Skip to main content

SELAT HONSHU-KYUSHU

Menyeberang jembatan ke utara. Memandang selat honshu-kyushu. Lautan pasifik yang biru. Utara. Selatan. Utara. Selatan. Kemakmuran merata. Pajak membangun jalan-jalan. Pajak menanam pohon-pohon. Pajak membentangkan jembatan. Negara melambaikan bendera dan undang-undang. Negara memasuki rekening tabungan para penunggak pajak. Negara tak mengurusi agama warganya. Negara menagih haknya. Warga memberikan uangnya. Warga menuntut haknya. Negara memberi kewajibannya. Dari selatan ke utara. Dari kyushu ke honshu. Aku merindu tanah airku.

Comments

Popular posts from this blog

RUMAH PUISI DUNIA MAYA

- dengan Blog siapa pun bisa menjadi sastrawan Oleh : Qaris Tajudin(Koran Tempo, Ruang Baca, Februari 2007) "Every writer mus have an address," kata Cythia Ozick. Setiap penulis memiliki 'rumah'. Dan di dunia maya, para penulis mendapatkan pada blog. Berbeda dengan mailing list yang menjadi tempat mereka berbagi dan berdiskusi, blog adalah sesuatu yang lebih personal. Orang boleh singgah, tapi mereka adalah tamu. Pengunjung boleh ada, tapi kehadiran mereka bukan inti keberadaannya. Blog adalah eksistensi pemiliknya. Popularitas blog yang meroket sejak pergantian milenium ini memunculkan demokratisasi (untuk yang kesekian kalinya) di ranah maya. Tanpa duit dan prosedur berbelit, setiap orang bisa memiliki tempat di internet. Ini mengundang banyak orang untuk mematok kapling di dunia maya. Tak perlu diisi dengan hal-hal serius, toh kita bisa mendapatkannya dengan amat mudah. Lebih mudah dari menulis di buku diari.Para blogger menumpahkan muntah mantihnya di sana. Term...