Skip to main content

Demikianlah Sunyi


Buat : TS Pinang

dihembus sunyi bersama nafasmu, o pejalan sendiri. menembangkan suluk
kerinduan pesisir pada hamparan sawah-sawah: bulir-bulir padi yang penuh
padat merunduk tunduk. kusampaikan salam hangat angin garam dari lautan.
seasin airmata. seasin airmata.

dihembus sunyi bersama nafasmu, o pejalan sendiri. menembangkan suluk
kerinduan pesisir pada puncak merapi: o asap yang mengepul dari mulutmu,
seperti kurasa gelegak di dasar bumi. kusampaikan hangat angin gelombang
lautan. seamuk mimpimu. seamuk mimpimu.

di sebalik sunyi, sehuruf puisi menari sendiri. menemu kenangan kembali.

Depok, 28 Agustus 2002




Comments

Popular posts from this blog

RUMAH PUISI DUNIA MAYA

- dengan Blog siapa pun bisa menjadi sastrawan Oleh : Qaris Tajudin(Koran Tempo, Ruang Baca, Februari 2007) "Every writer mus have an address," kata Cythia Ozick. Setiap penulis memiliki 'rumah'. Dan di dunia maya, para penulis mendapatkan pada blog. Berbeda dengan mailing list yang menjadi tempat mereka berbagi dan berdiskusi, blog adalah sesuatu yang lebih personal. Orang boleh singgah, tapi mereka adalah tamu. Pengunjung boleh ada, tapi kehadiran mereka bukan inti keberadaannya. Blog adalah eksistensi pemiliknya. Popularitas blog yang meroket sejak pergantian milenium ini memunculkan demokratisasi (untuk yang kesekian kalinya) di ranah maya. Tanpa duit dan prosedur berbelit, setiap orang bisa memiliki tempat di internet. Ini mengundang banyak orang untuk mematok kapling di dunia maya. Tak perlu diisi dengan hal-hal serius, toh kita bisa mendapatkannya dengan amat mudah. Lebih mudah dari menulis di buku diari.Para blogger menumpahkan muntah mantihnya di sana. Term...