Skip to main content

Sajak-sajak NANANG SURYADI

SELAMAT SENJA


"selamat senja," katanya. puisi gemetar. lindap di balik remang cahaya.


adalah gema. memantul mantul dalam dada. dalam kepala. sebagai dentang. sebagai kenang. berulang-ulang datang.


"peluk aku dalam cintamu. rengkuh aku dalam rindumu. doa-doa yang ikhlas. menggetarkan semesta."


pikiran-pikiran meruncing. seperti ingin menikam. dan jawab? serupa bening air. memantulkan wajah galau.


28 September 2015




SKETSA KATA-KATA


1.

benar benar berkata benar benar sulit benar benar


2.

tak ada tiada ada tak ada


3.

di depan cermin mematut diri. belajar berpidato, tapi malu pada diri sendiri. seperti pejabat di televisi


4.

separuh kosong atau separuh isi? dan kita berdebat dari sisi yang berbeda


5.

semua dapat tempat semua dapat bagian. di panggung sejarah. dan kita bertepuk tangan. romeo juliet mati berpelukan. bukankah begitu tuan chairil bersabda?


6.

"jangan ikuti aku, bila ku tersesat biarlah hanya diriku yang begitu". para pemujanya bertepuk tangan mengelu-elu.


7.

di dalam kekosongan bukan berarti ketiadaan



KATA MENDEBU


serpihan menyerpih serpih. mendebu debu, di keluasan semesta, menerjemahmu dengan kelu lidahku


karena kesabaran bukan untuk dikata-katakan


kata-kata berhamburan kemana kan sampai? engkau ya engkau


26 September 2015


AIRMATA IBU


aku tak ingin menghapus airmatamu ibu, karena itu adalah doa yang tak terucapkan, cinta yang terus dipanjatkan


Bandung, 2015



Di SAAT HUJAN


di saat hujan aku teringat penyair yang membenci hujan dan bulan  di dalam puisi. karena lampu-lampu kota telah menyingkirkannya jauh ke kampung ingatan


selepas hujan aku bertanya: sehitam itukah kotoran yang menumpuk mengendap di dasar-dasar sungai, hingga sehari hujan tak sanggup melarutkannya?


Bandung, 2015



PUISI HUJAN MALAM


mana yang lebih tabah hujan atau airmata? kedua-duanya berdiam dalam sajak yang teramat sunyi.


mana yang lebih puisi, kelopak senja atau kelopak malam? awan menunggu kemarau menjawab. hingga hujan melunaskannya


hujan malam malam puisi menontonmu diam diam di sudut yang kekal dengan puisi malam malam hujan


Bandung, 2015


AKU BERSUJUD


di bumimu aku bersujud, serasa menciummu. engkau yang sangat dekat, namun terasa jauh dari gapai.


jika harapku serupa daun luruh jatuh, engkau pula yang menumbuhkan tunas-tunasnya


Bandung, 2015


ABAI ISYARAT


banyak isyarat disampaikan, tapi kita abai, dengan segala alasan kesibukan


negeri itu hilang dalam lumpur dan asap. "ah, itu hanya dongeng belaka," ujar sang pejabat. dia akan pesiar ke negeri jauh.


Bandung, 2015


AMSAL KEHIDUPAN


pendakian demi pendakian. demikianlah kehidupan. sampai kapan kan terus bertahan. hingga sampai perjumpaan.


dengan kesabaran, demikianlah cinta merawat luka. di dada yang gemuruh. di saat sepi meraja. cinta menyala-nyala


Bandung, 2015


BERSERAH


tak usah kau cari kata, karena kau telah baui keringat asinnya, kehidupan telah mengajarkan puisi, berulang-ulang di depan matamu


ketika galau berubah gebalau, mengapa tak kau rebahkan seluruh tubuh melekat ke bumi?


Bandung, 2015



CINTA DAN BENCI


"para pembenci mungkin merekalah pecinta sesungguhnya" katamu. cinta dan benci. bergumul di kedalaman dada.


Bandung, 2015


KAU INGIN


engkau ingin melukis senja? tapi engkau tak sanggup melukiskan keindahannya.


Bandung, 2015


DENTANG KENANG MENCARI JEJAK SAJAK


yang berdentang adalah kenang. bayang-bayang centang perenang. yang berdentang adalah kenang. berganti-ganti datang dan hilang.


sajak-sajak tanpa jejak, serupa peta buta, hingga kita tersesat dalam tanya. kapan kan sampai. kemana kan sampai.


kau memetakan langit, tapi langit penuh asap, kemarau demikian panjang. "Tak ada asap tanpa ada api," katamu. semua tahu


berulang-ulang. dan kita tak pernah belajar. menghikmati semua kejadian. peristiwa menjadi sumber kegaduhan.  debat kusir. berulang-ulang


kita rayakan keterpurukan dengan menanggap musik dari negeri jagoan. kita rayakan kekalahan demi kekalahan. agar tak terasa kesedihan.


setiap kali, suguhkan berita sebagai hiburan. agar grundelan bisa melepaskan kepenatan. di dalam kegaduhan, lupa semua kesulitan.


di dalam sajak itu sore menjadi hore, senja menjelma senda. seperti isi kepala yang berbeda-beda membaca. demikian juga tanda-tanda.


Bandung, 2015


DI GANG-GANG KOTA, RASAKAN DENYUT PUISI


kita sering terpikat pada yang sesaat, tak mampu membuat jarak pada persoalan-persoalan yang mendesak menyesak


inilah hidup. hidup. sebenar-benar puisi. dalam asin darah keringat airmata. inilah puisi. tak tertampung kata-kata


aku hikmati teriakan-teriakan yang bergema dari gang ke gang di kota ini. aku hikmati bau-bauan aroma khas dari got musim kemarau


tak ada lagi deru gerinda beradu dengan batu dari gang-gang kota ini. tinggal teriakan tukang sol sepatu, baso cuangki, odading, pais impun


tapi hidup harus terus berlanjut. seremah demi seremah rezeki harus dicari dan disyukuri.


Bandung, 2015


SENJA YANG TAK LAGI MENGGODA


apakah senja tak lagi menggoda, hingga tiada lagi puisi ditulis untuk mengabadikannya?



DI SAAT PURNAMA BULAN


udara yang bikin gigil dan terang cahaya purnama, menyempurnakan puisi malam ini


mungkin kau bayangkan bulan yang sempurna bercahaya di luas langit merasa sepi dan gigil sendiri, tapi tetap tersenyum padamu



INILAH SUJUDKU


rindu yang menggebu, cinta yang mendamba, inilah sujudku, syair-syair yang tak pernah usai dituliskan


apakah udara yang membuat gigil? atau tubuh yang tak kuasa menolak dingin?


doa dan doa. harap dan cemas berbaur dalam degup dada


doa dan doa. pinta atau sebuah pernyataan cinta?


sungguh sukar menghindar puja puji, semata ikhlas mencintaimu sepenuh hati. duh, sungguh sukar sekali


di batas malam, di puncak malam, ada yang bersimbah. airmata mencari muara asinnya


serupa pepohonan yang rebah, demikian tabah dalam lelaku sembah


diam adalah gerak. gerak adalah diam. keseimbangan dalam semesta. diriku debu. diam atau beterbangan. tetaplah merindu 


bacalah. tapi aku membaca dengan mata hati yang rabun, mulai membuta. sejukkan dengan embunmu. terangi dengan cahayamu. agar tak lagi aduh


jutaan binatang liar dalam dada dan kepala, demikian gaduh, dan keheningan membuatnya semakin riuh. aku bersimpuh


apakah aku dapat berpaling dari tatapmu setajam itu?


apakah akal atau rasa, menjangkau engkau, yang rahasia


berserah diri, pasrah, takdir menjadi


malam yang diberkahi, malam yang teramat sunyi, memandang diri sendiri, termangu sendiri


Juli, 2015



AKU MENYAPAMU DALAM SUNYI


yang berdetak adakah jarum jam atau jantung sendiri, menyerumu dalam sunyi


aku menyapamu dalam sunyi


dekaplah diri yang gigil, menemu cahaya kata di perjalanan sunyi


bacalah: asal mula diri, kemana akan kembali. di dalam sunyi. di dalam rindu tiada henti


telah diterjemahkan bahasa: dari hati kembali ke hati. demikian berhati-hati menerka, memakna, hati dengan hati


2015



MERINDU PUISI


ada yang merindukan puisi, dan diam-diam menuliskannya dalam mimpinya malam ini


puisi adalah keikhlasan ingin berbagi. di peta nasib, seseorang menentukan arah kemana akan pergi, jalan kembali


apa yang terbaca pada langit yang dibuka cahaya? mungkin cinta yang bersahaja, cinta yang sesungguhnya


sebuah entah, dejavu, melintasi jalan-jalan puisi, sebuah entah, kapan bila


jemari waktu merangkum puisi, sebagai cinta dan rindu yang bergalau satu


puisi menyelinap di dalam mimpimu, mimpi yang asing tapi sekaligus kau akrab kenali


sebaris puisi dibisikkan angin, sebuah ingin yang menuai sepi


2015


MENGHAYATI KEHIDUPAN


Yang terpuruk jatuh. Yang terhuyung limbung. Yang tersingkir ke pinggir. Doa-doa penuh kesabaran. Keikhlasan. Mengetuk pintu Tuhan.


Keringat demikian asin. Juga airmata. Rasakan bagaimana kehidupan. Tak hanya duduk nyaman di belakang meja di kursi empuk di ruangan wangi


Tak  kau rasakan bagaimana perut melilit karena lapar. Tak  kau rasakan bagaimana rasa dianggap pecundang.  Bersyukurlah


Menghayati kehidupan. Merasakan asin keringat dan airmata. Adalah puisi. Mengalir di dalam darah. Mendebar di jantung. Di dalam diri kita


2015


ADA


Aku ada di dalam engkau. Mula dan akhir. Wahai keabadian. Hanya engkau yang ada.


2015


HIDUP


Jungkir balik. Bermain sirkus. Tunggu tepuk tangan? Pasar malam pasti kan berakhir


Roda waktu berputar. Atas bawah kanan kiri dimana engkau berada kini? Ini hidup harus terus dijalani. Sebelum segala berhenti


2015


HUJAN YANG MEMBASAHI PUISI


Hujan di luar. Membasah di dalam puisi. Hujan di desa hujan di kota sama saja. Jangan larang hujan membasah di lirik lirik puisi.


2015



AKU BERSIMPUH


Aku bersimpuh. Tatapanmu demikian seluruh. Airmata luruh. Di hadapanmu kesombongan runtuh.


Doa dan doa. Semoga semua berbahagia. Bersyukur dan ikhlas senantiasa.


2015


NASIB PUISI


Pada akhirnya sajak ditulis dan dilupakan. Karena anak anak kata menemui nasib dan sunyinya sendiri. Menemu takdirnya sendiri.


2015


AKU MENYAPAMU 


Siapakah engkau? Bayang-bayang samar. Tak ada kaca untuk bercermin. Tak mengenali diri sendiri. Siapa engkau? Demikian lekat di denyut nadi.


Kemana ku menghadap? Engkau semata. Tatapmu rahasia. Menembus dalam kalbu


Di jalan puisi aku berjalan. Gaduh ramai manusia, tetap sunyi terasa. Demikian sunyi rahasiamu. Demikian teka-teki jalan sunyi. Menujumu


Aku menyapamu. Menyapamu dalam geletar tak menentu. Gemetar airmataku menyeru-nyeru, karena kutahu engkau maha tahu, segala rindu.


2015


UNTUKMU YANG BERKUBANG DALAM KESEDIHAN


yang berkubang dalam kesedihan,  mungkin melupakan kebahagiaan yang terberikan


tataplah mata di dalam cermin, bercakaplah sebagai karib yang mengurai segala kesah, dirimu


yang berdiam di dalam kenang, berkubang dalam kenang, tak melihat cahaya menyorot dari balik jendela


telah dibahasakan malam sebagai kelam, tapi tengoklah gemintang demikian cemerlang di baliknya


mungkin bukan untukmu, jangan memaksa cinta yang tak ditakdirkan untukmu, bergegaslah menemu takdir cintamu sendiri



KARENA ENGKAU


KAU adalah sumber airmata, mata air kehidupan, kembali airmata akan bermuara


setiap kali aku gugup menyapamu, hidup teramat pelik, demikian pula menerka kehendakmu. Sedang Kau dalam degup jantung di detak nadiku



DI PENGHUJUNG TAHUN


di penghujung tahun, hujan menghunus kenangan, segera hari akan menjadi lampau, kenangan dideretbariskan, kenangan


ada kenangan yang tak hendak dihapuskan. ada kenangan yang hendak segera dilupakan


di penghujung tahun, ada hujan yang diharapkan, ada hujan yang tak diinginkan, begitulah manusia, terlalu banyak yang dipinta


ada yang datang ada yang pergi, demikianlah diajarkan waktu. sedetik lalu akan lampau, sedetik ke depan segera ditemui


masihkah engkau ingin saling menghinakan? apakah itu akan membuatmu bertambah mulia?" tanya hujan, di penghujung tahun yang lembab



NANANG SURYADI, lahir di Pulomerak, Serang pada 8 Juli 1973. Buku puisinya: Sketsa (HP3N, 1993), Sajak Di Usia Dua Satu (1994), dan Orang Sendiri Membaca Diri (SIF, 1997), Silhuet Panorama dan Negeri Yang Menangis (MSI,1999) Telah Dialamatkan Padamu (Dewata Publishing, 2002), Cinta, Rindu dan Orang-orang Yang Menyimpan Api dalam Kepalanya (UB Press, 2010), BIAR! (Indie Book Corner, 2011), Yang Merindu Yang Mencinta (Nulisbuku, 2012), Derai Hujan Tak Lerai (Nulisbuku, 2012), Kenangan Yang Memburu (Nulisbuku, 2012), Penyair Midas (Hastasurya, 2013)

Comments

Popular posts from this blog

RUMAH PUISI DUNIA MAYA

- dengan Blog siapa pun bisa menjadi sastrawan Oleh : Qaris Tajudin(Koran Tempo, Ruang Baca, Februari 2007) "Every writer mus have an address," kata Cythia Ozick. Setiap penulis memiliki 'rumah'. Dan di dunia maya, para penulis mendapatkan pada blog. Berbeda dengan mailing list yang menjadi tempat mereka berbagi dan berdiskusi, blog adalah sesuatu yang lebih personal. Orang boleh singgah, tapi mereka adalah tamu. Pengunjung boleh ada, tapi kehadiran mereka bukan inti keberadaannya. Blog adalah eksistensi pemiliknya. Popularitas blog yang meroket sejak pergantian milenium ini memunculkan demokratisasi (untuk yang kesekian kalinya) di ranah maya. Tanpa duit dan prosedur berbelit, setiap orang bisa memiliki tempat di internet. Ini mengundang banyak orang untuk mematok kapling di dunia maya. Tak perlu diisi dengan hal-hal serius, toh kita bisa mendapatkannya dengan amat mudah. Lebih mudah dari menulis di buku diari.Para blogger menumpahkan muntah mantihnya di sana. Term...