Antologi Puisi Nanang Suryadi Terbaik Indonesia Update

KARENA DIKSI

sebagai petapeta yang dilukis menghamburkan jejak lama
dari riwayat sebuah ingatan

hingga waktu merapat ke titik nol

sampai dentingnya yang menggaung menjadi senyap lenyap
dalam sajak tak selesai

karena huruf membisu dalam rahim pertapaan

menumbuh tumbuh dalam diam dalam sunyi
memandang diri semakin asing

pada rambu rambu di jalanan pada buku buku dan kitab suci

layaknya puisi aneh yang ditulis dari arus deras mimpi
mengamuk tak tahu mau meloncatloncat tak tahu ingin menarinari tak tahu hendak

bolak balik kata berbolak balik menemu kembali kata yang sama mengulang ulang

baiklah siapkan saja pena deret leburkan kata bergumulah dalam frasa bersetubuhlah dalam kalimat baris dan bait sajak menelusur hingga mula, karena

jadi maka jadilah:

karena rona karena warna karena nuansa karena biru karena hitam karena jingga

karena waktu karena senja karena petang karena malam karena fajar karena detik karena jam karena hari karena minggu karena bulan karena musim karena tahun karena windu karena abad karena purba

karena moyang karena kanak

karena cakrawala karena angkasa karena lazuardi karena langit karena udara

karena bumi karena gunung karena tanah karena kerikil karena batu karena aspal karena debu

karena angin karena awan karena mendung karena matahari karena ufuk karena bulan karena bintang karena cahaya karena gerimis karena pelangi karena embun karena kabut karena bayang

karena air karena danau karena telaga karena alir karena sungai karena muara karena laut karena ombak karena gelombang karena arus karena ikan karena palung karena debur karena pantai karena pasir karena karang karena badai karena perahu karena layar karena kapal karena dermaga karena labuh

karena bening karena sepi karena sunyi karena lengang karena remang karena rembang

karena tangis karena airmata karena duka karena luka karena gundah karena resah karena gemetar karena gelisah karena cemas karena sedih karena marah karena dendam karena muak

karena tawa karena bahagia karena asa karena harap karena rahasia

karena deru karena gaung karena gema karena denting karena lengking karena dengking karena gemuruh karena derai karena bisik karena desah karena rintih

karena angan karena mimpi karena tualang karena kembara

karena api karena bara karena asap karena arang karena abu

karena pohon karena dahan karena ranting karena akar karena daun karena bunga karena putik karena mawar karena kamboja karena kelopak

karena rumput karena ilalang karena semak karena perdu

karena kupu karena burung karena camar karena merpati

karena anggur karena apel

karena tatap karena cakap

karena mata karena alis karena jemari karena wajah karena rambut karena dada karena jantung karena hati karena darah karena nadi

karena beranda karena kisi karena tingkap karena jendela

karena aku karena engkau karena dia karena kita

karena cinta karena rindu karena sayang karena birahi karena mabuk

karena abadi karena kekal

karena Kekasih

karena Mu

Depok, 1 Mei 2003


KODE URBAN SAAT JALAN MACET

bola-bola lampu dari tangan edisson menggelembungkan pikiran yang bersilangan antara kabel kabel listrik telepon televisi di gedung gedung bertingkat condomunium apartement hotel pubs discotique mall plaza café serta jalan jalan riuh ramai suara klakson di bundaran yang macet karena pawai pulang orang sehabis demonstrasi pukul 18.05 seperti tertera dalam handphone yang tak pernah dimatikan dan bipnya mengingatkan

agenda malam ini: berjumpa para relasi membicarakan proposal tender proyek membangun perkampungan kumuh dan pasar yang terbakar

antara deru mesin serta teriakkan kondektur bis sempritan tukang parkir gemuruh bajaj dan sepeda motor yang menyelip meraung naik hingga trotoar karena tak ada ruang kosong lagi di jalanan yang macet penuh suara-suara dan slogan seperti tertulis dalam spanduk billboard baliho memamerkan citra rasa selera ekslusif juga kemudahan

seperti juga junk food yang ditawarkan para fast food franchise: ingat anda tak perlu membayar cash asal credit card masih valid siap tersedia melayani anda juga di saat terjebak dalam kemacetan seperti ini tekan saja nomor costumer service akan segera dikirimkan sampai ke mobil anda box-box pizza, fried chicken, beef burger, spaghetti, atau apa saja yang anda inginkan jangan khawatir karena costumer satisfaction sangat diperhatikan

seperti juga ditawarkan neon sign: “body care centre yang memanjakan dengan mandi sauna lulur spa potongan lalu pijatan yang akan menyegarkan kembali rasa penat anda setelah seharian beraktivitas.”

(handphone bergetar dari earphone terdengar desah merdu di telinga: “……. pertemuan dengan bapak ditunda. tak jadi malam ini..…)

Mei, 2003



SINTAKSIS TEKA TEKI
bagi: scb

adakah kuda yang tak kuda adakah daku yang tak daku adakah duka yang tak duka tak kudakah kuda yang ada tak dakukah daku yang ada tak dukakah duka yang ada takkah kuda kuda yang ada takkah daku daku yang ada takkah duka duka yang ada kudakah kuda yang tak ada dakukah daku yang tak ada dukakah duka yang tak ada ada kudakah yang tak kuda ada dakukah yang tak daku ada dukakah yang tak duka yang tak kuda adakah kuda yang tak daku adakah daku yang tak duka adakah duka kuda adakah yang tak kuda daku adakah yang tak daku duka adakah yang tak duka kuda kudakah yang tak ada daku dakukah yang tak ada duka dukakah yang tak ada ada yang tak kudakah kuda ada yang tak dakukah daku ada yang tak dukakah duka

Depok, Mei 2003


SEPERTI TANGIS HAWA DI HARI PERTAMA
bagi: hasan aspahani

seperti tangis hawa di hari pertama adalah puisi yang sukar ditafsir adam. apa yang diinginkan perempuan, katamu bertanya. bukankah mereka telah dilarang untuk mendekati pohon itu. o apa yang diinginkan perempuan. tulang rusuk yang hilang apa yang sedang kau lakukan. mendendang suara seperti dengung. danau yang mengalir airnya. menderas. menderas. dan engkau menafsir apa arti tangis itu. seperti memakni puisi. karena tak kau tahu apa inginnya.

2 Mei 2003


DONGENG IKAN DI LAUT DALAM

seekor ikan dari palung terdalam di dasar laut yang tak pernah mengenal cahaya matahari yang mengerjap-ngerjap di permukaan di pucuk pucuk ombak adalah seekor ikan yang ribuan tahun ada di kedalaman dengan sisik tebal dengan mata buta dan dilahirkan seperti mamalia bukan menetas dari telur seperti burung-burung atau ikan-ikan lain yang berinsang karena memiliki paru-paru yang memompa udara dalam tubuhnya berputar-putar terus tak pernah habis dari tubuhnya kecuali suatu ketika ia akan mati seperti layaknya pertapa ia berdiam dalam gelap tak terkata hingga tubuhnya terselimut seperti karang diam tak bergerak menjaga kedalaman rahasia arus laut sebagai rahasia seperti puisi yang tak tahu hendak kau maknai karena tak pernah ada terlintas dalam benakmu ikan seperti itu ada di kedalaman sana

Mei, 2003


SEBUAH MANIFESTO DI BULAN MEI

sebuah manifesto di bulan mei mungkin akan menghentikan deru gemuruh ketika sebuah sekrup meloncat dari sebuah mesin karena kesadaran ingin menjadi manusia ingin jadi manusia sesungguhnya bukan sekedar sekrup bukan sekedar baut bukan sekedar ketel uap bukan sekedar roda bukan sekedar bagian dari mesin produksi yang tak punya hati

mungkin engkau akan menghentikan mulutmu mengunyah daging dan keringat darah pada burger yang kau santap

mungkin juga akan membuatmu merenung atau sekedar mengulang ritual berpawai di sepanjang jalan kota meneriakkan slogan dari ratusan tahun silam silam saat di bulan mei manifesto itu dibaca dan engkau adalah bagian dari hantu yang meresahkan di negeri-negeri utara

atau mungkin kau tak sempat mengingatnya karena kau adalah pengangguran yang tak pernah memiliki kesempatan untuk bekerja

Mei, 2003


EKSPERIMENTASI LIRIK

kabut menari sebagai bayang yang mencemaskan cuaca dan musim penghujan di saat rindu menjelma angin yang menderai mendesah ke arahmu irama purba nyanyian detik detik resah gelisahmu saat menunggu dalam bisik-bisik perdu ilalang pada daun rerumputan yang menerima embun dan gerimis dengan tulus sebagai reriap rambut yang menyerah pada bening hening percakapan menetes satu satu mengalir di lekuk pelupuk kelopak bunga mawar dan kamboja dalam warna-warna pelangi di dasar hatimu yang merahasia biru langit mimpi angan sesunyi danau selengang cakrawala lebih sepi dari batu yang diam tak isak tangis sedih menyimpan kembara dalam dada karena senja yang merapat ke malam menenggelamkan matahari dan menyemburatkan warna ungu jingga ke pucat bulan ke kerdip bintang sebagai gundah yang bikin gemetar karena lindap cahaya menyesatkan burung burung yang ingin pulang dan istirah seperti telah disesatkan tanya itu sebagai buah apel yang dimakan dengan penuh dendam mabuk birahi pada yang abadi karena pernah dicatat pada beranda yang menggaungkan tualang camar di antara buih gelombang dan badai yang hempas perahu kapal dengan ombak dan arusnya hingga suaramu adalah gema yang berdenting denting di antara lengking dan dengking mengetuk ngetuk jendela hatimu seperti dikabarkan jam jam yang mengumandangkan darah lewat nadi sebagai abad windu tahun bulan hari yang gemuruh menderu mematahkan ranting mencabut pohon dari akarnya menggugurkan putik dan buah hingga matamu menyimpan arang bara api yang segera menjadi abu harapmu demikianlah dikekalkan cintamu sebagai debu pada waktu

Mei, 2003


SAJAK YANG MENCAIR

sebuah sajak mencair seperti es krim yang lumer di terik matahari saat kau lumat dengan penuh nikmat dengan lidah menjulur julur hingga tetes terakhir dan kau tersenyum mencecap menyesap rasa manis yang tersisa di bibir dan lidahmu seperti manisnya kata-kata yang menyatakan cinta dan rindu demikian liris demikian lirih mendesah mencair dalam terik panas matahari dalam diri yang lidahnya menjilat-jilat tubuhmu penuh gairah mencecap menyesap seluruh kenangan dari dalam benak yang menyimpan lintasan-lintasan peristiwa sebagai sajak yang mencair dan mengalir di alir sungai tubuhmu di nadi nadi darahmu ke muara hingga sampai di laut perjumpaan yang penuh ombak angin melayarkan kapal perahu sebagai kenangan kenangan menemu pelabuhan dermaga di mana disauhkan kesunyian dilabuhkan kesepian pada keriuhan pekik sibuk gemuruh waktu namun tak diduga rahasia arus yang memusar pada kedalaman palung dan patahan di dasar retakan yang mengguncang sebagai gempa menggoyang goyang diri hingga terasa terbang gamang mabuk dalam badai yang merobek layar mematahkan tiang hingga terlunta dirimu terlunta lunta diamuk gelombang hingga entah hingga bila sampai karam diri ke dasar lautan sajak yang mencair dicecap sesap bibir dan lidahnya hingga tetes terakhir

Mei, 2003


AKU DATANG JUGA, CHRIL

aku datang juga, chril. saat malam akan segera larut. namun pesta sudah usai. tinggal tersisa kursi, panggung kawat duri, lampu mati dan sampah berserak, lelambai spanduk. aku datang, menembus malam. menjadi penyair yang menanggungkan rindu pada ketidaksetiaan kata-kata.

aku datang juga, chril. tapi pesta telah habis. udara malam sepanjang jalan selatan jakarta telah habis kuhirup. depok-lentengagung-pasarminggu-pancoran-tebet-manggarai-cikini. aku menembus malam. aku menembus malam.

aku datang juga, chril. tapi acara pesta sudah dituntaskan. tinggal panggung berkawat duri, tinggal sumbu berasap dalam botol, tinggal sampah berserak, tinggal spanduk yang melambai-lambai. tersisa dari sebuah pesta. mengingat hari sekaratmu. meregang nyawa. dalam demam yang meninggi. jassin bilang, kau panggil-panggil: tuhan, tuhan…

aku datang juga, chril. memasuki gedong juang 45. mencari jejak-jejak ingatan yang mungkin tersisa dari menteng 31. malam ini, ruang depan serasa milikmu sendiri, cuma. tak berbagi. foto-foto ---engkau dengan rokok, engkau dengan “gajah”---, sebingkai besar sajak, lukisan, goresan tangan tanganmu, goresan tangan jassin, arsip berita berserak di lantai, buku-buku. aku memasuki lagi waktu lalu. memasuki hari-hari dikutukserapahi eros. menjadi penyair yang menembus malam. menjadi pejalan malam.

aku datang juga, chril. melintasi meja kerja bung hatta, melintasi panji-panji tentara pelajar, melintasi foto-foto bung karno, melintasi foto panglima besar sudirman, melintasi peta-peta pertempuran, melintasi lelaki mabuk, melintasi orang tertidur, melintasi orang berperlukan di dingin malam, melintasi diskusi orang ingin jadi presiden, melintasi malam dengan percakapan sana-sini. irmansyah kawanku bicara: “anastasia, cucu chairil, sudah menikah, punya anak satu dan evawani sering menggendongnya.”

aku datang juga, chril. melintasi malam. menembus malam. menembus dini hari….

26 April 2003 – 3 Mei 2003



SENJA DAN GERIMIS

ada yang ingin menulis puisi. tapi bukan tentang gerimis dan senja. karena gerimis mengingatkannya pada airmata. dan senja sebagai bayang kematian. dan ia tak ingin menjadi sentimentil dan redup memandang hidup. mengapa para penyair menyukai kesedihan? katanya suatu ketika. entah bertanya pada dirinya sendiri. entah memeta pada perjalanan panjang riwayat kata-kata. hidup demikian indah. demikian meriah. mengapa penyair menulis tentang kegelapan. dunia yang asing dan papa. tak henti ia bertanya. dan tak sebaris kata dituliskannya. karena ia tak mau gerimis dan senja tiba-tiba muncul dalam sajaknya. muncul dari mimpinya. muncul dari alam bawah sadarnya. gerimis yang mengingatkannya pada airmata. guguran daun. dan senja yang mendebarkan dadanya saat malam merenggut cahaya siang. tapi ia tak ingin dianggap cengeng. satu kata mulai ditulis: hidup. tapi dihapusnya kembali. ditulisnya lagi: harap. tapi dihapusnya lagi: semangat. dihapusnya lagi. ah, ia pun menyerah. lalu ditulisnya: gerimis airmata senja kematian……

Mei, 2003




Post a Comment

Google+ Followers

Kata Kunci

Syair76 Puisi Cinta61 Kumpulan puisi cinta60 Sajak Cinta53 Kumpulan Puisi Terbaik50 Puiai50 Kumpulan Puisi Nanang Suryadi26 Ruang Puisi25 Esai Sastra19 Artikel Sastra16 Cinta10 blog puisi10 kumpulan puisi religius9 Sajak anak8 Buku Kumpulan Puisi7 Buku Puisi7 Cerita7 Dongeng7 Rindu6 Video Baca Puisi6 buku6 puisi religi6 religius6 Cinta Tuhan5 Kritik Sosial5 blog5 indonesia5 puisi kenangan5 religi5 sosial5 antologi puisi cinta4 kenangan4 ketuhanan4 kumpulan puisi kenangan4 kumpulan puisi sunyi4 masyarakat4 puisi malam4 puisi sosial4 Blog Sastra3 Blog Sastra Indonesia3 Kumpulan Sajak Cinta3 Puisi Cinta Kita3 kritik3 kumpulan puisi merindu3 puisi kangen3 puisi kehidupan3 puisi kesepian3 puisi penantian3 puisi perjalanan cinta3 puisi rindu3 Portal Sastra2 Portal Sastra Indonesia2 Puisi Contoh2 alam2 budaya2 kepribadian2 keywords2 pamflet2 politik2 psikologi2 puisi cinta romantis2 puisi perjalanan hidup2 puisi persahabatan2 puisi protes2 Bagus Sekali1 Belajar Menulis Puisi1 Bengkel Puisi1 Chairil Anwar1 Cinta anak1 Cinta istri1 Cointoh Puisi1 Contoh Puisi Bagus1 Diam1 Ebook Puisi1 Enak1 Hasan Aspahani1 Jakarta1 Jaringan Sastra1 Kekasih1 Keluarga1 Keren1 Kota1 Kumpulan Puisi Untuk Sahabat1 Makanan1 Pasaridea1 Patah Hati1 Puis Sahabat1 Puisi Bagus1 Puisi Chairil Anwar1 Puisi Dunia Malam1 Puisi Jakarta1 Puisi Konsumen1 Puisi Kota1 Puisi Lawas1 Puisi Sepi1 Puisi Sunyi Malam1 Puisi Terbaik1 Puisi Terkini1 Puisi Untuk Kekasih1 Puisi kontemporer1 Puisi mutakhir1 Puisi tentang cinta1 Sahabat Kota1 Sahabat Puisi1 Sajak Nanang Suryadi1 Sangat Bagus1 Sejuta Puisi1 Senja di pelabuhan kecil1 Sri Ajati1 Syair Cinta1 Syair Malam1 Terbaik1 Terhebat1 Yusri Fajar1 bangsa1 cybersastra1 doa keselamatan1 emosi1 galau1 generasi muda1 goenawan mohamad1 google plus1 harapan1 ingatan1 kahlil giran1 kesunyian1 kwatrin1 langit1 malam1 manusia1 negara1 orkestra ananda sukarlan1 pedih1 pesan puisi1 polemik1 puis1 puisi 20121 puisi 20131 puisi akhir tahun1 puisi baru dan lama1 puisi berisi cinta1 puisi berjudul cinta1 puisi bertema cinta1 puisi diam-diam1 puisi fisika1 puisi kematian1 puisi kimia1 puisi langit biru1 puisi matematika1 puisi negeri1 puisi pajak1 puisi pemberontakan1 puisi perjuangan1 puisi personifikasi1 puisi sains1 puisi science1 puisi sunyi1 puisi tahun baru1 puisi untuk sahabat baik1 reformasi1 reformasi 19981 romantis1 sahabat1 sajak kota pontianak1 sajak negeri1 sajak pajak1 sajak psikologi1 sajak tentang sajak1 sedih1 sejarah1 skizo1 sunyi1 surabaya1 tema puisi1 tema sajak1 tentang puisi1 topik tentang1 ub1 wisata alam1
Show more
  • Sajak-sajak yang hendak dibaca lagi - Mari kita baca lagi sajak-sajak ini, dari penyaircyber Nanang Suryadi. Mari kita baca lagi: 1. AKU MENYAPAMU DI LINTASAN WAKTU 2. Aku Adalah Airmata...
    1 week ago
  • ハングナディム市 - あなたの街を訪問、距離の赤い土の土地は、丘の家の登場、私は都市がみ探る あなたの街で、朝はとても静かだった。朝は、太陽を待っている。それは朝の光にポップアップ表示されます。太陽の東。太陽 TIK TIK TIK重要で、あなたの街で亜鉛を滴下このストライド、内気な雨を、雨 雨が鈍化する、いつも誘う雨は空のまま...
    6 years ago
  • Um den Leser von Lyrik - Ich möchte euch mit Worten, die nicht so leicht vergessen werden begrüßen, sind die Worte von den Fingern der Zeit zur Ewigkeit gesammelt Ich lehnte mich g...
    6 years ago
  • En cuanto a la oscuridad la lluvia - Me siento aquí. mirando el crepúsculo lluvioso. no se. sólo el viento y el deslizamientoresidual en la penumbra light.you dónde? como una pluma, quiero esc...
    6 years ago
  • La ville de Hang Nadim - visiter votre ville, le terrain de terre rouge au loin, la colline apparut la maison, essayezIexplore la ville dans votre ville, la matinée a été très calm...
    6 years ago