Sajak Liris dan Lingkar Bayang Struktural Sejarah

Judul buku : Telah Dialamatkan Padamu, Sepilihan Sajak Nanang Suryadi
Penulis : Nanang Suryadi
Penerbit : Dewata Publishing
Cetakan : I, 2002
Tebal : 111 halaman.


Membaca karya seorang penyair tidak hanya perjuangan menembus rimba kata yang penuh dengan sulur simbol dan metafora, tapi juga menelusuri riwayat perjalanan seorang penyair dengan referensinya. Referensi wacana lisan dan tulisan yang tentu saja juga dipengaruhi oleh pengalaman empiris pribadi dari si penyair.
Nanang Suryadi, juga salah satu penyair yang muncul saat ini, tak luput dari persoalan referensi semacam itu. Strukturalisme sejarah kepenyairan suatu bangsa, negara, dan dunia tak akan berhenti, selalu ada garis-garis yang menghubungkan.
Gerbang perpuisian yang telah dibuka secara konsep oleh seorang Amir Hamzah bersama Pujangga Baru-nya dari pusaran kesusastraan Melayu, Chairil Anwar yang mendobrak tradisi dan mengadopsi puisi barat, Rendra yang melaju pada realitas sosial, Tardji yang mengolah kesadaran lama tentang mantra hingga gaya pecahan kata dengan konsep Posmo dari seorang Afrizal Malna. Ah, uniknya pernik perjuangan kepenyairan di Indonesia.
Karena itu, wajar saja, di tengah puluhan para penyair simbolik kebangsaan–belum lagi dihitung dengan keberadaan penyair dunia Octavio Paz dan Pablo Neruda–para penyair saat ini tak hanya berpuisi, tapi juga ditanyakan kebaruan konsep-konsepnya. ”Puisi-puisimu pasti bagus Nang. Tinggal mencari yang baru dalam sejarah sebuah karya,” ujar Maman S. Mahayana, seorang dosen dan pengamat sastra.
Tapi benarkah itu? Apakah penyair saat ini tak punya diksi dan konsep yang baru? Mengutip kalimat Maman, puisi Nanang jelas berkualitas. Hanya, bayang-bayang masa lalu seorang Sapardi Joko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, barangkali juga Goenawan Mohamad atau Subagyo Sastrowardoyo masih menghantui.
Hanya sekarang yang jadi pertanyaan, sungguhkah publik telah meneliti karya para penyair saat ini. Nanang Suryadi hanyalah salah satu di antara mereka (tak perlu disebut karena begitu banyak saat ini).
Namun sudah seharusnya para pengamat dan pengkritik sastra memperhatian mereka secara cermat. Ataukah semua bayang-bayang itu telah sedemikian kukuhnya dalam jagat puisi Indonesia sehingga tak ada lagi celah untuk sebuah pembelaan pada kekukuhan tonggak puisi baru?
Termasuk buat seorang Nanang Suryadi yang jelas berbeda juga diksinya, penyataan ini hanya bisa dilontarkan oleh seorang pengamat puisi yang lama memperhatikan karya seorang penyair.
Nanang juga punya keunikan. Tinggal sekarang, pembelaannya adalah, hutan rimba kata apakah yang telah ditanamkan dan ditumbuh suburkan oleh seorang Nanang Suryadi dalam bukunya Telah Dialamatkan Padamu
Seperti pendapat penyair dan redaksi Ahmadun Yosi Herfanda tentang religiositas karya Nanang, ada celah lainnya yang kerap dimuntahkan penyair ini pada lirik-lirik baitnya. Kata-kata yang kesepian, namun senantiasa mengalir jernih untuk bersuara tentang cinta. Tak ada benturan yang membabi-buta, lihat saja pada sajaknya ini:
Sebagai cakrawala harapku, lengkung alis matamu/Binar mata, berkas bintang-bintang mencahaya, demikian rindu. (Yang Menyimpan Rindu, 13)
Juga pada larik puisi ini:
Bunga ditanganmu berapa warna, dirangkai sebagai kenang, kepada siapa keharuman disampaikan, ah engkaulah bunga, merangkai hidupmu sendiri, merah putih ungu hitam, engkaulah kenang itu (pada sajak Seorang Yang Merangkai Bunga, 39).
Adakah kesepian yang begitu tabah, menahan-nahan rindu sendiri untuk “hanya” dialirkan dalam bahasa yang sabar dan indah. Diksi yang tak merusak kebeningan air telaga kata. Tak perlu ada kalimat “mampuslah aku dalam kesepian”, Nanang berhasil mengemas kesunyian dan rasa ngelangutnya dalam keindahan.
Inilah perbedaannya. Nanang bukan seorang penyair yang di antara penyair sebelum, yang digandoli berbagai teori macam-macam tentang filsafat dan kesusastraan. Hitungan dalam rasa dan pikirannya hanyalah kalimat yang indah tentang puisi, termasuk cara pengucapan, patahan kalimat hingga keindahan kata.
Diperlukan suatu alasan, saat dia mencoba melihat dunia lain dari kacamata rasa dan pikirannya. Dengan cermat, nyatanya dia tetap mempertahankan kepiawaiannya berhitung bunyi dan ephoni. Tetap dengan tradisi seorang Nanang Suryadi:
Tapi bukan kelinci ajaib yang melompat ke lobang hitam atau topi/sulapan, dimana engkau dengan matnra: izukalizu tahi tahu tahi tahu/lonte bau di ubun ubun kluk!
Tapi nanti dulu, Nanang memang penyair yang suka iseng sendiri, mengutak-atik kekhasan diksi puisi penyair lain, untuk sengaja menyapa penyair lain. Bukan cuma Tardji–kalau puisi tadi dibilang bergaya Tardji–siapa saja penyair karibnya yang tak diisenginya dengan “meminjam” (bukan merebut) diksi dan metafora para penyair itu.
Tentu saja dia telah membubuhkan nama penyair itu. Bisa jadi, justru itulah gayanya. Dalam karyanya, dia mau berlelah lelah memperhatikan setiap simbol, diksi hingga rima atau loncatan bunyi.
Kembali pada suasana puitiknya, karya-karyanya rata-rata berisi cinta kesepian dari sesuatu yang masih jauh. Bisa rindu pada Tuhan, kepada ibu, atau kepada pasangan kodrati: seorang perempuan yang dicintai. Semua dihadapi dengan bijaksana, tak ada kalimat yang pecah, kesemuanya tetap terjaga.
Demikianlah, betapa dia mencoba berarif-arif ria dalam menghadapi tentang harga sebuah kesepian. Pada kata, semua rindunya di alamatkan. Lihat saja pada sepi yang menggigit di puisinya yang berjudul Jam Yang Menyerpih (hal.36) ini:
Sebagai harap yang pecah berderai, jarum jam menyerpih, luruh dari jemarimu, mungkin kan diingat lagi, sebuah ilusi, impian yang berloncatan, dari matamu.
(SH/sihar ramses simatupang)

sumber: Sinar Harapan


Post a Comment

Google+ Followers

Kata Kunci

Syair76 Puisi Cinta63 Kumpulan puisi cinta60 Sajak Cinta54 Kumpulan Puisi Terbaik50 Puiai50 Kumpulan Puisi Nanang Suryadi26 Ruang Puisi25 Esai Sastra19 Artikel Sastra16 Cinta10 blog puisi10 kumpulan puisi religius9 puisi religi9 Sajak anak8 puisi sosial8 Buku Kumpulan Puisi7 Buku Puisi7 Cerita7 Dongeng7 Kritik Sosial7 Rindu6 Video Baca Puisi6 buku6 puisi kenangan6 religius6 Cinta Tuhan5 blog5 indonesia5 kumpulan puisi kenangan5 puisi protes5 religi5 sosial5 Puisi Cinta Kita4 antologi puisi cinta4 kenangan4 ketuhanan4 kumpulan puisi sunyi4 masyarakat4 politik4 puisi malam4 Blog Sastra3 Blog Sastra Indonesia3 Kumpulan Sajak Cinta3 kritik3 kumpulan puisi merindu3 puisi kangen3 puisi kehidupan3 puisi kesepian3 puisi penantian3 puisi perjalanan cinta3 puisi rindu3 Portal Sastra2 Portal Sastra Indonesia2 Puisi Contoh2 Puisi Kota2 Sahabat Kota2 alam2 budaya2 kepribadian2 keywords2 pamflet2 psikologi2 puisi cinta romantis2 puisi perjalanan hidup2 puisi persahabatan2 puisi sunyi2 puisi untuk sahabat baik2 sajak negeri2 sajak tentang sajak2 Bagus Sekali1 Belajar Menulis Puisi1 Bengkel Puisi1 Chairil Anwar1 Cinta anak1 Cinta istri1 Cointoh Puisi1 Contoh Puisi Bagus1 Diam1 Ebook Puisi1 Enak1 Hasan Aspahani1 Jakarta1 Jaringan Sastra1 Kekasih1 Keluarga1 Keren1 Kota1 Kumpulan Puisi Untuk Sahabat1 Makanan1 Pasaridea1 Patah Hati1 Puis Sahabat1 Puisi Bagus1 Puisi Chairil Anwar1 Puisi Dunia Malam1 Puisi Jakarta1 Puisi Konsumen1 Puisi Lawas1 Puisi Sepi1 Puisi Sunyi Malam1 Puisi Terbaik1 Puisi Terkini1 Puisi Untuk Kekasih1 Puisi kontemporer1 Puisi mutakhir1 Puisi tentang cinta1 Sahabat Puisi1 Sajak Nanang Suryadi1 Sangat Bagus1 Sejuta Puisi1 Senja di pelabuhan kecil1 Sri Ajati1 Syair Cinta1 Syair Malam1 Terbaik1 Terhebat1 Yusri Fajar1 bangsa1 bogor1 cybersastra1 doa keselamatan1 emosi1 galau1 generasi muda1 goenawan mohamad1 google plus1 harapan1 ingatan1 kahlil giran1 kedamaian1 kesunyian1 kwatrin1 langit1 malam1 manusia1 negara1 orkestra ananda sukarlan1 pedih1 perdamaian1 pesan puisi1 polemik1 puis1 puisi 20121 puisi 20131 puisi akhir tahun1 puisi baru dan lama1 puisi berisi cinta1 puisi berjudul cinta1 puisi bertema cinta1 puisi diam-diam1 puisi fisika1 puisi kedamaian1 puisi kematian1 puisi kimia1 puisi langit biru1 puisi matematika1 puisi negeri1 puisi pajak1 puisi pemberontakan1 puisi perdamaian1 puisi perjuangan1 puisi personifikasi1 puisi sains1 puisi science1 puisi tahun baru1 puisi untuk kawan1 reformasi1 reformasi 19981 romantis1 sahabat1 sajak hujan1 sajak kota pontianak1 sajak pajak1 sajak psikologi1 sedih1 sejarah1 skizo1 sunyi1 surabaya1 tema puisi1 tema sajak1 tentang puisi1 topik tentang1 ub1 wisata alam1
Show more
  • Sajak-sajak yang hendak dibaca lagi - Mari kita baca lagi sajak-sajak ini, dari penyaircyber Nanang Suryadi. Mari kita baca lagi: 1. AKU MENYAPAMU DI LINTASAN WAKTU 2. Aku Adalah Airmata...
    2 months ago
  • ハングナディム市 - あなたの街を訪問、距離の赤い土の土地は、丘の家の登場、私は都市がみ探る あなたの街で、朝はとても静かだった。朝は、太陽を待っている。それは朝の光にポップアップ表示されます。太陽の東。太陽 TIK TIK TIK重要で、あなたの街で亜鉛を滴下このストライド、内気な雨を、雨 雨が鈍化する、いつも誘う雨は空のまま...
    6 years ago
  • Um den Leser von Lyrik - Ich möchte euch mit Worten, die nicht so leicht vergessen werden begrüßen, sind die Worte von den Fingern der Zeit zur Ewigkeit gesammelt Ich lehnte mich g...
    6 years ago
  • En cuanto a la oscuridad la lluvia - Me siento aquí. mirando el crepúsculo lluvioso. no se. sólo el viento y el deslizamientoresidual en la penumbra light.you dónde? como una pluma, quiero esc...
    6 years ago
  • La ville de Hang Nadim - visiter votre ville, le terrain de terre rouge au loin, la colline apparut la maison, essayezIexplore la ville dans votre ville, la matinée a été très calm...
    6 years ago