Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2026

MASKER (Nanang Suryadi)

Saat wabah itu terjadi, dimana-mana setiap orang diwajibkan menggunakan masker. Ketika ada razia kedisiplinan, dia marah-marah ke petugas yang mengingatkan harus pakai masker. Sambil menunjuk wajahnya yang bermasker bengkoang dia bertanya, "Lha ini apa bukan masker?" #tatika

DUNIA ORANG DEWASA (Nanang Suryadi)

kami mencari kartu garansi di pasar gelap. sang penjual menawarkan dengan harga tinggi. kami menyimpan senja dalam kepala, dan membisikkannya saat bulan purnama kami menatap foto yang sama, tapi yang dicari diri sendiri kami bermain-main huruf, sebuah keberuntungan ketika menemukan kata kami menulis puisi, dan bertanya-tanya apa artinya kami bertukar gelas kopi. gelasku separuh kosong. gelasnya separuh terisi diam-diam kami saling membaca cuaca di mata kami, lalu berkicau tentang sepi kami menyukai omong kosong. karena kami suka mengisi teka-teki kami menduga-duga siapa menggantung, pada saat cuaca makin mendung kami belajar rendah hati hingga terlanjur rendah diri. kami tak mau tinggi hati karena tak ada tangga lagi kami, aku dan bayang-bayangku, saling mentertawakan. kami tertawa berbahagia

DONGENG TAHUN BARU UNTUK JOKPIN (Nanang Suryadi)

pelan-pelan dia menyimpan ingatan. besok akan dibaca lagi dia anak yang baik. bahkan saat puisi berebut tempat di kepala dan hatinya, dia mau berbagi “sisakan satu lampu saja untukku. ambil lampu yang lain dari mataku” katanya lugu “terserah kamu panggil aku malin atau si anu, asal ibu tak mengutukku jadi batu,” tulisnya di buku waktu sekelebat dia ingat harus membuat kalender baru. ayahnya perlu terompet untuk tahun baru. dia anak yang baik. membantu ibu mencari ayah baru “aku tidak mau menulis sajak, biar sajak menulis diriku,” katanya sambil berlagu “kamu meniru? rambutmu harus rontok dulu. biar puisi mau masuk ke dalam kepalamu,” dia menasehati kawanku. anak baik itu “kamu harus jadi dirimu, biar kukenali dirimu. copot baju dan celana itu.” temanku memang lucu. anak baik yang lugu uuuuu kenapa harus berlagu? uuuu tentu saja di saat-saat rindu pada susu buatan ibu “tunggulah di sini, hujan dan senja akan lewat sebentar lagi. kamu ingin puisi? tunggu, sebentar lagi.” sungguh, anak ya...

SECANGKIR PUISI (Nanang Suryadi)

secangkir kopi dan kegaduhan di luar sana. sebaris puisi yang tak usai di tuliskan. hiruk pikuk. kata kata dipilihpadatkan. hiruk pikuk. gaduh tak berkesudahan. kata kata jumpalitan. tak ingin dipenjarakan. diksi kemana diksi? imaji melentur melantur di ranting ranting ingatan. diksi imaji mengaji diri mengkaji diri. sssst diamlah, secangkir kegaduhan kuteguk perlahan. secangkir kopi yang kelam. 27 Oktober 2016

Usman Menanam Cabe (Nanang Suryadi)

tak ada yang perlu dikhawatirkan "aku menanam cabe, tak habis habis dipanen, di kebun belakang rumah" sejak dari Maine hingga Bengkulu, aku tak pernah berjumpa Usman aku telusuri dongeng Joko Tingkir yang ditulisnya di pinggir danau, di negeri jauh, di waktu yang lalu aku menyukai dongeng, tapi bukan dongeng saat ini, dongeng negeri dongeng membuatku bingung, tak bisa membuatku bahagia "aku menanam cabe, tomat, duren..." jari jemari Usman mengabarkan dari Bengkulu, dari kampusnya. Aku ingin melihat tanaman yang ditanamnya. Tunggulah. Bersama puisi aku akan ke sana. Malang, 4 Agustus 2019

REFLEKSI AWAL TAHUN (Nanang Suryadi)

mengawali tahun  dengan puisi hari hari lampau hari hari kalau pernahkah kau menulis mimpi menjadi pernahkah kau menulis puisi dalam mimpi tak ada yang bertanya tentang harapan harapanmu tak ada yang bertanya  tentang mimpi mimpimu karena harap adalah kalau karena mimpi adalah lampau berjumpai dalam puisi di awal tahun di awal hari Malang, 1 Januari 2019

BAHKAN ENGKAU (Nanang Suryadi)

bahkan kau membuka segala yang rahasia di kitab wajah. membuka nama nama dan angka angka yang kau ketahui. di dinding waktu mereka menera namamu nama kekasihmu nama kenangan kenangan dari masa lalu. kemana engkau akan pergi? jejakmu tercatat. langkah demi langkah. jarak demi jarak.  siapakah engkau? engkau mencari nama dan wajahmu di mesin pencari. kau tak percaya itu dirimu. yang dicatat waktu.

Praya Malam Hari (Puisi Nanang Suryadi)

puisi memangil manggil dalam denting gitar melagukan rasa melagukan cahaya lampu lampu. lupakan saja hiruk pikuk tak berkesudahan. perut lapar perlu nasi. tenggorokan haus perlu minum. o biarlah lalu lalang cerita. lalu lalang berita.  denting gitar. getar drum. serak parau suara. melagukan puisi. puisi memanggil manggil. dalam gigil sepi di riuh caci maki.di beranda kata kata. puisi sepi sendiri. Lombok, 21 April 2019

DI PESISIR PUISI BERPASIR (Nanang Suryadi)

di pesisir puisi pasir putih menggeriap cahaya matahari yang sama dan kita yang selalu saja memandang gelombang menghempas buih berhamburan tak ada yang aneh hanya terkadang mata silap melihat kebenaran dan kesalahan dikabarkan dari perut kelaparan di pesisir puisi kita ingin jadi gelombang memburu mencium pasir gemerlap cahaya Bandung, 7 Juli 2018

INILAH PUISI (Nanang Suryadi)

munajat rindu  tafakur diri merenangi rahasia menempuh jalan mencari air suci menemu ruci berkali kali bertarung berdebat dengan diri sendiri inilah jalan sunyi inilah jalan gaduh ramai inilah aku berjalan tak henti henti hingga sampai hingga Cinta tergapai Bandung, 7 Juli 2017

PENYAIR DAN PUISI (Nanang Suryadi)

"kita pura-pura menjadi penyair, karena tak tersisa kamar di rumah sakit jiwa" tulisnya suatu ketika puisi menyimpan sepinya. hingga derum memanggilnya kembali. ke jalan yang lapar "pagut aku, sepiku. hingga ngelangut hati, melarutlah segala karut marut", ujarnya meradang puisi tetap bangkit, dari kematian demi kematian ingatan, dan kehendak menghapuskan segala kenangan #puisi #nanangsuryadi #sajak #penyaircyber #penyairmidas

PUISI (Nanang Suryadi)

yang datang penuh rindu adalah puisi dengan kata yang tak habis yang datang penuh cinta adalah puisi dengan sunyi airmata yang datang penuh keheningan adalah puisi adalah puisi yang diam-diam berdiam di dalam diri puisi

SENJA YANG MENJELMA PUISI (Nanang Suryadi)

"apa yang lebih puisi daripada gerimis dan senja?", ujarnya. di matanya dia menemukan gerimis dan senja, kemudian dia jatuh cinta. puisi mengekalkannya. "di dalam pelukan gerimis,  kau ingat senja tersenyum manis? demikian puisi mengguris. kau tetap tertawa, walau hati teriris." di kedalaman matanya dia menemukan mimpi kanak-kanak: gerimis dan senja yang menjelma puisi. "huruf-huruf berhambur, menghambur, menghablur, masihkah kau ragu puisi membuatmu kembali menemui mimpi?"

DI LORONG KOTA: PUISI (Nanang Suryadi)

1. lorong-lorong di kota ini tak akan membuatku tersesat, berbeda saat kumasuki lorong-lorong di hatimu. aku tersesat dan berdiam di sana 2. di kedalaman puisi akan kau temukan sunyi, sebenar-benar sunyi,  sebenar-benar puisi 3. aku rasakan benar doa yang tak terucapkan, tapi bergetar di dalam jantungmu 4. karena kesedihan adalah kebahagiaan dengan nama berbeda, maka hadir cinta bersama airmata 5. secangkir kopi dan kenang yang menggenang di dalamnya, pahit dan manis, serupa hidup yang harus tetap ternikmati

TADARUS PUISI (Nanang Suryadi)

aku membaca diri di arus diri yang memusar, di malam-malam yang engkau berkahi dengan cinta dan pengampunan wahai yang tak membutuhkan apapun, aku membutuhkan engkau, mengemis di hadapanmu, sepenuh pinta sepenuh harap sepenuh rindu sepenuh cinta aku membaca diri di dalam goa goa keheningan diri, membaca bahagia dan luka di sepanjang usia menyebut namamu adalah kebahagiaan menzikirkan namamu adalah kebahagiaan sebagai kerinduan di malam malam panjang penempuhan di jalan jalan berbatu berkelok panjang mendaki: tunjukkan aku jalan yang lurus. menemu cintaku aku membaca diri, membaca puisi di dalam diri Malang, 31 Mei 2017

MENULIS PUISI, MENJENGUK DIRI SENDIRI (Nanang Suryadi)

Di dinding waktu kau tuliskan Mungkin cinta yang ingin diabadikan Di langit harap kau guratkan Mungkin rindu yang ingin disampaikan Kau menerka dimana batas Hingga kau tak melampaui segala yang pantas Kau menduga gemuruh riuh ada dalam diam Kau menafsir kekosongan dalam keriuhan remuk redam Hari ini, kau menulis puisi Menjenguk diri sendiri Nun jauh di dalam diri 29 November 2016

SANG PERTAPA (Nanang Suryadi)

hantu-hantu menulis buku. buku-buku berhantuhantu. siapa yang menyibak halaman? daun jatuh di pelataran aku membayangkan seseorang duduk di bawah pohon itu, merenungi makna penderitaan dan kebahagiaan wahai pertapa, goda apa yang paling aniaya? tapi dia bukan pertapa, yang menutup seluruh lubang di tubuhnya dari goda dunia #puisi #sajak #nanangsuryadi #penyaircyber #penyairmidas

APA YANG KAU PIKIRKAN (Nanang Suryadi)

apa yang kau pikirkan, mungkin waktu yang terasa cepat terasa lambat kemudian kau lihat waktu berhenti di jam tangan itu mungkin kau lihat sebagai bayang bayang di barat dan timur langkah kakimu di bawah matahari yang sama mungkin kita memikirkan hal yang sama, sebagai puisi yang tiba tiba menyapa, mungkin sebagai doa yang kau tulis di kertas tua  Malang, 23 Juli 2020

SAJAK BELING (Nanang Suryadi)

aku ingin menulis sajak beling beling bukan kaleng kaleng katamu. sudah lama tak kulihat tukang beling lewat di depan rumah. entah sejak kapan. mungkin sudah tak ada yang membuang beling. mungkin sejak ada tulisan "pemulung dilarang masuk."  dia coba menulis sajak beling beling bukan kaleng kaleng. karena kaleng biskuit sudah jadi gambar sampul buku puisi penyair lain.  duh teramat licin ini beling beling, keluhnya. lalu dia merapal angka 23651 nomer togel yang diingatnya tembus Minggu lalu.  keringatnya menderas. sebotol sajak pecah dibanting. dia menemukan beling beling berhamburan di lantai.

INGATAN DI BULAN MEI (Nanang Suryadi)

Di bulan Mei, apa yang kau ingat? Mungkin pekik suaramu di tengah kerumunan massa. Mungkin pula bisikmu di sudut jalan memandang toko toko terbakar dan kau bersyukur tidak terjebak di dalamnya. Di bulan Mei, apa yang kau ingat? Mungkin puisi yang tak sempat kau tulis, saat wabah tak kasat mata mengamuk di tengah kehidupanmu. Dan kau berhitung angka angka, membaca kurva kesakitan, kematian dan kesembuhan. Tanpa tahu maknanya. Tanpa tahu apa gunanya. Di bulan Mei, apa yang kau ingat? Mungkin tak semua perlu diingat, terlebih itu adalah kepedihan. Malang, 21 Mei 2020

HUTAN BOGOR HUJAN BOGOR (Nanang Suryadi)

kepada: Cunong Nunuk Suraja  aku memasuki hutan sajak apakah engkau ada di situ burung merak menari gemulai seakan ingin melunaskan kenangan hutan bogor hujan bogor tulislah di batu batu di batu tulis di batu tulis tulislah tentang riwayat raja raja tulislah tentang riwayat gubernur jendral tapi mungkin ingin kau tulis pula hujan pada sajak yang terasa sia sia di jaman tak ada orang mau membaca mungkin ingin kau tulis sajak pada.sebuah perahu kertas kau titipkan pada.hujan bulan mei hingga sampai pada kolam penyair itu yang menyukai sihir hujan atau tulislah mantra: luka haha menangkal banjir agar tak sampai ke jakarta dingin udara sajak sajak mengkerut hujan bogor hutan bogor penyair mbeling menarik selimut tidur lagi hujan bogor hutan bogor mengabadi dalam puisi ini Bandung, 10 Desember 2017

Di PENGHUJUNG OKTOBER (Nanang Suryadi)

hujan masih terus gemericik. senja kehilangan semburat cahaya. langit warna kelabu. apa kabar puisi? sia siakah penyair mengekalkan segala dalam kata. puisi menggigil di.bawah gemericik hujan. langit yang kehilangan semburat cahaya. senja yang menyisakan warna kelabu. apa kabar penyair? apakah sia sia aku.dituliskan. puisi menggigil. menari di bawah gemericik hujan. 31 Oktober 2016

SONETA MALAM (Nanang Suryadi)

seperti ada yang berbisik padaku baris-baris puisi yang terbang, wing mungkin angin yang berdesing-desing di sela-sela sajak yang sesak berbuku-buku seperti ada yang berbisik padaku seperti lonceng waktu lemah bergemerincing mungkin soneta suaramu, wing di lembut cuaca bersalju di negeri itu aku teringat kohar ibrahim mendongeng melukis negeri yang dirindukannya di jemarinya hutan terbakar ada yang berbisik malam ini seperti mendongeng demikian lirih bercerita, mungkin dingin cuaca seperti  engkau wing, rimbaud, dan kohar berkabar Malang. 16 April 2017

KETIKA SENJA (Nanang Suryadi)

untuk: Cunong Nunuk Suraja Ketika senja, puisi menyapa Engkau yang menatap langit warna menyala Jingga mewarna kota Jingga mewarna cakrawala Ketika senja, kenangan menyapa Engkau yang menatap kanak kanak bercanda Dengan tawa dan tangis bercampur rasa Tergambar dalam bola mata Malang, 29 Juni 2020

PUISI MEME (Nanang Suryadi)

kita membuat gambar gambar lucu dan tertawa menertawakan diri sendiri hingga lupa apa yang diderita apa yang dirasa karena semua telah menjadi kelaziman kewajaran yang terus diulangulang dan kita membuat gambar gambar penuh tawa hingga lupa kita punya luka dan perih tak terhingga karena kebohongan diulangulang dipercaya.menjadi kebenaran dan kita membuat gambar lucu diri kita sendiri yang tertawa lebar menertawakan kebodohan diri sendiri Bandung, 9 Desember 2017

MESIN PENCARI, PUISI TENTANG (Nanang Suryadi)

Orang mencari di mesin pencari Orang bertanya di dunia maya Mereka mencari tentang apa saja Mereka bertanya tentang apa saja Mungkin mereka mencari Puisi tentang cinta Puisi tentang sahabat Puisi tentang damai Puisi tentang merdeka Puisi tentang teman Puisi tentang rindu Puisi tentang galau Puisi tentang kesal Puisi tentang marah Puisi tentang sedih Puisi tentang gembira Puisi tentang bahagia Orang mencari di mesin pencari Orang bertanya di dunia maya Mereka mencari tentang apa saja Mereka bertanya tentang apa saja Mungkin mereka mencari Puisi tentang persahabatan Puisi tentang perdamaian Puisi tentang kemerdekaan Puisi tentang pertemanan Puisi tentang percintaan Puisi tentang kerinduan Puisi tentang kegalauan Puisi tentang kekesalan Puisi tentang kemarahan Puisi tentang kesedihan Puisi tentang kegembiraan Puisi tentang kebahagiaan Mereka mencari, puisi terselip entah dimana

PUISI MEMANGGILKU (Nanang Suryadi)

lewat mimpi, kau beri aku 3 pena apa yang hendak kutuliskan lagi tuan guru? aku menjauh dari puisi tapi kau panggil aku lagi dunia hiruk pikuk bahkan menerobos dalam kesunyianku baiklah, jika puisi merindui aku lagi kan kutulis cahaya bulan di langit mimpi malam nanti Malang, 4 Oktober 2020

MANA YANG LEBIH (Puisi Nanang Suryadi)

mana yang lebih tabah hujan atau airmata? kedua-duanya berdiam dalam sajak yang teramat sunyi. mana yang lebih puisi, kelopak senja atau kelopak malam? awan menunggu kemarau menjawab. hingga hujan melunaskannya hujan malam malam puisi menontonmu diam diam di sudut yang kekal dengan puisi malam malam hujan

MUKIM (puisi Nanang Suryadi)

di kota mana kau akan bermukim di saat musim-musim berubah melintas batas penanggalan dimana kau akan bermukim mungkin di musium musium atau mausoleum kata-kata jika engkau mau bermukimlah di sini di dalam puisi sunyi Malang, 16 November 2022

PAWANG (Nanang Suryadi)

ada yang berharap hujan,  ada yang mengusir hujan langit warna abu-abu, hujan tak turun juga, siapa mengusir awan hari ini? aku mengaduk segelas kopi. kopi yang hitam dan panas. serupa puisi, yang bersarang dalam kepalaku. ada yang bermain hujan,  karena merindukan airmata saat gerimis turun perlahan.  tiktiknya merinai. senja yang masai

SELEPAS HUJAN (Nanang Suryadi)

selepas hujan, langit demikian lengang, bening dan hening. serupa mata cintamu. menenangkan jiwaku selapis demi selapis ditulis puisi berlapis lapis, serupa pelangi, pendar hujan tertimpa cahaya matahari "riwayatkan aku pada akar, ranting, cabang, daun, bunga dan buahmu", ujar hujan membelai pepohonan. "kecup aku matahari, agar aku pulang ke keabadian," ucap embun. dan dia berbahagia "tak apa sendiri, jika sunyi lebih berarti," ujar gerimis

RUANG RINDU (Nanang Suryadi)

"Siapakah yang memberi nama ruang ini sebagai ruang rindu", dia bertanya-tanya dalam hati, setiap kali melintasi lorong di lantai satu hotel ternama di kotanya itu. Ruang rindu sepertinya sering dia dengar dari lagu atau terbaca dari puisi-puisi yang pernah dibacanya. Dia menduga-duga pemilik hotel ini adalah seorang penulis puisi atau pencipta lagu, atau sama seperti dia menyukai membaca puisi dan mendengar lagu cinta. Malam itu, saat  menginap ke sekian kalinya di hotel itu, dia merasa ada yang memanggilnya. Dia terbangun, dan berjalan ke arah ruang rindu. Kali ini ruang itu terbuka lebar. Dia melangkah ke pintu ruang rindu yang terbuka itu. Tiba-tiba dia dengar suara," Masuklah, aku sudah lama menunggu. Menunggumu sepenuh rindu...". #pentigraf_ruang

PUISI ADALAH (Nanang Suryadi)

puisi adalah butir-butir hujan yang tak sempat kutulis puisi adalah kesunyian yang kunikmati sendiri dan tak mampu kutuliskan puisi adalah kasih sayang ibu yang tak pernah bisa aku lukiskan, dengan kata-kata puisi ada di balik kata, meluber kemana-mana, tak tertampung oleh kata Malang, 8 Januari 2022

MENGAWALI TAHUN

mengawali tahun  dengan puisi hari hari lampau hari hari kalau pernahkah kau menulis mimpi menjadi pernahkah kau menulis puisi dalam mimpi tak ada yang bertanya tentang harapan harapanmu tak ada yang bertanya  tentang mimpi mimpimu karena harap adalah kalau karena mimpi adalah lampau berjumpai dalam puisi di awal tahun di awal hari Malang, 1 Januari 2019

Untuk Afrizal Malna (Puisi Puisi Nanang Suryadi)

YANG BERDIAM DALAM HANDPHONE ada yang berdiam dalam handphone. dunia tanda tanda. menanda penanda petanda. dunia benda benda. bandwith modem pulsa fesbuk twitter google yahoo menyala sepanjang waktu. sepanjang waktu jagamu. ah, malna belum kuupload video itu. terlalu besar filenya. Malang, 2010 TIBA TIBA AKU TERINGAT MALNA tiba-tiba aku teringat malna. apa kabar malna? aku menggali kedalaman airmata dan menemukan orang-orang menangis: dimana diri sendiri? hidup berputar dari huruf ke huruf, sesempit ruang tamu, ruang tidur dan kamar mandi. apakah kamu sudah mandi? memadamkan kepala dan bantal yang berasap aku telah bertemu acep syahril, dia bilang malna ingin menulis di luar puisi. jangan menangis, seperti puisi yang tak bersedih. memang udara memar bermainlah dengan jilan. batu-batu akan pindah ke halaman. sapi-sapi tak akan lagi melenguh mengeluhkan paru-paru penuh batu nomer telponmu hilang. hapeku rusak terbanting. aku tak bisa kirim sms ucapkan selamat lebaran. bulan ditebak di la...

BERI AKU WAKTU

Beri aku waktu sekejap saja, untuk menuntaskan segala yang terpendam, serupa puisi yang hendak dituliskan diam diam, dalam kesibukan tak berkesudahan Beri aku waktu, sekejap saja, sebagai jeda, agar dapat kuarungi keluasan puisi, semesta penciptaan kembali lewat jemari tanganku sendiri  Beri aku waktu, beri aku waktu, sekejap saja, agar tuntas segala. Beri aku waktu Malang, 12 Agustus 2023

MENCARI MATA DIKSI

meta mata mematamatai puisi mata matematika kata mata meta puisi menata kata memeta makna menata bata membaca alif awal mula mengaca pada peta luka luka atau lupa? di balik palu anagram pula Malang, 15 Agustus 2020

Puisi tiga bait untuk Tengsoe Tjahjono MENJELANG 65

Menghitung detik, menghitung menit, menghitung jam, menghitung hari, menghitung Minggu, menghitung bulan. Mungkin tak sempat lagi. Karena kesibukan demi kesibukan. Atau karena keheningan demi keheningan di dalam ruang puisi.  Di dalam kesibukan juga keheningan aku menyelinap menjelma kata-kata, mengetukngetuk pintu di dalam pintu imajinasimu. Hai, apa kabar? Hai, bolehkah aku masuk ke dalam ruang yang belum pernah kumasuki?  Jarum jam menunjuk tepat di tahun ke 65, tahun yang menanda banyak hal, mungkin kau tatap lembar kertas SK pensiun. Tapi apakah penyair boleh pensiun? Kau tertawa lebar. Penyair menjelang 65 tahun. 9 Agustus 2023

LAYANG LAYANG

layang layang terbang, layang layang yang kau lukis dengan cat air: warna warni puisi  layang layang terbang, di atas kolam, di waktu sebelum hujan, di saat gerimis tertahan, kau diam-diam mendengarkan bisik angin kepada awan layang layang terbang, setelah tersangkut kawat dan tiang listrik, mungkin kanak-kanakmu menunggu di sana, menyambutmu dengan senyuman Malang, 23 Juli 2020

APA YANG KAU PIKIRKAN (Puisi Nanang Suryadi)

apa yang kau pikirkan, mungkin waktu yang terasa cepat terasa lambat kemudian kau lihat waktu berhenti di jam tangan itu mungkin kau lihat sebagai bayang bayang di barat dan timur langkah kakimu di bawah matahari yang sama mungkin kita memikirkan hal yang sama, sebagai puisi yang tiba tiba menyapa, mungkin sebagai doa yang kau tulis di kertas tua  Malang, 23 Juli 2020

KEPADA SDD

ada yang diam diam menitikkan airmata, membaca larik demi larik, kata demi kata, hingga detik berhenti pada jam di jemari, buruh yang kau ingat dalam puisi, malam itu, detiknya demikian nyaring, di dalam sunyi, nyanyimu teramat sunyi ada yang diam diam meneteskan airmata, serupa gerimis tak menjelma deras hujan, di bulan Juli yang galau, menjelang kemarau berusaha untuk tabah, dengan jempol menari di layar gawai, melepas segala ke asal mula, yang menjadikannya ada dan tiada 19 Juli 2023

Beberapa Sajak Nanang Suryadi

MENGINGAT WAHYU PRASETYA Mungkin kau ingat gemuruh kota. Lipatan belati. Sesak bis kota. Erang pengemis. Jerit pengamen. Tali sepatu yang dieratkan. Kau bertapa. Diam. Sunyi. Sendiri. Di perut rimba. Gergaji mesin. Pohon tumbang. Burung dan hewan liar berpencaran. Ketakutan.  Kau berdiam. Dalam sajak malam mendawamkan laila. Indonesia, 24 Oktober 2016 MENGINGAT SUTARDJI CALZOUM BACHRI Guru, kenapa kau tulis luka di atas daging segar merah berdarah? Kau menjawabnya dengan tawa: haha. Demikian nyeri. Ironi tawa. Indonesia, 24 Oktober 2016 AKU DAN KATA Kau dipermainkan kata atau mempermainkan kata? Aku dan kata kata tertawa tawa saja. Gembira bersama. Indonesia, 24 Oktober 2016 NEGERIMU BAIK BAIK SAJA jangan kau tuliskan kesedihan, karena negerimu baik baik saja. hapuslah airmatamu. tulislah saja tentang negeri negeri jauh. sajak sajak tentang masa lalu. kejayaan yang gemilang. riwayat manusia yang tak pernah kita kenal dengan baik. jangan kau tuliskan apapun tentang negerimu, dengan ...

Di Negeri Jauh itu, Kau Rindukan Indonesia

Berbaris baris puisi Berapa baris kau kira Bisa menceritakan negerimu Negerimu yang kau panggil  Dengan nama-nama entah: Kanaha, Wakanda... Apakah tak tersimpan lagi  rasa bangga Di dalam dada, walau terasa sesak Menyebut negerimu Indonesia: "Indonesia yang kucinta..." Dari negeri-negeri jauh Dari musim salju yang jatuh Dari gurun-gurun yang tandus Aku percaya doamu amatlah tulus Inilah negeri yang kau cinta Negeri yang kau rindukan Walau tanpa kata-kata cinta Walau kau sebut dengan nama-nama entah: Kanaha, Wakanda atau apa saja Tetaplah ini negerimu Yang kau tegakkan  Dengan kerja dan doa-doa Sepanjang masa Indonesia, 28 September 2022 Nanang Suryadi, telah menerbitkan beberapa buku puisi, antara lain: Telah dialamatkan Padamu; Cinta, Rindu, dan Orang-orang yang Menyimpan Api dalam Kepalanya; Biar; Penyair Midas

TADARUS PUISI

aku membaca diri di arus diri yang memusar, di malam-malam yang engkau berkahi dengan cinta dan pengampunan wahai yang tak membutuhkan apapun, aku membutuhkan engkau, mengemis di hadapanmu, sepenuh pinta sepenuh harap sepenuh rindu sepenuh cinta aku membaca diri di dalam goa goa keheningan diri, membaca bahagia dan luka di sepanjang usia menyebut namamu adalah kebahagiaan menzikirkan namamu adalah kebahagiaan sebagai kerinduan di malam malam panjang penempuhan di jalan jalan berbatu berkelok panjang mendaki: tunjukkan aku jalan yang lurus. menemu cintaku aku membaca diri, membaca puisi di dalam diri Malang, 31 Mei 2017

KEMBALI KE SUNYI PUISI

aku padamkan segala bara dalam diri aku padamkan segala yang tak berarti hingga sunyi hingga sunyi yang tak bertepi menjelma dalam diri  demikian sunyi puisi tak peduli gemerincing goda demikian sunyi puisi tak peduli debat kata demikian sunyi puisi di dalam diri demikian puisi diriku yang sunyi Bandung, 27 Maret 2017

WIRID PUISI

Untuk: Cunong Nunuk Suraja di malam malam penempuhan di dingin dinihari encok minta perhatian puisi menjelma jalan mewirid ingatan asal mula mula jadi kemana kita akan kembali Bandung, 7 Juli 2018

OMON OMON

Mari kita berbicara Berbincang di warung kopi Sambil mengudar rahasia Yang hanya diketahui segelintir orang saja  Segala rahasia tak boleh diketahui banyak orang Terlebih lagi orang awam Mari, kubisikkan padamu: Makna omon omon sesungguhnya Indonesia, 8 Januari 2024

RUANG KOSONG

"Itu ruang apa Pak?" Dia bertanya kepada Pak Tua penjaga gedung kantor. Baru seminggu dia bekerja di gedung itu.  "O, itu ruang kosong, mbak," Jawab lelaki tua yang katanya sudah menjaga gedung itu selama tiga puluh tahun. Selama satu Minggu ini dia selalu bertemu dengan lelaki tua penjaga gedung kantor itu. Dia selalu bertemu karena paling akhir pulang, menjelang jam 12 malam. Tapi dia merasa sepertinya di dalam ruangan itu ada suara-suara. Dia coba mendekat ke pintu dan menempelkan telinganya. Dia mendengar ada suara lelaki membaca puisi.  "Pak, kok sepertinya ada orang di dalam, sedang membaca puisi?" Dia pun menoleh ke arah Lelaki tua penjaga gedung kantor tadi. Tak ada siapa-siapa di sana. Dia hanya menemukan secarik kaos bertuliskan "aku ingin hidup seribu tahun lagi..." Tepat dimana lelaki tua itu tadi berdiri. #pentigraf_ruang

Kunci T

Berbekal kunci T,  dia merapal mantra:  "2T harap 2,6T terbayar lunas 11000T mimpi indah  berbekal kunci T, kubuka kitab puisi" TTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT Terbukalah!

PERNAHKAH KAU RASA (Puisi Nanang Suryadi)

Pernahkah engkau merasa kepalamu penuh kata kata yang merontaronta ingin terlepas dari rongga kepala Pernahkah engkau merasa jari jemari tak tertahankan lagi untuk mengetuk kata demi kata tak habis habis  Pernahkah engkau merasa dadamu terasa penuh dengan segala keinginan yang tak henti henti ingin diucapkan dituliskan diteriakkan Pernahkah engkau merasa demikianlah puisi ingin menjadi lewat jemari Di jemarimu ia ingin abadi Bandung, 9 Oktober 2017

DI RUANG TAMU

Di meja ruang tamunya selalu ada buku puisi. Buku-buku puisi itu bertebaran di meja, berteman dengan asbak penuh puntung rokok dan gelas kopi. Buku-buku puisi dibacanya setiap hari, sejak bangun tidur hingga mau mandi. Setelah mandi dia baru memikirkan kemana lagi dia akan pergi dari pagi hingga malam hari.  Namun ada yang tidak diketahuinya, saat dia mandi, para buku puisi berdebat siapa engkau yang tak henti membaca puisi setiap pagi. Malang, 8 Juni 2022 #pentigraf_ruang

GENT NOVEMBER 2025 (Puisi Nanang Suryadi)

Memasuki kota Gent Menyapa udara dingin Dan langit putih Dengan uap napas dan asap rokok  Aku ingin membaca peradaban  Yang dibangun diantara sungai Scheldt dan Lys Di antara bangunan kastil kuno  Dan menara lonceng 'Tandailah aku dalam sajakmu" Ujar batu-batu kastil Gravensteen  Di siang yang menyembunyikan matahari Ya, aku tulis sajak ini Seperti kaum Flandria Menatah sejarah di Belgia  Gent Belgia, 2025

AWAN HITAM (Puisi Nanang Suryadi)

langit membeku, awan-awan hitam berdiam dalam kepalaku, tunggulah geletar petir puisi bergesekan di udara penuh listrik. gelegar guntur guruh petir di antara awan-awan hitam, serasa ingin membanjirkan kenangan demi kenangan buruk ke kota-kota yang paritnya tak sanggup menahan amarah penuh kotoran dan sampah. seorang anak berdiri di atas loteng: lihat! perahu kertas yang kita apungkan di selokan hitam di belakang gedung-gedung megah itu, terhanyut kemari! seorang penyair menuang syair menuang sajak menuang puisi ke dalam gelas, bergelas-gelas puisi syair sajak diteguknya, hingga mabuk dan perahu kertasnya menjelma kapal pesiar. teriaknya: hujan! hujan! datanglah, aku akan berpesiar ke negeri-negeri asing, katanya menggapai awan hitam awan hitam penuh listrik dalam kepalaku menyambar-nyambar menggeletarkan kata-kata 16 Januari 2020  #puisi #sajak #nanangsuryadi #penyairmidas #penyaircyber

DI STASIUN DEVENTER (Puisi Nanang Suryadi)

: Conrad Theodor  Selamat malam tuan Namamu Van Deventer, bukan? Aku teringat namamu Dari sejarah masa lalu Karena ketergesaan aku tersesat Dari stasiun ke stasiun Hingga sampai di sini Di Deventer ini Seperti juga pertanyaan pertanyaanku Tersesat dalam kepala Tentang politik etis membalas budi  Malam kian membeku Namun di langit terang cahaya bulan Aku ucapkan selamat malam, tuan Deventer, Netherland, 4 Desember 2025

Max Haveelar (Puisi Nanang Suryadi)

Di lobi sebuah hotel Aku berjumpa denganmu  Tuan Multatuli Dengan bahasa asing yang tak kumengerti Hanya ingatan Tentang Saijah dan Adinda Dan namamu Dalam suara Penyair burung merak Aku pun teringat kampung halaman Dekat kota Jakarta  Yang bukan ibukota negara lagi Aku buka halaman demi halaman Mencoba menghayati  Makna sebuah empati 18 Desember, 2025

LANGIT YANG MENYALA (Puisi Nanang Suryadi)

Apakah ini cahaya di saat senja Atau langit di saat fajar tiba Matahari menyimpan cahayanya  Di langit yang menyala Apa yang ingin kau tulis Ataukah ingin kau lukis Dalam ingatan Tentang negeri jauh Kita menyimpan kenangan  Di dalam ingatan  Yang sering cepat terlupakan  Karena hidup demikian sibuk Karena demikian hibuk Tak ada jeda membaca pertanda 22 Desember 2025

Aku Berlindung Padamu (Puisi Nanang Suryadi)

Aku berlindung padamu  Wahai pemilik waktu  Di saat subuh, di saat fajar  Sebentar lagi kan terbit matahari  Aku berlindung kepadamu Dari kejahatan dan mata kedengkian  Serta buhul buhul sihir duniawi Serta kejahatan hawa nafsuku sendiri Ampuni aku, lindungi aku Wahai pemilik waktu Maret, 2025