Skip to main content

Putiba: Nanang Suryadi

GEMERCIK HUJAN DI SAAT SENJA


di saat senja

hujan tipis tipis

gemerciknya sampai pada malam


mungkin hujan ingin bersenda

menunggu seduhan panas kopi

atau rangkaian kata


sehingga tercipta puisi

tentang hujan, kopi dan senja dan 

yang mengajakmu bersenda


Malang, 17 November 2022




KOTA MALAM HARI


alun alun kecil 

alun alun besar

ditanda lampu lampu


siapa yang ingin mengingat masa lalu?

ditanamnya batu-batu

di jalan raya itu


sepanjang kayu tangan - stasiun kota baru

ingatan melaju

bersama waktu berlalu


Malang, 16 November 2022



MUKIM


di kota mana kau akan bermukim

di saat musim-musim berubah

melintas batas penanggalan


dimana kau akan bermukim

mungkin di musium musium

atau mausoleum kata-kata


jika engkau mau

bermukimlah di sini

di dalam puisi sunyi


Malang, 16 November 2022




DI LACI ITU, EMILY


di laci itu, Emily

sajak-sajak ditemukan 

tanpa judul di setiap halaman


tidak ada siapa pun

tak ada

yang menyimpan rahasia demikian erat


seperti juga engkau

juga puisi

membocorkan rahasia kebenaran


Malang, 16 November 2022



BIARLAH


biarlah mimpi mimpi menjelma, 

seperti yang kau angankan, 

seperti yang kau inginkan, 

sebagai rindu 

yang menemu cinta 

demikian sempurna


biarlah segala terbaca 

dari sorot matamu 

lintasan waktu 

yang tak henti mencatat 

tak henti tercatat 

duka gelisahmu 

yang fana


aku tetap terjaga 

menjaga bahasa, 

walau hanya kata 

dan kalimat yang bergema 

dan kembali kepada diri sendiri



KAU KIRA CHAIRIL SEDANG APA


Di sudut itu

Engkau menyapa

Patung Chairil


Hai bung, kau sedang apa?

Tanyamu seperti orang gila

Tentu saja patung tak akan menjawab tanya


Kau membayangkan Chairil tertawa

Melihat aspal diganti batu di sekelilingnya

Chairil yang dikutuk sepi nasibnya sendiri 


Malang, 14 November 2022



Engkau Menatap Senja


Sudah berapa waktu

Berlalu begitu saja

Hingga kau tatap senja


Kau tatap senja 

Yang menggetarkan jiwa

Menggetarkan raga


Ada apa di balik senja 

Setelah hilang cahaya 

Di langit jingga


Malang, 14 November 2022


Comments

Popular posts from this blog

RUMAH PUISI DUNIA MAYA

- dengan Blog siapa pun bisa menjadi sastrawan Oleh : Qaris Tajudin(Koran Tempo, Ruang Baca, Februari 2007) "Every writer mus have an address," kata Cythia Ozick. Setiap penulis memiliki 'rumah'. Dan di dunia maya, para penulis mendapatkan pada blog. Berbeda dengan mailing list yang menjadi tempat mereka berbagi dan berdiskusi, blog adalah sesuatu yang lebih personal. Orang boleh singgah, tapi mereka adalah tamu. Pengunjung boleh ada, tapi kehadiran mereka bukan inti keberadaannya. Blog adalah eksistensi pemiliknya. Popularitas blog yang meroket sejak pergantian milenium ini memunculkan demokratisasi (untuk yang kesekian kalinya) di ranah maya. Tanpa duit dan prosedur berbelit, setiap orang bisa memiliki tempat di internet. Ini mengundang banyak orang untuk mematok kapling di dunia maya. Tak perlu diisi dengan hal-hal serius, toh kita bisa mendapatkannya dengan amat mudah. Lebih mudah dari menulis di buku diari.Para blogger menumpahkan muntah mantihnya di sana. Term...