Skip to main content

Untuk Afrizal Malna (Puisi Puisi Nanang Suryadi)

YANG BERDIAM DALAM HANDPHONE

ada yang berdiam dalam handphone. dunia tanda tanda. menanda penanda petanda. dunia benda benda. bandwith modem pulsa fesbuk twitter google yahoo menyala sepanjang waktu. sepanjang waktu jagamu. ah, malna belum kuupload video itu. terlalu besar filenya.

Malang, 2010

TIBA TIBA AKU TERINGAT MALNA

tiba-tiba aku teringat malna. apa kabar malna? aku menggali kedalaman airmata dan menemukan orang-orang menangis: dimana diri sendiri?

hidup berputar dari huruf ke huruf, sesempit ruang tamu, ruang tidur dan kamar mandi. apakah kamu sudah mandi? memadamkan kepala dan bantal yang berasap

aku telah bertemu acep syahril, dia bilang malna ingin menulis di luar puisi. jangan menangis, seperti puisi yang tak bersedih. memang udara memar

bermainlah dengan jilan. batu-batu akan pindah ke halaman. sapi-sapi tak akan lagi melenguh mengeluhkan paru-paru penuh batu

nomer telponmu hilang. hapeku rusak terbanting. aku tak bisa kirim sms ucapkan selamat lebaran. bulan ditebak di langit hitam

apa yang kau lihat di malam lebaran malna? apakah seperti sitor melihat bulan di atas kuburan. serupa tanda. puisi yang meremang. isyarat

ah bulan, bulan yang samakah tertusuk ilalang? mungkin kau ingat garin dan zawawi. atau sapardi?

di restoran itu, aku lihat kau kenakan kalung pemberian teman. bukan ole-ole buat si pacar. ah, chairil dia menyimpan bulan memancar

apa kabar malna? aku menulis puisi dari ingatan sejarah yang melepuh. migrasi bahasa 140 karakter. ada  tardji yang kerap kusapa di sini

apa kabar?

Malang, 8-9-2011

SEPATU BIRU MALNA

Sepatu biru yang dulu itu masihkah tersimpan malna, setelah sepanjang jalan dipenuhi payung dan sandal warna biru. Sepanjang indonesia. Sepanjang puisi puisi benda. Mungkinkah kenangan disimpan di dalam museum. Karena dalam ingatan dokumen dokumen dihancurkan. Karena kita mudah lupa. Karena ada yang ingin kita lupa. Sebiru ingatan langit demikian cerah. Tapi mungkin cepat berganti, seperti kenangan tentang lagu Sebiru kesedihan kenangan tentang lagu tenda biru. 

Apa kabar malna, aku mencatat hari hari semakin mengharu biru. Seperti kuingat sepatu birumu.

PROSESI MENELPON DAN MENGIRIM SMS KEPADA MALNA

ada yang menelponmu. mungkin aku. mungkin bukan aku. handphone bersahutan dengan lagu-lagu. dan mailbox. suara yang tak asing. senja kuyup
 
dimana malna. kata smsku. smsku tak berjawab. tersesat di satelit mana. afrizal malna dimana kamu. dimana. jawab lagu-lagu: dimana?
 
aku ingin bertemu malna. membicarakan gelas kopi. pembesaran ruang. buku-buku yang bermetamorfosa. handphone yang senyap.
 
halo. nanang menelponmu. halo di mana malna? halo dimana? lagu-lagu menjawab: dimana. dimana. dimana. simpanlah suaramu di mailbox.
 
mungkin malna bersama malik. tapi malik juga dimana. dimana malik berada. dimana mana. di warung kopi yang mana. di kafe yang mana.
 
deni dimana malna? deni sedang kuliah. kuliah tentang senja. atau tentang hujan. mungkin juga puisi atau tatabahasa sikat gigi.
 
aku cari malna. biarlah telpon bernyanyi sendiri.
 
Malang, 6 April 2011

DI RUANG TAMU HAZIM AMIR

aku menatap topeng topeng, kendi, gentong, buku buku dan sejumlah kenangan bercakap cakap di ruang tamu 

aku tak mengerti puisi puisi malna, kata tuan rumah kepada penyair zawawi yang bertamu malam itu

aku menyimak percakapan dua orang guru di hadapanku, percakapan yang masih kuingat hingga kini

malam yang penuh pelajaran, tentang sebuah persahabatan dan kesejatian 

Malang, September 2017

DI SAAT COVID

aku menanam tomat, malna. apakabar paru-paru? halim bilang kau rajin merebus daun jati. aku kabarkan diriku baik baik saja, menanam cabe, tomat, dan bunga bunga di atas loteng. 

tiba tiba aku ingat kata kata, sepagi ini JuruBaca menyapa. malna, malna, di jemariku layar sentuh mengubahnya jadi makna. apa kabar? pintu gerbang sudah dibuka. ojek online sudah bisa masuk perumahan. apa kabar mantan penyair? aku ingin membuat museum.

27 Juni 2020

Comments

Popular posts from this blog

RUMAH PUISI DUNIA MAYA

- dengan Blog siapa pun bisa menjadi sastrawan Oleh : Qaris Tajudin(Koran Tempo, Ruang Baca, Februari 2007) "Every writer mus have an address," kata Cythia Ozick. Setiap penulis memiliki 'rumah'. Dan di dunia maya, para penulis mendapatkan pada blog. Berbeda dengan mailing list yang menjadi tempat mereka berbagi dan berdiskusi, blog adalah sesuatu yang lebih personal. Orang boleh singgah, tapi mereka adalah tamu. Pengunjung boleh ada, tapi kehadiran mereka bukan inti keberadaannya. Blog adalah eksistensi pemiliknya. Popularitas blog yang meroket sejak pergantian milenium ini memunculkan demokratisasi (untuk yang kesekian kalinya) di ranah maya. Tanpa duit dan prosedur berbelit, setiap orang bisa memiliki tempat di internet. Ini mengundang banyak orang untuk mematok kapling di dunia maya. Tak perlu diisi dengan hal-hal serius, toh kita bisa mendapatkannya dengan amat mudah. Lebih mudah dari menulis di buku diari.Para blogger menumpahkan muntah mantihnya di sana. Term...