pelan-pelan dia menyimpan ingatan. besok akan dibaca lagi
dia anak yang baik. bahkan saat puisi berebut tempat di kepala dan hatinya, dia mau berbagi
“sisakan satu lampu saja untukku. ambil lampu yang lain dari mataku” katanya lugu
“terserah kamu panggil aku malin atau si anu, asal ibu tak mengutukku jadi batu,” tulisnya di buku waktu
sekelebat dia ingat harus membuat kalender baru. ayahnya perlu terompet untuk tahun baru. dia anak yang baik. membantu ibu mencari ayah baru
“aku tidak mau menulis sajak, biar sajak menulis diriku,” katanya sambil berlagu
“kamu meniru? rambutmu harus rontok dulu. biar puisi mau masuk ke dalam kepalamu,” dia menasehati kawanku. anak baik itu
“kamu harus jadi dirimu, biar kukenali dirimu. copot baju dan celana itu.” temanku memang lucu. anak baik yang lugu
uuuuu kenapa harus berlagu? uuuu tentu saja di saat-saat rindu pada susu buatan ibu
“tunggulah di sini, hujan dan senja akan lewat sebentar lagi. kamu ingin puisi? tunggu, sebentar lagi.” sungguh, anak yang baik hati tentu
“aku punya kunci duplikat. seperti juga diriku. yang asli di simpan dalam lemari,” kata si anu menganu
Comments