Skip to main content

Puisi tiga bait untuk Tengsoe Tjahjono MENJELANG 65

Menghitung detik, menghitung menit, menghitung jam, menghitung hari, menghitung Minggu, menghitung bulan. Mungkin tak sempat lagi. Karena kesibukan demi kesibukan. Atau karena keheningan demi keheningan di dalam ruang puisi. 

Di dalam kesibukan juga keheningan aku menyelinap menjelma kata-kata, mengetukngetuk pintu di dalam pintu imajinasimu. Hai, apa kabar? Hai, bolehkah aku masuk ke dalam ruang yang belum pernah kumasuki? 

Jarum jam menunjuk tepat di tahun ke 65, tahun yang menanda banyak hal, mungkin kau tatap lembar kertas SK pensiun. Tapi apakah penyair boleh pensiun? Kau tertawa lebar. Penyair menjelang 65 tahun.

9 Agustus 2023

Comments

Popular posts from this blog

RUMAH PUISI DUNIA MAYA

- dengan Blog siapa pun bisa menjadi sastrawan Oleh : Qaris Tajudin(Koran Tempo, Ruang Baca, Februari 2007) "Every writer mus have an address," kata Cythia Ozick. Setiap penulis memiliki 'rumah'. Dan di dunia maya, para penulis mendapatkan pada blog. Berbeda dengan mailing list yang menjadi tempat mereka berbagi dan berdiskusi, blog adalah sesuatu yang lebih personal. Orang boleh singgah, tapi mereka adalah tamu. Pengunjung boleh ada, tapi kehadiran mereka bukan inti keberadaannya. Blog adalah eksistensi pemiliknya. Popularitas blog yang meroket sejak pergantian milenium ini memunculkan demokratisasi (untuk yang kesekian kalinya) di ranah maya. Tanpa duit dan prosedur berbelit, setiap orang bisa memiliki tempat di internet. Ini mengundang banyak orang untuk mematok kapling di dunia maya. Tak perlu diisi dengan hal-hal serius, toh kita bisa mendapatkannya dengan amat mudah. Lebih mudah dari menulis di buku diari.Para blogger menumpahkan muntah mantihnya di sana. Term...