3/16/2013

RUMAH PUISI DUNIA MAYA

- dengan Blog siapa pun bisa menjadi sastrawan

Oleh : Qaris Tajudin(Koran Tempo, Ruang Baca, Februari 2007)

"Every writer mus have an address," kata Cythia Ozick. Setiap penulis memiliki 'rumah'. Dan di dunia maya, para penulis mendapatkan pada blog. Berbeda dengan mailing list yang menjadi tempat mereka berbagi dan berdiskusi, blog adalah sesuatu yang lebih personal. Orang boleh singgah, tapi mereka adalah tamu. Pengunjung boleh ada, tapi kehadiran mereka bukan inti keberadaannya. Blog adalah eksistensi pemiliknya. Popularitas blog yang meroket sejak pergantian milenium ini memunculkan demokratisasi (untuk yang kesekian kalinya) di ranah maya. Tanpa duit dan prosedur berbelit, setiap orang bisa memiliki tempat di internet. Ini mengundang banyak orang untuk mematok kapling di dunia maya. Tak perlu diisi dengan hal-hal serius, toh kita bisa mendapatkannya dengan amat mudah. Lebih mudah dari menulis di buku diari.Para blogger menumpahkan muntah mantihnya di sana. Termasuk puisi. Kalau saja W.S. Rendra lebih muda beberapa puluh tahun, ia pasti tak menulis kumpulan puisi Sajak-sajak Sepatu Tua di buku pola baju. Ia, seperti juga para sastrawan muda masa kini, pasti akan menumpahkannya di sebuah blog warna-warni.Untuk Indonesia saja, kita bisa menemui ribuan blog sastra - kalau kita setuju memakai istilah itu.

Memang, banyak juga yang puisi-puisinya seperti puisi remaja yang baru jerawatan, seperti puisi-puisi yang selama ini banyak ditulis di diari warna jambon. Tapi ada juga yang menampilkan curahan isi hati dengan lebih baik.Coba jenguk karena berbagi cinta itu indah (suratcinta.blogspot.com). Menurut pemiliknya, blog ini adalah, "Album surat-surat cinta kepada kekasih, keluarga, siapa saja yang tercinta. Surat-surat di album ini dikoleksi dari beberapa milis, kamar chatting, maupun e-mail pribadi."Karena surat, tidak mesti dibuat dalam bentuk bait-bait puisi yang pendek, seperti dalam Surat Buat Bunda:
kadang hari jadi demikian melelahkan,ibunda, ruang menujumu tiba-tiba saja terasa luas dan jauhingin nanda ceritakan tentang sayap-sayap yang tak henti belajar terbangmencari setiap celah untuk memperpendek jarak mempersempir ruang

Yang jelas, blog amat menguntungkan para sastrawan amatir. Amatir ? Anda boleh tak setuju, tapi blog-blog "sastra" memang didominasi oleh para sastrawan amatir. Maksudnya, mereka yang hanya menulis puisi untuk blognya. Yang hanya ingin mengungkapkan apa yang bergemuruh di dalam hatinya dan berkecamuk di dalam kepalanya. Yang belum tentu ingin menerbitkan buku puisi, apalagi disebut sastrawan. Tapi bukan berarti puisi yang mereka buat amatiran.Misalnya saat Nanang Suryadi (nanangsuryadi.blogspot.com) yang menulis puisi tentang anaknya :
ayah tak bisa menggambar bunga,atta saja, pasti bisa
atta menggambar bunga,anggrek yang bunda siram, sudah berbunga
bunganya kuning, merah,ada bintik-bintik hitam juga
atta menggambar bunga,di lantai dan tembok rumah
....
Memang, para sastrawan blog ini banyak juga yang tergabung dalam milis-milis sastra, atau setidaknya, mereka mengirimkan puisi ke situs-situs sastra seperti Cybersastra (cybersastra.net). Tapi blog adalah rumah mereka. Di blog mereka memiliki kekuasaan untuk berkreasi.Bedanya dengan milis sastra yang karya-karya yang dikirim adalah yang terbaik, dalam blog orang bebas menggunakan bahasanya sendiri. Ada yang nyaman menulis puisi dalam bahasa Inggris, ada yang lebih senang memakai bahasa cakap sehari-hari, ada juga yang menyingkat penulisan kata seperti dalam pesan pendek.Bagi mereka, sajak bukan cuma tentang gemintang dan danau di ketiak gunung. Mereka yang hanya ingin mengungkapkan apa yang mereka rasakan lewat puisi, bisa juga bicara soal koran kota yang penuh liputan kriminal atau tentang televisi seperti di Sejuta Puisi (sejutapuisi.blogspot.com) milik Hasan Aspahani :
Nonton TV hari ini
sembilan stasiun televisiacaranya sama: kartun Tom & Jerry

Tapi tentu saja, blog juga untuk mereka yang serius nyastra seperti Zai Lawanglangit (Kutulis Puisi: zaylawanglangit.blogspot.com) atau Zabidi Ibnoe Say yang puisinya diterbitkan dalam sejumlah buku seperti Bisikan Kata, Teriakan Kota (DKJ & Bentang Budaya, 2003), Dian Sastro for President#2:Reloaded (AKY-Bentang, 2003), Buku Antologi Puisi Maha Duka Aceh (PDS HB Jassin, 2005) dan Cyberpunk "Les Cyberlettres" (YMS, 2005). Hal yang sama juga dilakukan oleh Arwan di arwan.blogspot.comAda juga tidak cuma menulis puisi, tapi juga memberi review soal blog-blog sastra lain yang pernah ia kunjungi. Ini dilakukan oleh Malina Sofia dalam Folder Malina (malinasofia.blogspot.com). Ia, misalnya, menulis tentang blog Hasan Aspahani, Ninus (ritualmalam.blogspot.com), atau Medy Loekito. Begini ia bilang tentang Medy: "Medy Loekito [ML], penyair yang menjadi ibu bagi komunitas penyair cyber ini memiliki warna puisi yang unik, yang berbeda dari warna puisi penyair-penyair lain. Saya menuduh penyair ML adalah pemuja kesunyian dan kesunyian pulalah yang menjadi jiwa puisi-puisinya: 'engkaulah sepi/wujud maya kata//engkaulah kata/wujud nyata sepi' (Puisi, Engkaukah)."Tapi kenapa puisi ? Kenapa sebagian besar blog yang memuat karya sastra hanya berisi puisi ? Ke mana cerita pendek atau panjang ? Ke mana bentuk-bentuk sastra lainnya ? Ada sih, tapi tak banyak. Lalu kenapa ? Tak perlu bingung. Ini semua disebabkan oleh karakter blog yang seperti buku harian, seperti kantong muntah yang tersedia di belakang setiap kursi pesawat. Ia menampung gejolak yang ingin dikeluarkan dari diri pemiliknya. Lintasan-lintasan sesaat yang memang hanya cocok ditumpahkan dalam bentuk puisi.Karenanya, isi dan kualitasnya bisa macam-macam. Tapi jangan sesekali membaca blog sastra dengan pikiran seorang kritikus sastra yang bernafsu besar. Puisi dan blog itu tidak dibuat untuk dinilai. Mereka hadir untuk berbagi.
Post a Comment

Seminggu Terakhir

Yang disukai Sepanjang Waktu

Sebulan Terakhir