Skip to main content

Kota Yang Ditenggelamkan

:sidoarjo

mungkin ingin kau catat berapa airmata yang meluber melumpur
kota yang ditenggelamkan,
di sebuah kenangan, di sebuah ingatan
puisi yang menggapai-gapai kehilangan

Comments

Unknown said…
mungkin juga, aku harus mengingat berapa banyak rindu yang sudah ditaburkan di sepanjang langkah yang kau pijaki,juga harus di catat berapa banyak kenangan yang sudah kau sirami dengan rindu diatasmu, puisimu....sebenarnya, tidak menggapai-gapai kehilangan, dia hanya melambaikan tangannya, tapi tak pernah kehilangan apapun......
asep noorhasan said…
aku marah...karena hidup membawaku pada kerontang luka,mas nanang... hidup??? hidup semakin membingungkan tapi dengan membaca puisi AKU JADI AKU !!!

Popular posts from this blog

RUMAH PUISI DUNIA MAYA

- dengan Blog siapa pun bisa menjadi sastrawan Oleh : Qaris Tajudin(Koran Tempo, Ruang Baca, Februari 2007) "Every writer mus have an address," kata Cythia Ozick. Setiap penulis memiliki 'rumah'. Dan di dunia maya, para penulis mendapatkan pada blog. Berbeda dengan mailing list yang menjadi tempat mereka berbagi dan berdiskusi, blog adalah sesuatu yang lebih personal. Orang boleh singgah, tapi mereka adalah tamu. Pengunjung boleh ada, tapi kehadiran mereka bukan inti keberadaannya. Blog adalah eksistensi pemiliknya. Popularitas blog yang meroket sejak pergantian milenium ini memunculkan demokratisasi (untuk yang kesekian kalinya) di ranah maya. Tanpa duit dan prosedur berbelit, setiap orang bisa memiliki tempat di internet. Ini mengundang banyak orang untuk mematok kapling di dunia maya. Tak perlu diisi dengan hal-hal serius, toh kita bisa mendapatkannya dengan amat mudah. Lebih mudah dari menulis di buku diari.Para blogger menumpahkan muntah mantihnya di sana. Term...