Skip to main content

Posts

Showing posts with the label puisi religi

TADARUS PUISI (Nanang Suryadi)

aku membaca diri di arus diri yang memusar, di malam-malam yang engkau berkahi dengan cinta dan pengampunan wahai yang tak membutuhkan apapun, aku membutuhkan engkau, mengemis di hadapanmu, sepenuh pinta sepenuh harap sepenuh rindu sepenuh cinta aku membaca diri di dalam goa goa keheningan diri, membaca bahagia dan luka di sepanjang usia menyebut namamu adalah kebahagiaan menzikirkan namamu adalah kebahagiaan sebagai kerinduan di malam malam panjang penempuhan di jalan jalan berbatu berkelok panjang mendaki: tunjukkan aku jalan yang lurus. menemu cintaku aku membaca diri, membaca puisi di dalam diri Malang, 31 Mei 2017

Aku Berlindung Padamu (Puisi Nanang Suryadi)

Aku berlindung padamu  Wahai pemilik waktu  Di saat subuh, di saat fajar  Sebentar lagi kan terbit matahari  Aku berlindung kepadamu Dari kejahatan dan mata kedengkian  Serta buhul buhul sihir duniawi Serta kejahatan hawa nafsuku sendiri Ampuni aku, lindungi aku Wahai pemilik waktu Maret, 2025

GERIMIS TURUN DI TAMAN KOTA

Gerimis turun di taman kota Monumen yang beku Menyaksi peristiwa demi peristiwa Berlintasan di depan mata Berdoalah bagi kebaikan Diri kita dan orang orang yang teraniaya Di negeri sendiri atau.negeri jauh Manusia tetaplah manusia Gerimis turun di taman kota Masih ada sisa cahaya Masih ada Berdoalah bagi kebaikan Diri kita dan orang orang yang terpinggirkan Oleh napsu kehendak berkuasa Bandung, ,9 Desember 2017

BERKAHILAH HIDUP KAMI

berkahilah hidup kami dalam kedamaian dan jalan keselamatan di jalan cintamu berkahilah hidup kami dalam doa doa yang diaminkan manusia dan para malaikat sebagai cintamu airmata telah menghias tanah tanah tandus darah telah bersimbah di negeri porak poranda kami tersungkur di bumimu berkahilah hidup kami berkahilah hidup kami berkahilah hidup kami Bandung, 9 Desember 2017

DENGAN CINTA

suatu ketika rabi'ah ditanya, apakah kau membenci setan? jawabnya: tidak banyak orang kebingungan dan bertanya: mengapa? karena dalam diriku hanya ada Cinta 23 Maret 2000 Sila ditengok juga:   Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB

DARAH PERTAMA

lelaki yang terlahir di surga merasa paling tampan sedunia "apa yang hendak kalian persembahkan?" lelaki yang terlahir di bumi persembahkan kurban terbaik "ah, gagak, ajari aku mengubur adikku sendiri" begitulah, darah pertama manusia menetes di tangan saudara sendiri 22 Maret 2000 Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB

Menyapamu

Siapakah engkau? Bayang-bayang samar. Tak ada kaca untuk bercermin. Tak mengenali diri sendiri. Siapa engkau? Demikian lekat di denyut nadi. Kemana ku menghadap? Engkau semata. Tatapmu rahasia. Menembus dalam kalbu Di jalan puisi aku berjalan. Gaduh ramai manusia, tetap sunyi terasa. Demikian sunyi rahasiamu. Demikian teka-teki jalan sunyi. Menujumu Aku menyapamu. Menyapamu dalam geletar tak menentu. Gemetar airmataku menyeru-nyeru, karena kutahu engkau maha tahu, segala rindu. Bandung, 2016 Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB

di Beranda

di beranda   kubaca tanda tanda tak ada yang perlu dikhawatirkan,   sesungguhnya karena cinta, cintamu semata yang selalu terjaga Bandung, 2016 Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB

Doa

semoga yang kita lakukan membawa kebaikan bagi diri kita sendiri dan bagi semuanya. kebahagiaan, keselamatan, keberkahan hidup bagi kita semua. keikhlasan dan rasa bersyukur semoga hadir dalam kelapangan dada, menyingkirkan batu-batu kesombongan, kebencian, kedengkian dalam dada. "aku bertawakal kepadamu. sesungguhnya darimu segala mula, dan kepadamu segala akan kembali." Bandung, 2016 Sila ditengok juga: Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB

Cinta Rahasia

tak ada yang perlu tahu  bagaimana cintaku padamu, biarlah hanya engkau yang tahu dengan kemahatahuanmu Bandung, 2016 Sila ditengok juga:   Puisi Universitas Brawijaya  Nanang Suryadi Lecture UB

Kumpulan Puisi (Sajak) Religius

Kumpulan Puisi  SAJAK-SAJAK RELIGIUS Karya: Nanang Suryadi IN MEMORIUM melambaikan senja padamu. bersama air mata yang terasa asin di bibir. mata yang berkaca. melewati jendela menatap kematian dengan begitu bersahaja. amboi, langkah ini hendak menuju ke mana. selain menjejak pada kemungkinan hari-hari penuh kegelisahan, kehampaan dan kesunyian diri sendiri. meraba kegelapan yang melumuri isi kepala. kereta warna hitam yang kau sorongkan melewati pelataran. yang begitu lengang. tawarkan sebuah kenangan di masa lalu. ketika kehidupan baru di hembuskan ke dalam dadamu... bikin perjanjian untuk kembali pada asal mulamu, anak manusia. sepertinya tak ada yang patut ditangiskan. selain mengaca pada hari yang penuh warna dan cerita penuh deru di masa lalu. (Tuhan, aku hantarkan doa melewati senja ini) AKU YANG MERINDU, SIAPA TAHU? serupa lonceng berdentang di tangan poe, atau yono wardito ia menarik-narik tangan kakiku hendak menari. hendak menari mungkin ia semacam kerinduan...