Skip to main content

di sudut itu kau baca isyarat lampau Dimana Penanda Dimana Petanda

di sudut itu kau baca isyarat lampau
:ben abel

huruf-huruf yang kau eja, wahai, merasuki angin danau
kabarkan padaku tentang mimpi-mimpi yang menjelma

seperti puisi yang menjadi
keping-keping kenang

telah kau baca isyarat dari lampau
pada buku-buku tua di sudut itu

terjemahkan padaku
segala kehendak rahasia

dari palung terdalam
jejak waktu


Dimana Penanda Dimana Petanda
:iwank

dimana penanda dimana petanda
telah lumat huruf

di sebalik kalimat adakah tanda
meloncenglonceng segala hakikat

hanya ikon, arketip
tinggal

di senja yang murung

Comments

Popular posts from this blog

RUMAH PUISI DUNIA MAYA

- dengan Blog siapa pun bisa menjadi sastrawan Oleh : Qaris Tajudin(Koran Tempo, Ruang Baca, Februari 2007) "Every writer mus have an address," kata Cythia Ozick. Setiap penulis memiliki 'rumah'. Dan di dunia maya, para penulis mendapatkan pada blog. Berbeda dengan mailing list yang menjadi tempat mereka berbagi dan berdiskusi, blog adalah sesuatu yang lebih personal. Orang boleh singgah, tapi mereka adalah tamu. Pengunjung boleh ada, tapi kehadiran mereka bukan inti keberadaannya. Blog adalah eksistensi pemiliknya. Popularitas blog yang meroket sejak pergantian milenium ini memunculkan demokratisasi (untuk yang kesekian kalinya) di ranah maya. Tanpa duit dan prosedur berbelit, setiap orang bisa memiliki tempat di internet. Ini mengundang banyak orang untuk mematok kapling di dunia maya. Tak perlu diisi dengan hal-hal serius, toh kita bisa mendapatkannya dengan amat mudah. Lebih mudah dari menulis di buku diari.Para blogger menumpahkan muntah mantihnya di sana. Term...