu, membakar gedung-gedung serta harta
    benda yang begitu kau cintai. Massa yang mungkin sukar kau mengerti
    maunya. Orang-orang yang menyimpan api dalam kepalanya dari waktu ke
    waktu, rasakan berjuta perasaan dalam dada bergalau tak karuan. 

    Orang-orang yang memandang pameran kemewahan, namun mereka tiada mampu
    memilikinya, walau keringat telah diperas begitu deras, walau tulang
    belulang telah dibanting dengan begitu keras. Namun tetap saja yang
    terlihat ketidakadilan yang disodorkan di mana-mana. Mengapa kau
    tanyakan lagi; apa sebab kerusuhan itu terjadi. Darah membanjir. Air
    mata mengalir. Sedangkan jeritan itu tiap detik diperdengarkan meminta
    perhatianmu. Dan tak juga telingamu mendengarnya?

    Jemariku melukis dengan gemetar sebuah kota yang gemuruh, yang
    mencampakkan orang--orang yang kesepian ke dalam plaza, diskotik, cafe
    yang riuh serta ruang hotel hendak lunaskan mimpi senggama. Karena
    industrialisasi (juga modernisasi + westernisasi) telah mencemplungkan
    mereka ke dalam limbah-limbah pabrik dan melemparkannya ke udara yang
    pengap. Namun tak jera juga manusia mengadu nasibnya dengan map penuh
    kertas di tangan mengetuk pintu-pintu kantor, dimana mimpi-mimpi akan di
    simpan di dalamnya .

    Dan pada kerusuhan yang meledak di segala penjuru. Kita tatap wajah
    siapa. Selain orang-orang yang lelah dan benak penuh api, yang akan
    membakar, apa saja. Di tanganku yang gemetar, kota yang meledak
    menggigilkan harapan ke sudut-sudut peradaban

    Malang, 22 Juli 1997



    SEORANG IBU DAN MIMBAR YANG DIROBOHKAN
    siapakah yang menangis di situ. pada keriuhan orang-orang berteriak.
    lemparan batu dan kobaran api. seorang ibu berdiri di samping mimbar
    yang dirubuhkan.

    betapa merah itu marah. betapa kelam itu hitam. betapa mendung itu mega.
    betapa sedih engkau ibu?

    Malang, 1996



    ANAK YATIM PIATU PERADABAN
    peradaban telah terbunuh. ayah bunda sejarah telah menjadi kutukan bagi
    anak-anaknya. tertebaslah pohon dari akarnya. tertebaslah kita dari
    kenangan.

    teks-teks lama telah ditinggalkan, kehormatan-demi kehormatan
    ditanggalkan. menjelmalah wajah coreng moreng, tak jelas siapa dirinya.
    menjadi anak yatim piatu sejarah peradaban. terputus dari masa silam.
    mencari jalan ke masa depan.

    Cilegon, 1996


    BERSAMA CERITA WAHYU
    anak-anak muda yang menatap cerobong pabrik,
    kantor penuh uang,
    tambang emas permata sebagai sebuah masa depan
    rasakan kecemburuan luar biasa

    ketika pintu-pintu buat mereka tak pernah dibuka
    sedangkan etalase menawarkan mimpi-mimpi yang harus dibeli

    seteguk demi seteguk menelan kebencian,
    berkobarlah api di dalam dadanya

    karena kenyataan begitu pahit

    berbutir pil dan minuman keras bersarang di perutnya

    (dengan belati di tangan
    menyergap rizki di tengah jalan!)

    Malang, 2 Oktober 1996


    SEBUTIR MATA 
    mengingat: w.t.

    perempuan itu, istri seorang demonstran, berkata: karena perjuangan
    harus dilanjutkan, kang mas, aku relakan sebutir mataku untukmu.
    menggantikan mata kirimu yang pecah saat unjuk rasa.



    UCAPAN SELAMAT TIDUR
    good night, my son

    ke dalam tidurnya
    anak-anakmu membawa cerita sore tadi, orang orang yang terjatuh,

    derum sepeda motor, truk penuh manusia, dan juga bendera-bendera
    warna-warna menjela di kedua mata,

    anak-anak pun mengigau:
    ibu, lihatlah betapa terang bintang, betapa rimbun pohon beringin,
    ibu, mengapa itu banteng terluka
    dan hampir mati?

    Malang, Mei 1997


    AMBISI
    :obrolan bersama gustom

    guratan itu sebagai idea yang bergulung-gulung membadai,
    seperti juga ambisi manusia yang tak tertahankan,
    hendak menjebol segala dengan penuh keyakinan.

    namun, adakah kau terima juga kekalahan itu
    dengan penuh rasa syukur
    atau dendam membara dalam dada?

    Malang, 3 Juni 1997


    BUKU-BUKU YANG DITUMPUK DAN BERDEBU
    buat: kinyur + gustom

    berapa tokoh pada sejarah yang diusung dalam buku-buku. adakah gustom,
    hakim, kinyur, wahyu, taufan, joko, hazim, kita semua di situ.
    mengais-ngais sampah peradaban yang ditawarkan siapa saja.

    seperti juga kondom yang dikampanyekan. orang-orang pun menawarkan
    warna-warna bendera dan nama-nama.

    buku - buku berdebu yang ditumpuk telah mengajarkan apa padamu.
    mengajarkan kekuasaan yang busuk
    dan kau ingin menggapainya?

    Malang, 7 Juni 1997


    CERITAKAN PADAKU TENTANG ANGGUR DAN REMBULAN
    aku ingin menyapamu pada suatu senja, ketika kau akan bertolak ke sebuah
    negeri asing
    ceritakan saja padaku tentang anggur dan rembulan,
    karena telingaku terlalu bising dengan makian kemiskinan dan peperangan,

    atau nyanyikan saja untukku: selamat malam duhai kekasih
    agar nyenyak tidurku, tak terganggu mimpi buruk tentang negeri ini
    janganlah lagi kau ceritakan tentang korupsi yang membuatku ingin muntah
    atau kolusi, atau manipulasi, atau penindasan, atau....ah, aku ingin
    tertidur sekejap saja

    Malang, 30 September 1997


    PERASAAN KEHILANGAN
    kemana perginya kejujuran
    dulu ia berdiam di sini,

    dalam dada penyair,
    dalam puisi
    kucari ia,

    matamu bertutur apa,
    adakah kejujuran di situ

    pada tangis,
    seorang gadis melemparkan kesah

    pada tawa,
    seorang lelaki melemparkan gundah

    jalin menjalin hari
    tak kunjung di jumpa

    ia pergi,
    dan aku merasa kehilangan

    kau juga?



    ORANG YANG MEMAHATKAN KENANGAN
    seseorang melayarkan ingatan pada bayangan, menembus ruang waktu,
    terbacalah pada telapak tangan garis kehidupan, meramalkan masa depan,
    atau kejayaan masa silam? relief-relief pada batuan bercerita tentang
    sebuah kenangan, abadikan mitos pada pahatan: "bertahktalah raja-raja
    pada hati rakyat dengan kearifan, tersingkirlah penguasa zalim dari
    nurani rakyat yang butuh keadilan"

    suatu ketika orang-orang menuliskan cita-cita dan kegundahannya pada
    lontar-lontar, sambil menembangkannya sebagai ajaran hidup. tataplah
    huruf-huruf itu pada serat-serat tua, bacalah: jaman edan...

    menarilah bayangan-bayangan: ke mana kita arahkan perahu ini. adakah
    kita pewaris moyang gagah berani, mengarungi samudera dengan kapal
    pinisi

    bowo, tanto rabalah relief itu, sepertinya ada airmata moyang kita di
    situ?

    Malang, 17-24 Juli 1997

Kumpulan Puisi Orang Yang Merenung dan Perenungan

Kumpulan Puisi

    sajak-sajak: nanang suryadi

    ORANG YANG MERENUNG


     
    PRIBADI YANG TERBELAH

    bercakap sebagai karib yang selalu menghinakan satu sama lain
    melecehkan, bertempur dalam ruang dan waktu: diri!

    ada berapa kepribadian yang hadir pada dirimu?
    bertolak belakang paradoksal
    atau saling melengkapi sebagai harmoni

    sekular atau tak
    dikotomis atau bukan

    engkau hadir mencoba untuk tidak goyah, utuh mengatakan pada dunia

    tapi tak bisa
    senantiasa ada dialektik

    senantiasa ada keinginan-keinginan manusia
    yang tak terpadamkan , sepertinya.....

    Malang, 7 Juni 1997


    ORANG YANG MERENUNG
    buat: cak zen

    tanda yang membayang pada bola mata
    adalah dunia berputaran dalam benak kepala
    terbacalah kegundahan manusia merenungkan kehidupan
    sebagai cerita tiada habis-habisnya

    seperti juga ayat yang terbuka untuk ditafsirkan
    alam mengajarkan rahasia-rahasia sebagai tanda-tanda

    terbacakah juga di situ segala jawaban?

    orang yang merenung membaca tanda-tanda
    mencoba menyibak rahasia
    tak usai juga

    Malang, 02 Agustus 1997



    JAMBANGAN RETAK
    menderulah badai memporakan harapan yang disusun dalam hatinya
    seseorang yang mencinta meletakkan bunga layu pada jambangan retak

    kepada siapa kan disampaikan kegundahan
    orang sunyi yang merindu menyimpan bayangan
    menari-nari sebagai cerita tiada terlupakan

    catatan pada buku menguning
    abadikan kisah percintaan dan kesedihan

    Malang, 02 Agustus 1997



    SERAUT WAJAH MASA SILAM
    menatapmu adalah menatap silam
    dimana kutemukan bayangan menari

    adakah kurindukan masa lalu kembali kini
    pada senyum yang melambai
    pada pesona cinta yang menjerat hati

    raut wajah yang membayang pada kedua mataku
    adalah sejarah yang hendak kutimbun dalam kelampauan
    tapi tak!

    kenangan itu tetap membayang

    senyum itu mengapa menggoda diri
    raut wajah itu mengapa melambai lagi

    apakah manusia hidup dari kenangan demi kenangan
    dan tak kunjung beranjak pergi

    bayangan itu
    menari-nari
    o, menari- nari

    Malang, 29 September 1997



    CAHAYA MATA 
    angin kemarau
    mendera tubuhku
    panas dan berdebu

    kala begini kurindu menatap wajahmu
    sebagai kesejukan menyiram kegundahanku

    wahai
    betapa bening telaga
    pada sepasang mata
    mencahaya

    Malang, 23 September 1997




    SESEORANG YANG HENDAK MELUKIS
    ada seraut wajah mencoba menyelinap ke dalam mimpiku sunyi,
    o, kegundahan seorang lelaki membaca tanda-tanda
    : siapakah yang telah merenggut hati?

    kemudian, angan beterbangan menari-nari menuju cakrawala
    ingin melukis serupa pelangi,
    atau bunga-bunga yang bermekaran
    atau ketakutan
    atau mimpi-mimpi

    (wahai, tangan yang gemetar, hati yang gemetar...
    hendak melukis apa?)

    mungkin hanya impian,
    sekedar harapan di ujung malam
    tak ada jawaban pasti!


    Malang, 09 Oktober 1997


    POTRET
    di mana
    kan dijejakkan kaki?

    orang sendiri membaca diri
    pada sunyi dipahatkan mimpi

    menggeleparlah ia pada sepi
    menuai kenangan-kenangan
    menusuk ke lubuk hati

    dalam puisi, sepertinya....
    hanya sunyi
    hanya sepi
    hanya mimpi
    terbubuh lewat jemari

    orang sendiri membaca diri
    tak henti-henti

    Malang, 23-09-1997


    TANYA
    dari senyuman tertebar
    adakah kegundahan?

    dari cerita hari-hari kegembiraan, tawa dan cinta
    adakah kesedihan dan rindu yang menikam?

    dari cuaca yang terbaca dengan pikiran bersahaja
    adakah mimpi-mimpi kita?

    tanya demi tanya mengalir,
    adakah jawaban?

    Malang, 29 September 1997



    OBROLAN DI WARUNG KOPI
    bergelas kopi berbatang rokok terhidang. sebagai tanda. kehangatan itu
    terjalin dari bualan tentang apa saja. (inginkah kau kenal diriku
    seperti kau kenal dirimu sendiri?)

    katamu: mari kita bicara. dari puntung berasap. kerumitan puisi. dan
    tentang teman-teman yang sukar dimengerti maunya

    (kataku: tidakkah kau tahu kitapun begitu. berlari sepanjang waktu
    menolak pemastian demi pemastian. mencoba mengelak dari pola rekayasa.
    mengeja diri tak henti-henti. menjadi rahasia tak henti-henti...)

    Malang, September 1996

    MENELPON SEORANG TEMAN
    halo! apa kabar? masih adakah yang tersisa dari percakapan kemarin sore.
    secarik kertas bergambar waru tertusuk anak panah. kau bidikkan
    sungguh-sungguh atau bercanda saja?

    katamu: "adakah yang sungguh-sungguh di sini?"

    Malang, September 1996




Sila ditengok juga: