"apa yang lebih puisi daripada gerimis dan senja?", ujarnya. di matanya dia menemukan gerimis dan senja, kemudian dia jatuh cinta. puisi mengekalkannya. "di dalam pelukan gerimis, kau ingat senja tersenyum manis? demikian puisi mengguris. kau tetap tertawa, walau hati teriris." di kedalaman matanya dia menemukan mimpi kanak-kanak: gerimis dan senja yang menjelma puisi. "huruf-huruf berhambur, menghambur, menghablur, masihkah kau ragu puisi membuatmu kembali menemui mimpi?"
Puisi. Puisi. Puisi. Puisi. Ruang Puisi Ruang Hati Ruang Sunyi. Mungkin ingin kau temukan diriku di sini, dalam catatan ini. Sebagai orang sunyi menelusuri lorong-lorong yang mengabstraksi di ambang sadar dan mimpi diri sendiri. Mungkin hanya ilusi. Yang kutulis di sini ~ Kumpulan Puisi Nanang Suryadi