Skip to main content

Di Beranda Engkau Membaca Puisi

: labibah zein

Di beranda engkau membaca puisi dari mata kanak-kanak atau cahaya matahari yang tersangkut di rambut penyair. Di negeri jauh yang menanggungkan rindu dan mulai menulis tentang waktu yang berangkat ke arah senja. Mungkin tak ada yang sempat menanyakan tentang alamat ke mana akan kembali. Karena di mana pun adalah perjalalan untuk pulang. Sebagai seringkali ditelusuri jejak peta dengan airmata. Di mata kanak-kanak ingin kau temukan negeri itu. Di beranda engkau membaca puisi. Sebagai cahaya matahari senja tersangkut di rambutnya.

Comments

Popular posts from this blog

RUMAH PUISI DUNIA MAYA

- dengan Blog siapa pun bisa menjadi sastrawan Oleh : Qaris Tajudin(Koran Tempo, Ruang Baca, Februari 2007) "Every writer mus have an address," kata Cythia Ozick. Setiap penulis memiliki 'rumah'. Dan di dunia maya, para penulis mendapatkan pada blog. Berbeda dengan mailing list yang menjadi tempat mereka berbagi dan berdiskusi, blog adalah sesuatu yang lebih personal. Orang boleh singgah, tapi mereka adalah tamu. Pengunjung boleh ada, tapi kehadiran mereka bukan inti keberadaannya. Blog adalah eksistensi pemiliknya. Popularitas blog yang meroket sejak pergantian milenium ini memunculkan demokratisasi (untuk yang kesekian kalinya) di ranah maya. Tanpa duit dan prosedur berbelit, setiap orang bisa memiliki tempat di internet. Ini mengundang banyak orang untuk mematok kapling di dunia maya. Tak perlu diisi dengan hal-hal serius, toh kita bisa mendapatkannya dengan amat mudah. Lebih mudah dari menulis di buku diari.Para blogger menumpahkan muntah mantihnya di sana. Term...