Skip to main content

Tarian Zarathustra



seperti pijar, ingatan, kau menarikan derita manusia, di padang
terbuka, musik letusan, begitu merdu, debu itu pakaianmu selalu,
wajah bengis atau rintih pilu, pertaruhkan: inilah cinta itu
sayangku, tikaman pada jantung, 35 butir peluru bersarang di tubuh,
inilah darah, tarian purba, zarathustra, zarathustra....

mengapa disembunyikan wajahmu? dalam senyum, sedang hunus di tanganmu
siap tikam menikam. lunaskan segera. lunaskan!

seekor gagak berekor gagak, berjuta burung nazar berkaok-kaok,
mengendus-ngendus, bau dari tanganmu. sayap hitam. paruh tajam.
mencucuk-cucuk daging...

ah, derita manusia...derita manusia...




Comments

Popular posts from this blog

RUMAH PUISI DUNIA MAYA

- dengan Blog siapa pun bisa menjadi sastrawan Oleh : Qaris Tajudin(Koran Tempo, Ruang Baca, Februari 2007) "Every writer mus have an address," kata Cythia Ozick. Setiap penulis memiliki 'rumah'. Dan di dunia maya, para penulis mendapatkan pada blog. Berbeda dengan mailing list yang menjadi tempat mereka berbagi dan berdiskusi, blog adalah sesuatu yang lebih personal. Orang boleh singgah, tapi mereka adalah tamu. Pengunjung boleh ada, tapi kehadiran mereka bukan inti keberadaannya. Blog adalah eksistensi pemiliknya. Popularitas blog yang meroket sejak pergantian milenium ini memunculkan demokratisasi (untuk yang kesekian kalinya) di ranah maya. Tanpa duit dan prosedur berbelit, setiap orang bisa memiliki tempat di internet. Ini mengundang banyak orang untuk mematok kapling di dunia maya. Tak perlu diisi dengan hal-hal serius, toh kita bisa mendapatkannya dengan amat mudah. Lebih mudah dari menulis di buku diari.Para blogger menumpahkan muntah mantihnya di sana. Term...