Skip to main content

KEPADA SDD

ada yang diam diam menitikkan airmata, membaca larik demi larik, kata demi kata, hingga detik berhenti

pada jam di jemari, buruh yang kau ingat dalam puisi, malam itu, detiknya demikian nyaring, di dalam sunyi, nyanyimu teramat sunyi

ada yang diam diam meneteskan airmata, serupa gerimis tak menjelma deras hujan, di bulan Juli yang galau, menjelang kemarau

berusaha untuk tabah, dengan jempol menari di layar gawai, melepas segala ke asal mula, yang menjadikannya ada dan tiada

19 Juli 2023

Comments

Popular posts from this blog

RUMAH PUISI DUNIA MAYA

- dengan Blog siapa pun bisa menjadi sastrawan Oleh : Qaris Tajudin(Koran Tempo, Ruang Baca, Februari 2007) "Every writer mus have an address," kata Cythia Ozick. Setiap penulis memiliki 'rumah'. Dan di dunia maya, para penulis mendapatkan pada blog. Berbeda dengan mailing list yang menjadi tempat mereka berbagi dan berdiskusi, blog adalah sesuatu yang lebih personal. Orang boleh singgah, tapi mereka adalah tamu. Pengunjung boleh ada, tapi kehadiran mereka bukan inti keberadaannya. Blog adalah eksistensi pemiliknya. Popularitas blog yang meroket sejak pergantian milenium ini memunculkan demokratisasi (untuk yang kesekian kalinya) di ranah maya. Tanpa duit dan prosedur berbelit, setiap orang bisa memiliki tempat di internet. Ini mengundang banyak orang untuk mematok kapling di dunia maya. Tak perlu diisi dengan hal-hal serius, toh kita bisa mendapatkannya dengan amat mudah. Lebih mudah dari menulis di buku diari.Para blogger menumpahkan muntah mantihnya di sana. Term...