Skip to main content

Posts

Showing posts with the label puisi

DUNIA ORANG DEWASA (Nanang Suryadi)

kami mencari kartu garansi di pasar gelap. sang penjual menawarkan dengan harga tinggi. kami menyimpan senja dalam kepala, dan membisikkannya saat bulan purnama kami menatap foto yang sama, tapi yang dicari diri sendiri kami bermain-main huruf, sebuah keberuntungan ketika menemukan kata kami menulis puisi, dan bertanya-tanya apa artinya kami bertukar gelas kopi. gelasku separuh kosong. gelasnya separuh terisi diam-diam kami saling membaca cuaca di mata kami, lalu berkicau tentang sepi kami menyukai omong kosong. karena kami suka mengisi teka-teki kami menduga-duga siapa menggantung, pada saat cuaca makin mendung kami belajar rendah hati hingga terlanjur rendah diri. kami tak mau tinggi hati karena tak ada tangga lagi kami, aku dan bayang-bayangku, saling mentertawakan. kami tertawa berbahagia

DONGENG TAHUN BARU UNTUK JOKPIN (Nanang Suryadi)

pelan-pelan dia menyimpan ingatan. besok akan dibaca lagi dia anak yang baik. bahkan saat puisi berebut tempat di kepala dan hatinya, dia mau berbagi “sisakan satu lampu saja untukku. ambil lampu yang lain dari mataku” katanya lugu “terserah kamu panggil aku malin atau si anu, asal ibu tak mengutukku jadi batu,” tulisnya di buku waktu sekelebat dia ingat harus membuat kalender baru. ayahnya perlu terompet untuk tahun baru. dia anak yang baik. membantu ibu mencari ayah baru “aku tidak mau menulis sajak, biar sajak menulis diriku,” katanya sambil berlagu “kamu meniru? rambutmu harus rontok dulu. biar puisi mau masuk ke dalam kepalamu,” dia menasehati kawanku. anak baik itu “kamu harus jadi dirimu, biar kukenali dirimu. copot baju dan celana itu.” temanku memang lucu. anak baik yang lugu uuuuu kenapa harus berlagu? uuuu tentu saja di saat-saat rindu pada susu buatan ibu “tunggulah di sini, hujan dan senja akan lewat sebentar lagi. kamu ingin puisi? tunggu, sebentar lagi.” sungguh, anak ya...

SECANGKIR PUISI (Nanang Suryadi)

secangkir kopi dan kegaduhan di luar sana. sebaris puisi yang tak usai di tuliskan. hiruk pikuk. kata kata dipilihpadatkan. hiruk pikuk. gaduh tak berkesudahan. kata kata jumpalitan. tak ingin dipenjarakan. diksi kemana diksi? imaji melentur melantur di ranting ranting ingatan. diksi imaji mengaji diri mengkaji diri. sssst diamlah, secangkir kegaduhan kuteguk perlahan. secangkir kopi yang kelam. 27 Oktober 2016

BAHKAN ENGKAU (Nanang Suryadi)

bahkan kau membuka segala yang rahasia di kitab wajah. membuka nama nama dan angka angka yang kau ketahui. di dinding waktu mereka menera namamu nama kekasihmu nama kenangan kenangan dari masa lalu. kemana engkau akan pergi? jejakmu tercatat. langkah demi langkah. jarak demi jarak.  siapakah engkau? engkau mencari nama dan wajahmu di mesin pencari. kau tak percaya itu dirimu. yang dicatat waktu.

SANG PERTAPA (Nanang Suryadi)

hantu-hantu menulis buku. buku-buku berhantuhantu. siapa yang menyibak halaman? daun jatuh di pelataran aku membayangkan seseorang duduk di bawah pohon itu, merenungi makna penderitaan dan kebahagiaan wahai pertapa, goda apa yang paling aniaya? tapi dia bukan pertapa, yang menutup seluruh lubang di tubuhnya dari goda dunia #puisi #sajak #nanangsuryadi #penyaircyber #penyairmidas

KETIKA KAU MENULIS PUISI

  Ketika kau menulis puisi Apa yang kau pikirkan Atau apa yang kau rasakan Mungkin tentang masa lalu Mungkin tentang masa kini Mungkin juga tentang masa depan Apa yang ingin kau ceritakan Kenyataan atau harapan Apa yang ingin kau ungkapkan Kesedihan atau kegembiraan Mungkin kau demikian sunyi dalam keramaian Atau di dalam kepalamu demikian ramai saat engkau sendiri Mungkin engkau bertanya: "Untuk apa kutulis puisi ini?" Berulang-ulang, pertanyaan yang sama Tapi engkau tetap menulis Puisi Tanpa pernah tahu mengapa Indonesia, 27 November 2023

Membaca Isyarat

tanda tanda jaman dan aku harus diam   menyimpan   tanda tanda alam dan aku harus diam   menggumam   tanda tanda waktu dan aku harus menunggu   melaku   maka jadilah apa yang harus terjadi   aku menyaksi   isyarat disemat pada semesta   tanda  

Kembali Jogja Kembali

 Jogja kembali Jogja Selepas pandemi selepas segala kemuraman ini   Aku ingin kembali berfoto di alun alun Aku ingin kembali berfoto di dekat kraton Aku ingin kembali berfoto di Malioboro Aku ingin kembali berfoto di Taman Budaya Aku ingin membaca relief di monumen Jogja kembali   Aku ingin kembali ke Jogja, membincang sastra budaya dalam hangat teh dan panas kopi Membaca puisi di ruang ruang terbuka   Aku ingin kembali, Jogja Aku ingin berjumpa Faruk, Nuruddin, Pinang, Saut, Aguk   Aku ingin kembali Jogja, seperti sebelum pagebluk ini   Malang, 2021

Di Penghujung Senja

di penghujung senja engkau menulis sajak, sebuah elegi, yang hendak menelusur jejak: airmata di jemarimu, puisi adalah kandil yang bertahan tak padam, dihembus angin malam "bicaralah, biar sunyi yang akan mengkhidmati," ujar malam kepadamu, yang merasa asing sendiri. "aku ingin menulis sajak, tapi mengapa puisi tak datang padaku?" tanyamu. mungkin puisi enggan datang kepadamu, penyair yang gagal menangkap isyarat, tanda-tanda, yang berulang disampaikan. cerminmu terlalu berdebu Bandung, 2016 Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB

Contoh Puisi Puisi Yang Sepi

HITAM BAYANG Kota dan bayang bayang melaju menderu ke arah tak tentu Mimpi digariskan dalam tidur panjang Terbunuhlah kanak oleh jemari kutuk Ditikam dengan bengis ke dalam lubuk jantungnya Karena nyeri kehidupan O, berlepasanlah segala riwayat Dari kehendak Diserukan gemuruh diserukan deru Manusia yang kehilangan Mencampakkan engkau ke dalam parit-parit Lubang kelamin Tegang kelamin Di kelangkang waktu Hingga bertumbuhan ilusi dalam rahim imaji menggeliatkan janin kalimat Detak jantungnya adalah hentak tak jelas Demikian lamat menyeru kehidupan atau sekarat kematian HANYA ENGKAU jerit lindap dari kedalaman jiwa yang kosong menyeru meminta jawab rahasia nyeri di mana akhir di mana ujung derita tak bertepi tak tergapai daratan pantai di mana engkau menanti dengan senyum dengan peluk cium o dekaplah aku ayun ambinglah dalam perahu cintamu biar kukayuh biar simbah segala napsu biar punah segala syahwat lebur dalam cahaya cintamu yang gelombang arusnya menengge...

Contoh Sajak Rindu kepada Tuhan

Di Saat Aku Merinduimu Genta waktu yang kau bunyikan Dentingnya sampai di sini Di penghujung hari Saat ku merinduimu Apa yang ingin kau kabarkan? Di kelebat saat yang fana Engkau demikian abadi Dalam ingatanku Sejak kau hembus Tak pupus Hingga kini Hingga gigilku sendiri Merinduimu Di lelangit harap dan mimpi Kutatap Juntaian takdir Leliku Jalan-jalan bercabang Sampaikah aku Menujumu? Di hariba Cintamu