Skip to main content

Surabaya, Di Atas Loteng Tiang Tanpa Bendera

aku mengeja tembok tembok yang kukuh angkuh. lampu lampu menyeringai dari sebuah kota. yang menyimpan deru dari masa lalu. merasuki diriku.

surabaya. surabaya. malam menelusur ke dalam kepalaku. merasuk ke dalam jiwaku. sejarah yang melepuh. di tiang bendera yang kosong.

1910 ditanda, bulan juni tepatnya. meneer mulai membuka hotel di soerabia.

meneer, aku menziarahimu di malam jumat ini. aku rasa engkau ada di atas balkon itu. tersenyum. oranye kesukaanmukah? cintamu, mungkin.

Surabaya 17 Februari 2011

Comments

Popular posts from this blog

RUMAH PUISI DUNIA MAYA

- dengan Blog siapa pun bisa menjadi sastrawan Oleh : Qaris Tajudin(Koran Tempo, Ruang Baca, Februari 2007) "Every writer mus have an address," kata Cythia Ozick. Setiap penulis memiliki 'rumah'. Dan di dunia maya, para penulis mendapatkan pada blog. Berbeda dengan mailing list yang menjadi tempat mereka berbagi dan berdiskusi, blog adalah sesuatu yang lebih personal. Orang boleh singgah, tapi mereka adalah tamu. Pengunjung boleh ada, tapi kehadiran mereka bukan inti keberadaannya. Blog adalah eksistensi pemiliknya. Popularitas blog yang meroket sejak pergantian milenium ini memunculkan demokratisasi (untuk yang kesekian kalinya) di ranah maya. Tanpa duit dan prosedur berbelit, setiap orang bisa memiliki tempat di internet. Ini mengundang banyak orang untuk mematok kapling di dunia maya. Tak perlu diisi dengan hal-hal serius, toh kita bisa mendapatkannya dengan amat mudah. Lebih mudah dari menulis di buku diari.Para blogger menumpahkan muntah mantihnya di sana. Term...