1/11/2012

Kumpulan Puisi Protes Sosial: Surat Untuk Ibu Pertiwi

Sajak-sajak NanaNg SuRyaDi
SURAT UNTUK IBU PERTIWI



STOP PRESS, 1998

"untuk hidup mengapa begitu rumitnya?"
televisi menyala:
rupiah terpuruk jatuh
harga membumbung tinggi
banyak orang hilang tak tentu rimbanya

12 Mei 1998
mahasiswa mati tertembak siapa?

13-14 Mei 1998
kota-kota terbakar kerusuhan
perkosaan, teror!

21 Mei 1998: "sang raja lengser keprabon"
graffiti menyala di tembok-tembok: "pendukung reformasi"
eksodus: "singapura-hongkong-china-taiwan!"
munaslub: "turunkan para pengkhianat!"
ninja beraksi, orang berlari, maubere: "referendum!"
"mengapa hidup begitu rumitnya?"
seorang ayah bunuh diri bersama empat anaknya

1998, belum usai...
(hari ini ada berita apa lagi?)

Malang, 1998 


DERING TELPON DARI MANA ASALNYA

dering telpon dari mana asalnya, berdering-dering saja, kabarkan apa,
apakah berita yang sama seperti kemarin, tentang sebuah negara berkembang, negara dunia ketiga?

hai, kau jangan memaki di situ, nanti telingaku pekak karena umpatanmu
kau kirim kabar apalagi kali ini? aduh, jangan lagi kau cerita tentang korupsi,
kolusi, tirani atau apa saja berita basi, aku tak mau dengar lagi...
kau mau demonstrasi?
silakan kalau berani!

cilegon 1996, malang 1997



SURAT UNTUK IBU PERTIWI (1)

ibu, salam sayang selalu dari anak-anakmu, yang merindukan dongeng terlantun
dari bibirmu penuh cinta. seperti dulu, kau tembangkan syair lagu kepahlawanan.
bikin daku hendak jadi ksatria.

jika angin malam tiba, rambutmu yang keperakan meneri-nari, seperti juga daun
nyiur di depan rumah kita itu. 
ibu, anak-anak yang kau cintai berkumpul di sini, membacakan syair, menyanyikan lagu: kami jadi pandumu...
ah, indah sekali, ketika kami ingat senyummu, tebarkan kerinduan kenangan kanak dulu.

ibu, anak-anakmu kini tetap nakal dan lucu, seperti dulu, anak-anak yang sayang
padamu, dan kadang juga tak mematuhi nasehatmu.
tapi, air mata itu, mengapa menetes ibu? meleleh di kedua belah pipi. mengapa
ibu? adakah kau marah pada kami, anak-anakmu yang kian nakal saja, tak
menggubris petuahmu. 
ujarmu:"hormatilah orang tua, lindungi dan sayangilah saudara-saudaramu. berbuatlah adil dan jujur. jangan tamak dan serakah terhadap hak orang lain..." ya, nasehat yang masih kuingat benar hingga kini, dan anak-anakmu yang lain mungkin masih mengigatnya juga, ibu.

di tengah derum pembangunan, anak-anakmu yang perkasa bertebaran. menjelajahi tempat-tempat yang kau dongengkan. tempat peri baik hati. tempat
pahlawan-pahlawan dilahirkan dan dibesarkan. tempat binatang-binatang
bercakapan. 
di sana, dengan doa darimu, kami buka hutan perawan, mengolah tanah, menyemaikan benih dan memetik hasilnya ketika panen tiba. kami gali tambang emas permata. kami ungkap segala rahasia semesta. ya, inilah yang kami lakukan untuk pembangunan, seperti yang diucapkan pemimpin, anak-anakmu juga ibu. begitulah ibu, anak-anakmu berjuang untuk hidup...
dan tangismu itu ibu, sepertinya aku tahu mengapa? memang akupun turut merasakan apa yang sebenarnya engkau rasakan. ya, betapa kasihmu tak terperikan. kau akan menangis, melihat anak-anak yang kau cintai, bernasib malang, tergusur dari tanahnya sendiri. rasanya aku dengar teriakanmu begitu histeris, melihat anak-anakmu tenggelam dalam lautan darah dan airmata...
ya, ibu, aku rasakan itu kau menangis melihat saudara-saudaraku berbuat kejam terhadap kami, anak-anakmu yang yang malang. anak-anakmu yang begitu lemah, menghadapi kekuasaan yang begitu menakutkan!

dan tangis itu, sepertinya, bicara begitu...

malang, 21 maret 1995



SURAT UNTUK IBU PERTIWI (2)

jangan menangis ibu, kan kami rayakan ulangtahunmu kali ini, entah yang ke berapa, aku lupa. dengan mengingat senyummu dan dongeng kepahlawanan.
jangan khawatirkan nasib kami, bukankah peruntungan tiap orang tak sama, ibu?
jika kami menggusur rumah saudara kami sendiri, itu bukan berarti kami tak sayang kepada mereka. kami telah beri mereka kesempatan untuk menjelajahi hutan, tempat peri baik hati, seperti ceritamu dulu. dan kami beri mereka ganti rugi secukupnya, seratus dua ratus rupiah untuk semeter persegi tanah yang harus mereka tinggalkan. bukankah itu cukup adil, ibu?
kami pinggirkan mereka ke tepi hutan. bukankah itu lebih baik, karena dengan
begitu, mereka akan hidup damai di sana. jauh dari kegaduhan yang kini sering
mengganggu kami.
ya, anak-anakmu yang lain, tetap saja nakal, ibu. mereka telah menjadi pengacau! namun tenang sajalah, ibu, kami telah tangkapi mereka, yang
selalu menghasut, membuat kejahatan, membuat keonaran, membuat semuanya menjadi buruk. biarpun mereka saudara kami sendiri. bukankah hukum harus selalu ditegakkan, ibu?
dan mungkin kau sering mendengar tentang hal ini, tetangga-tetangga yang selalu
mengoceh tentang hak asasi manusia, demokratisasi, ketidakadilan, dan masih
banyak lagi. ya, rasanya itu akan membuatmu terganggu, ibu. aku pun merasa begitu.kadang aku bertanya: mengapa mereka berbuat seperti itu, seperti kurang kerjaan saja. dan engkau mungkin setuju pada pendapatku tentang hal itu. mengapa mereka selalu ribut, ketika saudara kami sendiri kami beri pelajaran, agar mereka tak keliru.
jelas bukan? demi keamananmu, demi senyummu yang dulu. kami harus tega menghukum mereka, orang-orang itu (mungkin saudara kami sendiri) yang akan merusak namamu...
baiklah ibu, sebenarnya ada yang lebih penting dari itu semua:
mmmm, bolehkah kugadaikan negeri ini ke pasar dunia?
malang, 21 maret 1995

DIALOG KEBINGUNGAN

banten, 8 Juli 2045
(serupa bayang-bayang, mungkin dari masa lalu, aku merasa hadir. serasa
mimpi. semcam de javu....................................
...........................................................................
...........................................................................
...........................................................................
...........................................................................
bacalah catatan ini, mungkin tulisan kakekku):
malang, 30 Oktober 1995
kuguratkan pena pada lembar buku sejarah bangsa ini, berjuta rasa kekaguman,
kegundahan, serta pertanyaan tak berjawab.
"kau masih perlu belajar banyak dari kehidupan, asam garam dunia pahit pedih
perjuangan, harus kau nikmati, anakku," katamu
ya, aku kini belajar pada sejarah, yang ditulis begitu kacau, mengalahkan akal
sehat dan logika, tumbal sulam penuh manipulasi kata-kata, menghipnotis dengan
kecanggihan sihir informasi satu arah (yang ada hanya satu versi sejarah resmi,
yang lainnya sub versi, tak akan diakui!)
"apa yang kau ketahui tentang sejarah, anak muda? sedang kau sendiri tak pernah mengalami kepahitan bangsa ini berjuang melepaskan diri dari penjajahan, bergelut dengan segala pengkhianatan,
tahukah kau betapa merahnya darah yang mengalir dari luka-luka bangsa ini? dan betapa revolusi (yang mungkin tak akan kau pahami) harus dibayar dengan darah
dan airmata
engkau masih teramat hijau memandang dunia"
ya bapa,
kami memang tak merasakan semua deru revolusi. kami memang tak merasakan kepahitan pertikaian generasimu. kami memang tak merasakan itu semua (dan kami tak ingin menanggung seluruh warisan permusuhan, sebuah dosa besar di masa lalu yang kau pikulkan pada anak-anakmu)
"jangan sekali-kali melupakan sejarah!"
catatan sejarah siapa yang harus kami percaya?
"anak muda, jangan terlalu banyak membantah omongan orang tua. jangan pula banyak
bicara yang tiada guna, karena apa yang kami katakan itulah kebenaran sejati,
kau tak akan sanggup merekonstruksi sejarah masa lalu, selain kami sendiri yang
menuliskannya untukmu, jangan percaya siapapun selain kepada kami, yang menyelamatkan negeri ini
bukankah kebenaran akan selalu menang?
dan kamilah kebenaran, karena kamilah yang menang
bersiaplah saja untuk menjadi pewaris kami,
pemimpin masa depan..."
ya, mungkin begitu katamu, kami akan menjadi pemimpin masa depan, tapi sungguh, kami tak mengerti apa maumu sebenarnya? kau suruh kami kami jadi calon pemimpin, tapi tak pernah kau beri kesempatan. kau bilang kami harus kritis, ketika kami bicara kau menindas dengan kekuasaan yang bengis. jangan salahkan kami, jika menjadi generasi tanpa arah, karena memang selalu dibingungkan dengan sikapmu yang tak jelas. sebenarnya apa maumu?
"apa maumu, anak durhaka?!"

cilegon 1997 - malang 1999



MENYAPA JAKARTA SIANG HARI

selamat siang jakarta. udaramu panas sekali.
seperti juga panasnya persaingan orang mencari penghidupan.
orang-orang berdesakan dalam bis kota
(sementara sebagian lagi harus menyewa para joki untuk melewati jalur three in one).
orang-orang berdiri di pinggir jalan
dengan peluh meleleh sekujur tubuh.
mobil-mobil terjebak kemacetan
---berapa banyak lagi mobil akan banjir di sini?---
(apa kabar timor, baleno, cakra, paijo, nanang, wahyu, taufan...)
orang-orang berteriak
dengan klakson
dan suara mesin yang meraung
(juga knalpot yang menyemprotkan makian)
panas sekali udara di sini,
seperti juga panasnya persaingan politik.
orang-orang berdesakan, sikut menyikut, berebut mendekati pusat kekuasaan.
banyak orang- menjelma menjadi gelombang televisi dan radio resmi
( dan sebagian menjelma menjadi pamflet-pamflet gelap dan graffiti
di tembok-tembok kota)
selamat siang jakarta, aku kepanasan!
Jakarta, Cilegon, Malang, 1996


PERKABUNGAN
buat: goen

perkabungan yang kuhantarkan ke jalan-jalan,
kabarkan kematian sebuah keinginan
terbunuh kata-kata di dalam koran,
televisi dan podium
sedangkan diam menjadi tanda tanya
duka yang menjadi samudera
menghantam-hantamkan ombaknya
ke karang batinku
bikin darah leleh di kedua belah mata
matahari ini kian panas, katamu
tombaknya meruncing
tikami tubuh
dan sengatannya kian berbisa
ah, anak-anak yang berarak di jalanan,
menantang ketidakpastian
perkabungan yang kuhantarkan ke jalan-jalan, diarak anak-anak muda
--yang menatap kehidupan dengan mata bening,
penuh kejujuran memandang dunia
mereka lelehkan airmata untuk sebuah kehidupan yang mati sore tadi

Cilegon 1994/Malang 1995


PERISTIWA

ada yang tak dimengerti
dari sebuah berita yang diguratkan
di hari penuh dusta dan teriakan
karena kekesalan yang memuncak.
dan kau lempar sebuah peristiwa
pada kerumunan massa yang haus
kan lambang-lambang penuh kebebasan.
serombongan anak muda yang penuh darah dan api
dalam kepalanya. membawa bendera...
mengertikah kau makna itu,
ketika anak muda menjadi beringas
membawa kemarahan yang menjadi api,
membakar gedung-gedung,
mobil-mobil terjungkal di pinggir jalan,
toko-toko berhamburan isinya...
ah, hiruk pikuk yang mungkin juga tak akan kau mengerti.
karena kata-kata itu: politik!
ia telah menjadi burung, bersayap dan terbang
dan peristiwa yang kau gambar sore ini, manisku
adakah tentang cinta kita yang berlalu?
Malang, 1994

BAPAK! BUKA PINTU....

setelah puisi menjadi bom waktu yang menakutkan.
buku-buku terlempar ke balik terali.
dan berita kebenaran menjadi kesenyapan yang nyata.
anak- anak yang berteriak di jalanan
mengusung keranda kematian sebuah keinginan di pagi hari.
sedang bapak yang teramat sayang kepada rumah
hantamkan pentungan pada kepala anak-anaknya.
yang menjadi beringas melempari kaca dan genting.
anak-anak melelehkan tangis.
dipanggang segepok makian.
karena bapak telah menjadi hantu yang menakutkan!
bapak, ya bapak...
jangan tutup pintu
bapak, ya bapak ...
biarkan terbuka
anak-anak yang berarak,
telah antri di depan pintu gerbang,
menanti kapan bapak berbaik hati,
mempersilahkan masuk,
ke rumah mereka sendiri

malang, 7 april 1994/1996


BENANG KUSUT

mana ujung mana pangkal berputar berbelit tak karuan
omongan melantur nurani membentur karang
berdarah-darah kepalaku: pusing tujuh keliling
di mana keberanian di letakkan?
menantang angin semilir atau badai
cuma gerutuan terlontar
upeti dipersembahkan
raja di raja meminta tumbal sesaji
di letakan di hadapan
tak puas juga kah dihisap darah
tak jera jugakah berbuat salah
berputar-putar isi benakku
tangan meninju angin lalu
sebenarnya tahukah ke mana kita menuju?
Malang, 16 Nopember 1997


NURANI

satu titik dalam dadaku, meronta
ke mana kan dilarikan ini cita-cita
membentur-bentur melulu
mataku menatap
sebuah batu
betapa muram
betapa suram
tak terasa meleleh juga air mata
dalam hatiku yang mungkin kian jelaga

Malang, 16 Nopember 1997


DOA SEORANG PESAKITAN

tuhan
betapa sukar kutemukan keadilan di sini
di negeri yang sesungguhnya aku cintai
beberapa detik lagi,
mungkin sebagai sokrates
yang tabah hadapi kematian,
aku coba simpan keyakinan dalam jiwa
ya, betapa membosankan semua kepalsuan ini,
keadilan hanya sekedar omongan,
tertulis di buku-buku
dan dengan sesuka hati,
hukum didustai, dilecehkan, ditikam berulang kali
tuhan, aku letih bertanya tentang kebenaran
karena sepertinya, kebenaran telah menjadi klaim sepihak kekuasaan
kebenaran harus dilihat dari kacamata mereka, jika tidak: subversi!
aku saksikan: hukum dihina para hakim, mereka jual belikan keputusan,
lembaga peradilan di jadikan gedung sandiwara,
oh, masih beranikah aku katakan tentang keadilan di sini
dan kini, aku rasakan betapa pedihnya penderitaan ini,
ketika ketidakadilan menyergapku,
aku ingin berteriak, namun lidahku kelu
ya tuhan, aku bertanya
apakah keadilan masih engkau amanatkan kepada manusia,
jika ya, ketlingsut dimana ia
karena hari-hari ini, tak kutemukan ia,
aku saksikan
pencuri uang rakyat dilepaskan
para penguasa yang jahat tak terjamah oleh hukum
ya tuhan, aku serahkan semua ini pada keadilanmu

malang, 5 mei 1994


DI ALUN-ALUN KOTA

apa yang kita cari di sini.
pada gerimis yang turun malam hari.
pada dingin yang menggigit.
kau bacakan sajak dari masa lalu.
di atas bangku-bangku taman.
aku tertidur....
marilah kita bermimpi saja
bahwa kita yang menguasai semua ini.
kekuasaan seluas dunia.
wanita-wanita cantik .
pabrik-pabrik .
senjata-senjata.
emas permata.
tambang di mana-mana.
serta hutan yang terus ditumbangkan.
tak usah kita berteriak lagi seperti tempo hari.
di tempat ini.
dalam panas terik matahari.
menyumpahi kekuasaan yang korup.
dengan kemarahan yang membakar kerongkongan dan dada.
lihatlah, seragam itu
yang membuatmu trauma,
karena patah tulang rusakmu,
pecah mata kirimu.
karena popor senjata dan pentungan memang keras.
dan panser yang akan melibas
mimbar-mimbar yang kau dirikan.
bikin kau semakin sakit hati saja.
aku tertidur.
kau terus membacakan puisi bagiku.
dalam gerimis yang turun malam hari.
kita di sini mencari apa?
"bermimpi sajalah ..." katamu


ANAK MUDA DAN PESTA KEMERDEKAAN

Nyalang matanya menatap gedung penuh warna lampu,
iklan menyala, dan kekaburan cerita dalam buku-buku,
dihapus dari kejujuran kata,
sejarah sebuah bangsa yang dibikin amnesia
Anak muda sangsai hidupnya,
mengeja nasionalisme yang sekarat
diterpa badai globalisasi.
Anak muda menangis memanggil ibu pertiwi.
Di hari kemerdekaan.
Yang ada hanya upacara.
Pesta.
Merayakan hari-hari amnesia.
Ah, apa yang harus aku katakan tentang kemerdekaan?
Mengingat proklamasi Soekarno-Hatta.
Atau ledakan meriam 10 Nopember 1945.
Atau menghitung gedung-gedung mewah
yang menggusur perkampungan kumuh!
Sementara mantera itu...
Menggerakkan seluruh sendi untuk terus bergerak, bergerak, bergerak...
Pembangunan! beri aku pengorbanan, barang selaut dua laut airmata darahmu. barang sepetak dua petak tanahmu, barang satu dua nyawamu
Anak muda merah matanya memandang langit: "Adakah bagia di sana, dalam belaian tangan-tangan malaikat. Yang akan mengangkataku dari kekumuhan ini. Dari keraguan memandang masa depan".
Ia bergerak dalam lautan massa. Dalam gelora yang sama. Kata-kata menjadi generik. Kata-kata menjadi ilusi yang menakutkan: Penuh wajah garang dan kokangan senjata!
Sementara televisi menawarkan bahasa baru. Menawarkan mimpi-mimpi baru: dunia adalah perkampungan besar...
Anak muda menatap hidup penuh kabut:
" Adakah arti kemerdekaan bagiku., Yang tak pernah merasa merdeka. Dari belitan sejarah. Dan cengkraman kehidupan yang semakin sulit".
Bendera berkibar
"Indonesia raya. Indonesia Raya. Adakah kau dengar kata-kataku ini. Menawarkan cerita penuh luka. Anak-anak sejarah kebingungan menatap cuaca"
Anak muda menatap Indonesia raya:"Merdeka?"
Malang, 26 April 1995


BERSAMA CERITA WAHYU

anak-anak muda menatap cerobong pabrik,
kantor penuh uang,
tambang emas permata
sebagai sebuah masa depan
rasakan kecemburuan luar biasa
ketika pintu-pintu buat mereka tak pernah dibuka
sedang etalase tawarkan mimpi-mimpi yang harus dibeli
seteguk demi seteguk menelan kebencian,
berkobarlah api di dalam dadanya
karena kenyataan begitu pahit
berbutir pil dan minuman keras bersarang di perutnya
(dengan belati di tangan menyergap rizki di tengah jalan!)

malang, 2 Oktober 1996


SEBUTIR MATA
mengingat: w.t.

perempuan itu,
istri seorang demonstran,
berkata: karena perjuangan harus dilanjutkan,
kang mas, aku relakan sebutir mataku untukmu.
menggantikan mata kirimu yang pecah saat unjuk rasa.

malang, 1996

MENONTON SULAPAN

kursi menjelma
dari kepala-kepala bercucuran darah
kursi menjelma
dari tubuh tubuh bercucuran darah
letusan senjata bikin nganga luka,
pada jantung,
pada hati nurani
hutan menjelma
menjadi angka
dalam rekening bankmu.
ajaib
ajaib
siapakah engkau wahai:
penyihir yang menipu mata berjuta kepala

Malang, 9 Januri 1996
Post a Comment

Seminggu Terakhir

Yang disukai Sepanjang Waktu

Sebulan Terakhir