Skip to main content

Beberapa Sajak Nanang Suryadi

MENGINGAT WAHYU PRASETYA

Mungkin kau ingat gemuruh kota. Lipatan belati. Sesak bis kota. Erang pengemis. Jerit pengamen. Tali sepatu yang dieratkan.

Kau bertapa. Diam. Sunyi. Sendiri.

Di perut rimba. Gergaji mesin. Pohon tumbang. Burung dan hewan liar berpencaran. Ketakutan. 

Kau berdiam. Dalam sajak malam mendawamkan laila.

Indonesia, 24 Oktober 2016

MENGINGAT SUTARDJI CALZOUM BACHRI

Guru, kenapa kau tulis luka di atas daging segar merah berdarah? Kau menjawabnya dengan tawa: haha. Demikian nyeri. Ironi tawa.

Indonesia, 24 Oktober 2016

AKU DAN KATA

Kau dipermainkan kata atau mempermainkan kata? Aku dan kata kata tertawa tawa saja. Gembira bersama.

Indonesia, 24 Oktober 2016

NEGERIMU BAIK BAIK SAJA

jangan kau tuliskan kesedihan, karena negerimu baik baik saja. hapuslah airmatamu. tulislah saja tentang negeri negeri jauh. sajak sajak tentang masa lalu. kejayaan yang gemilang. riwayat manusia yang tak pernah kita kenal dengan baik.

jangan kau tuliskan apapun tentang negerimu, dengan kesedihan atau penyesalan. karena semua baik baik saja.

Indonesia, 24 Oktober 2016

DALAM INGATAN

yang diperam ingatan berlalulang saat mata terpejam. sunyi tak sebenar sunyi. kosong tak sebenar kosong. tak serupa gelembung sabun. meletus

berulangulang. demikian riang ingatan. demikian sedih ingatan. diperam kata. dalam ingatan. lalulalang saat terpejam.

demikian kuyup hidup terendam ingatan. walau mimpi hendak dipendam. tapi serupa bara api menyimpan dendam, dalam sekam.

Indonesia, 24 Oktober 2016

MENERKA TANDA

kau menerka tanda. yang dibisikkan angin. yang diisyaratkan dingin. ayat ayat yang terbuka. membuka pintu rahasia bagi yang hendak berpikir. memikirkannya.

mungkin tak hendak kau terka sebuah diam. karena sudah merasa.pintar segala.

Indonesia, 24 Oktober 2016

YANG MERUNCING DARI INGATAN

yang meruncing mungkin ingatan: senja yang basah. kelam yang sebentar kan datang. mungkin kau menunggu langit berwarna jingga. tapi gerimis hujan telah menyembunyikannya.  dari tatapmu.

Indonesia, 24 Oktober 2016

TEMUJIN

temujin, temujin, di padangpadang rumput kau rasakan derita siksa. kudakuda yang mendengus meringkik. panah panah api. pecut yang menggelar cetar membahana. kau ingatkah itu? sebelum kuasa membebani sejarah hidupmu.

temujin, temujin, mungkin tak kau dengar berita: mengkhi utusan cucumu kehilangan telinga. di negeri jauh. di selatan. orangorang yang tak mau terhina. 

temujin, temujin, tembok raksasa tak runtuh. tapi jiwa manusia tergadai, mempercepat sebuah kuasa besar runtuh.

Indonesia, 24 Oktober 2016

AKU INGIN MENYAPAMU

aku ingin menyapamu sebelum pena diangkat dan tinta mengering. di kertas puisi berulang dituliskan. serupa airmata ditangiskan. serupa langit yang merindukan hujan. puisi minta dituliskan dari jemari yang gemetaran. menerka kelebat makna di sebalik kata

Indonesia, 24 Oktober 2016

MENGINGAT CAMUS

apa.yang ingin kau abadikan,
katakata yang segera melapuk,
perasaan siasia dan.putus asa?

serupa sisiphus, kau ingin dikutuk
dan bahagia

Indonesia, 24 Oktober 2016

DI SUDUT JALAN ITU

doa doa yang lindap menyelinap
di deru gemuruh serak teriak

adalah airmata bercampur debu
yang mengekal di sudut jalan itu

menunggu sapamu

Indonesia, 24 Oktober 2016

YANG MEMBANDANG

yang membandang mungkin hujan, puisi yang tak sempat kau tuliskan
engkau memandang jalanan, tak ada yang terucapkan

Indonesia, 24 Oktober 2016

KARENA

karena kau telah menggusur mimpiku tentang puisi
biarlah puisi yang mendatangi mimpimimpimu

Indonesia, 24 Oktober 2016

Comments

Popular posts from this blog

RUMAH PUISI DUNIA MAYA

- dengan Blog siapa pun bisa menjadi sastrawan Oleh : Qaris Tajudin(Koran Tempo, Ruang Baca, Februari 2007) "Every writer mus have an address," kata Cythia Ozick. Setiap penulis memiliki 'rumah'. Dan di dunia maya, para penulis mendapatkan pada blog. Berbeda dengan mailing list yang menjadi tempat mereka berbagi dan berdiskusi, blog adalah sesuatu yang lebih personal. Orang boleh singgah, tapi mereka adalah tamu. Pengunjung boleh ada, tapi kehadiran mereka bukan inti keberadaannya. Blog adalah eksistensi pemiliknya. Popularitas blog yang meroket sejak pergantian milenium ini memunculkan demokratisasi (untuk yang kesekian kalinya) di ranah maya. Tanpa duit dan prosedur berbelit, setiap orang bisa memiliki tempat di internet. Ini mengundang banyak orang untuk mematok kapling di dunia maya. Tak perlu diisi dengan hal-hal serius, toh kita bisa mendapatkannya dengan amat mudah. Lebih mudah dari menulis di buku diari.Para blogger menumpahkan muntah mantihnya di sana. Term...