Skip to main content

Posts

Showing posts with the label puisi sajak nanangsuryadi

MANA YANG LEBIH (Puisi Nanang Suryadi)

mana yang lebih tabah hujan atau airmata? kedua-duanya berdiam dalam sajak yang teramat sunyi. mana yang lebih puisi, kelopak senja atau kelopak malam? awan menunggu kemarau menjawab. hingga hujan melunaskannya hujan malam malam puisi menontonmu diam diam di sudut yang kekal dengan puisi malam malam hujan

MUKIM (puisi Nanang Suryadi)

di kota mana kau akan bermukim di saat musim-musim berubah melintas batas penanggalan dimana kau akan bermukim mungkin di musium musium atau mausoleum kata-kata jika engkau mau bermukimlah di sini di dalam puisi sunyi Malang, 16 November 2022

PAWANG (Nanang Suryadi)

ada yang berharap hujan,  ada yang mengusir hujan langit warna abu-abu, hujan tak turun juga, siapa mengusir awan hari ini? aku mengaduk segelas kopi. kopi yang hitam dan panas. serupa puisi, yang bersarang dalam kepalaku. ada yang bermain hujan,  karena merindukan airmata saat gerimis turun perlahan.  tiktiknya merinai. senja yang masai

SELEPAS HUJAN (Nanang Suryadi)

selepas hujan, langit demikian lengang, bening dan hening. serupa mata cintamu. menenangkan jiwaku selapis demi selapis ditulis puisi berlapis lapis, serupa pelangi, pendar hujan tertimpa cahaya matahari "riwayatkan aku pada akar, ranting, cabang, daun, bunga dan buahmu", ujar hujan membelai pepohonan. "kecup aku matahari, agar aku pulang ke keabadian," ucap embun. dan dia berbahagia "tak apa sendiri, jika sunyi lebih berarti," ujar gerimis

WIRID PUISI

Untuk: Cunong Nunuk Suraja di malam malam penempuhan di dingin dinihari encok minta perhatian puisi menjelma jalan mewirid ingatan asal mula mula jadi kemana kita akan kembali Bandung, 7 Juli 2018