Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Nanang Suryadi

Contoh Puisi Puisi Yang Sepi

HITAM BAYANG Kota dan bayang bayang melaju menderu ke arah tak tentu Mimpi digariskan dalam tidur panjang Terbunuhlah kanak oleh jemari kutuk Ditikam dengan bengis ke dalam lubuk jantungnya Karena nyeri kehidupan O, berlepasanlah segala riwayat Dari kehendak Diserukan gemuruh diserukan deru Manusia yang kehilangan Mencampakkan engkau ke dalam parit-parit Lubang kelamin Tegang kelamin Di kelangkang waktu Hingga bertumbuhan ilusi dalam rahim imaji menggeliatkan janin kalimat Detak jantungnya adalah hentak tak jelas Demikian lamat menyeru kehidupan atau sekarat kematian HANYA ENGKAU jerit lindap dari kedalaman jiwa yang kosong menyeru meminta jawab rahasia nyeri di mana akhir di mana ujung derita tak bertepi tak tergapai daratan pantai di mana engkau menanti dengan senyum dengan peluk cium o dekaplah aku ayun ambinglah dalam perahu cintamu biar kukayuh biar simbah segala napsu biar punah segala syahwat lebur dalam cahaya cintamu yang gelombang arusnya menengge...

Contoh Sajak Rindu kepada Tuhan

Di Saat Aku Merinduimu Genta waktu yang kau bunyikan Dentingnya sampai di sini Di penghujung hari Saat ku merinduimu Apa yang ingin kau kabarkan? Di kelebat saat yang fana Engkau demikian abadi Dalam ingatanku Sejak kau hembus Tak pupus Hingga kini Hingga gigilku sendiri Merinduimu Di lelangit harap dan mimpi Kutatap Juntaian takdir Leliku Jalan-jalan bercabang Sampaikah aku Menujumu? Di hariba Cintamu

Buku Kumpulan Puisi Yang Merindu Yang Mencinta Karya Nanang Suryadi

Buku Kumpulan Puisi Nanang Suryadi: Yang Merindu Yang Mencinta, diterbitkan oleh nulisbuku.com pada tahun 2012. Pembelian buku dapat langsung ke: nulisbuku.com   Ikuti cara pemesanan buku di situs nulisbuku.com untuk mendapatkan buku kumpulan puisi Nanang Suryadi ini. Buku Kumpulan Puisi yang Merindu yang Mencinta ini berisi puisi-puisi cinta yang dapat menginspirasi pembacanya. Sila nikmati buku kumpulan puisi karya Nanang Suryadi ini. Download contoh puisi dalam Kumpulan Puisi ini:  Buku Kumpulan Puisi Yang Merindu Yang Mencinta

Buku Kumpulan Puisi Derai Hujan Tak Lerai Karya Nanang Suryadi

DERAI HUJAN TAK LERAI derai hujan, tubuhmu kuyup,  sayup mata,  isyaratkan keraguan "kemana pergi? kemana pergi?" hanya kabut dan putih buih hujan, menyapa pandangan "kakiku goyah, lemah, gamang melangkah" begitu samar pandangku jalanan basah, becek dan berlumpur tak ada arah dituju, langit begitu kelabu derai hujan tak lerai; Cilegon, 28 Juli 1998 Buku Kumpulan Puisi Derai Hujan Tak Lerai Karya Nanang Suryadi dapat dibeli langsung melalui  nulisbuku.com  sila klik link  http://nulisbuku.com/books/view/derai-hujan-tak-lerai  untuk melihat penjelasan tentang buku Kumpulan Puisi Derai Hujan Tak Lerai ini. Sila download contoh-contoh puisi dalam Buku Kumpulan Puisi ini   di: http://nulisbuku.com/books/download/samples/a4a655b1a5f2811b06001d87917eb9ed.pdf

Buku Kumpulan Puisi BIAR! karya Nanang Suryadi

Buku Kumpulan Puisi BIAR! Karya Nanang Suryadi Buku Kumpulan Puisi BIAR! karya Nanang Suryadi dapat dipesan melalui INDIE BOOK CORNER . Sila Kontak Irwan Bajang untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang Buku Kumpulan Puisi BIAR! Atau langsung meluncur ke link ini:  http://bukuindie.com/beli-buku/cara/ Sila baca ulasan Yusri Fajar tentang buku ini: ESTETISISME, REPETISI DAN DONGENG BINATANG[1] Oleh: Yusri Fajar [2] Menulis puisi bukan proses kreatif dalam ruang hampa. Namun tidak banyak penyair memiliki keinginan mengisi ruang puisi dengan muatan ideologis dan kepentingan di luar seni. Persentuhan penyair dengan lingkungan, manusia dan alam, bisa memengaruhi gaya dan pilihan tema puisi. Tetapi sejauh mana manusia, alam dan berbagai fenomena di sekitarnya direpresentasikan dan dikonstruksi dalam puisi,  akan sangat diwarnai oleh kecenderungan penyair—apakah ia akan berkonsentrasi pada struktur internal puisi dan ‘universalitas’ makna atau lebih berkepentingan mengusung ‘s...

Buku Kumpulan Puisi Cinta, Rindu dan Orang-orang Yang Menyimpan Api dalam Kepalanya

Buku Kumpulan Puisi Nanang Suryadi berjudul: Cinta, Rindu dan Orang-orang yang Menyimpan Api dalam Kepalanya bisa dibeli langsung melalui penulisnya. Sila klik di gambar cover berikut ini: Cinta, Rindu dan Orang Yang Menyimpan Api dalam Kepalanya Kirim pesan di email: nanangsuryadi@yahoo.com twitter: @penyaircyber facebook: http://facebook.com/nanangsuryadi dengan menulis alamat kirim dan jumlah pemesanan. Harga perbuku: 60.000 + ongkos kirim. Silakan ditransfer melalui:  BRI KCP Unibraw 0579-01-015778-50-2 Atas nama: Nanang Suryadi Berikut komentar  beberapa pembaca buku ini: Puisi-puisi Nanang Suryadi ini bisa hadir membawa wajah Indonesia yang tidak dibungkus dengan kepalsuan dan tipu daya.  (Asep Sambodja, Penyair, Dosen FIB UI) Membaca dan memaknai puisi Nanang Suryadi yang sangat produktif dan kreatif memerlukan waktu dan bekal yang tak sedikit.  (Cunong Nunuk Suraja, Dosen FKIP, Universitas Ibn Khaldun) Pada dekade 2000-an, di mana Nanang Suryadi masuk di dala...

Telah Dialamatkan padamu Sepilihan Sajak Nanang Suryadi

Oleh: Cunong Nunuk Suraja Membaca judul buku kumpulan puisi Nanang, selintas kita sudah terikat pada kata "sepilihan", sebuah kata yang mengisyaratkan adanya kesatuan atau jumlah satu. Barangkali saja penyair akan mempunyai dua atau sekian pilihan. Penggunaan kata yang menabrak kaidah bahasa Indonesia ini akan kita jumpai dalam 100 sajak Nanang yang terpilih dalam buku puisi ini. Nanang sangat suka mengerjai kata dalam sajak-sajaknya dan ini merupakan hak penyair yang dikenal dengan poetic license . Untuk sekadar contoh, kita simak puisi-puisi berikut. terjemah kehendak, pada langit luas ………………………………………… mungkin cuma gurau melupa duka, karena ………………………………………… berabad telah lewat, apa yang ingin didusta? pada bening mata (Sajak “Intro”) Dalam darah buncah meruah gelombangkan gelisah kalut Seperti laut dalam tatapmu memagut. Demikian gairah meniada rasa takut ……………………………………… Ada ruang kosong. Keheningan. Jika engkau demikian lelah. Masuklah. Ada ruang ...

O Sajak O Apa O

Oleh: Agustinus Wahyono Semula, setelah menikmati ‘kata pengantar’, saya membuka sajak-sajak dalam buku Telah Dialamatkan Padamu secara cepat dan segera berlembar-lembar. Dari membaca cepat dan berlembar-lembar itu beberapa kali saya diperhadapkan dengan sebuah kata. Kata “O” (huruf vokal, ataukah juga malah bukan huruf melainkan angka nol?). Dari satu “O” berloncatan ke “O” lainnya; baik dalam satu sajak maupun berpindah ke sajak lainnya. Ada apa dengan “O”, kok suka sekali sang sajakis memakainya, pikir saya penasaran. Berikut-berikutnya saya pun menemukan sajak berjudul “O Mata”. Ya, “O Mata”, tampak jelas memakai kata “O” di daftar isi dan di halaman 18. Saya semakin penasaran saja, ada apa dengan “O”; apa yang hendak disampaikan oleh sajakis Nanang Suryadi (NS) melalui sajak-sajaknya. Maka, karuan saja saya cari jejak-jejak “O” pada sajak-sajak NS dalam antologinya itu. Satu per satu saya baca baik-baik, lalu saya hitung. Ternyata dari 99 sajak dalam buku terse...

Menelusur Malam, Menembus Temaram

(1) menelusur malam. cahaya lampu. jalan raya yang menjadi kenang. pada tanda tanda. yang tak henti melambai. dari lagu lagu yang diputar berulangkali. di dalam rekaman ingatan. mungkin bukan lirik yang sederhana. mungkin bukan sajak yang bersahaja. karena puisi memberi rahasianya sendiri. seperti…. (2) jalan yang tak juga lengang. seperti dalam ingatan. penuh klakson dan deru. penuh rambu. tanda tanda yang harus kubaca. biar tak sesat diri. menafsir makna. menafsir marka. menafsir bahasa jalan raya. (3) malang pasuruan probolinggo situbondo banyuwangi pantai utara timur jawa membaca tanda dari titik ke berapa di panarukan kaki deandels dijejakkan sejarah yang hilir mudik dalam ingatan (4) menembus malam. dinihari yang temaram. di selasela sorot cahaya. kendaraan melaju ke mana. entah. ke dalam pikiran yang simpang siur. antara kenang dan kenang. menembus malam. menjelajah riwayat waktu.

Tentang Mimpi Penyair yang Tak Segera Ingin Tidur

bersama pringadi & yayan triansyah (1) ah, engkau penyair. mengapa tak skegera tidur. terlelap. dan bermimpi menulis puisi. puisi yang kau tulis di dalam mimpi telah ditakwilkan dalam kitab primbon mimpi. berlapis mimpi seperti kue lapis yang manis legit dimakan saat kau lapar puisi (2) insomnia. amnesia. kau lupa mana kata yang harus kau ucapkan saat kau lupa untuk segera tidur karena lupa mana kata yang tepat untuk mengatakannya dan kini kau coba mengingat ingat insomnia atau amnesia. dan kau lupa untuk tidur segera. (3) ada yang membawa mimpinya ke dalam puisi yang ditulisnya di dalam mimpnya malam tadi. saat dia terbangun puisinya masih terus ingin bermimpi. (4) di dalam puisinya ia menata mimpi agar kata kata tersusun rapi diksi demi diksi yang serasi seperti puisi dalam mimpinya malam nanti

setiap pagi, arya lihat burung burung bernyanyi

setiap pagi, arya lihat burung burung bernyanyi dipeluk ayah yang belum mandi, di atas genting rumah tetangga, di pohon pohon ceri burung emprit, burung gereja, burung kutilang, burung kenari itu burung, ada berapa de? burung burung terbang dan bernyanyi disiram cahaya matahari pagi arya tertawa, arya menangis, arya tersenyum, arya teriak dalam pelukku, sepanjang pagi dalam pelukku malang, 2010

UGD Tengah Malam

malam yang penuh erang, selang infus, jarum suntik, duh gusti, di bawah ambang sadar masih sanggupkah dipanggil namamu: allah…allah…allah biar tak terucap makian umpatan di perih yang menjalar seluruh tubuh duh gusti, semoga masih hanya namamu: allah…allah…allah… di dalam cintaku di dalam rinduku Malang, 20-22 Juni 2010

Serabi Jalan Margonda

buat: arwan, ninus, cecil serabi yang gurih. susu kental manis. parutan keju. meruap harum. sebagai kehangatan. kenang sepanjang jalan. margonda yang ramai. mall mall yang bertumbuhan. mungkin akan mengasingkan kita. dari senda. dari puisi. waktu lalu. Malang, 2010

Nasi Goreng

ada yang meruap dari penggorengan. harum bawang merah dan putih. dilumat dengan cabe dan garam. nasi diaduk di panas penggorengan. seperti kuaduk semua kenang dan keseharian. dalam puisi. sepedas cabe. seasin garam. kulumat amarah, gembira, keringat dan airmata. ku malang, 2010

Bulan Menari antara Ada dan Tiada

bulan menari antara ada dan tiada, nyata atau maya, di matamu kanak, yang berbisik: ada apa denganmu? tapi mungkin jangan tanya pada bulan. jangan pula minta bunda: ambilkan bulan bu, ambilkan bulan bu. karena bulan sedang menari. meniru mentari yang gerhana. bulan tak akan datang padamu lagi. jangan menangis. jangan menangis. seperti kanak itu yang tak mengerti mengapa harus membuka topengnya. ia hanya ingin berteman bintang. berapa jumlah bintang di langit? katamu. tak tahu. tak tahu. bulan menari. mentari menari. dan engkau kanak tak ingat lagi dongeng tentang wonder dan neverland. seperti peterpan yang melupakan hook bajak laut dan para peri, seperti alice yang melupakan kelinci berkacamata dan ratu merah. karena engkau telah dewasa. sepertinya malang, 18 juni 2010

ada yang kuingat dari segelas kopi

ada yang kuingat dari segelas kopi. angan yang diaduk dalam kenang dan keluh tak habis habis. seperti kopi yang kuaduk dalam gigil mendung cuaca dingin. angan dan angin menderu ingin. seperti sore ini. kuaduk puisi dalam segelas kopi. hitam sekali. malang, 16 juni 2010