Skip to main content

Memasuki Kota Menhir



memasuki kota menhir, sayatan pahat pada batu-batu, aroma purba
arus mimpi mengundangku datang menemu wajahmu kota tua

seperti kutemukan wajahku di situ
tubuh yang disalibkan di pancang batu

telah tersesat domba-domba beterjunan ke lumpur hitam
hingga mengembik di sekarat legam

doa doa apa yang dilontarkan ke langit
sebagai deru sebagai teriak jerit pahit

memasuki kota menhir, lingga patah, yoni retak
wajah mimpiku pecah berderak

Depok, 11 September 2002



Comments

Popular posts from this blog

RUMAH PUISI DUNIA MAYA

- dengan Blog siapa pun bisa menjadi sastrawan Oleh : Qaris Tajudin(Koran Tempo, Ruang Baca, Februari 2007) "Every writer mus have an address," kata Cythia Ozick. Setiap penulis memiliki 'rumah'. Dan di dunia maya, para penulis mendapatkan pada blog. Berbeda dengan mailing list yang menjadi tempat mereka berbagi dan berdiskusi, blog adalah sesuatu yang lebih personal. Orang boleh singgah, tapi mereka adalah tamu. Pengunjung boleh ada, tapi kehadiran mereka bukan inti keberadaannya. Blog adalah eksistensi pemiliknya. Popularitas blog yang meroket sejak pergantian milenium ini memunculkan demokratisasi (untuk yang kesekian kalinya) di ranah maya. Tanpa duit dan prosedur berbelit, setiap orang bisa memiliki tempat di internet. Ini mengundang banyak orang untuk mematok kapling di dunia maya. Tak perlu diisi dengan hal-hal serius, toh kita bisa mendapatkannya dengan amat mudah. Lebih mudah dari menulis di buku diari.Para blogger menumpahkan muntah mantihnya di sana. Term...