Skip to main content

Contoh Puisi Reformasi

KETIKA KAU SAKITI LAGI HATI KAMI

Ketika para penggarong uang negara yang telah menghabiskan pundi-pundi lumbung anak negeri kau ampuni. Maka engkau telah menyakiti hati kami untuk kesekian kali. Tapi kau tak pernah menyadari. Kau sakiti lagi. Dan lagi. Dan lagi.

“Kalian aku ampuni. Diucapkan terima kasih atas kesadaran untuk membayar hutang ke pundi-pundi lumbung anak negeri. Kalian memang pahlawan sejati. Tahu diri. Mengerti kesulitan negeri ini.”

Tapi itu saja tak cukup. Kita harus membayar hutang kembali. Ke negeri para gergasi. Karena pundi-pundi lumbung anak negeri telah habis, di pesta pora tikus berdasi.Kau tak tahu lagi langkah untuk mengisi kembali. Lalu: naikkan harga! naikkan harga!

“Tarif naik saudara-saudara! Jangan boroskan pemakaian listrik, telpon, dan minyak! Jadilah rakyat yang bijak. Prihatin akan keadaan negeri yang sedang kehabisan pundi-pundi…”

Tapi, sungguhkah kau tahu: listrik, telpon dan minyak yang kau naikkan harganya, menjadi bola bilyard yang kau sodok, menghantam bola-bola mata kami. Lalu bintang-bintang bermunculan seperti kunang-kunang yang berpendaran dari mata. Lagi-lagi kau sakiti hati kami.

“Taatlah membayar pajak. Karena kalian adalah rakyat yang bijak. Taatlah. Karena dengan membayar pajak, maka pembangungan akan terus berjalan. Perekonomian akan terus hidup. Dan kalian akan makmur sejahtera.”

Ampun. Ampun. Jangan paksa kami untuk mati berdiri!

Depok, 9 Januari 2003




Wisata Ke Bukit Tengkorak


Mungkin ini hanya dongeng yang memasuki tidurmu sebagai mimpi buruk yang menyeringaikan wajah yang buruk dan busuk. alkisah:

di sebuah lembah, yang tak akan kau kenali lagi sebagai lembah, bergunung tengkorak. berjenis tengkorak dapat kau temukan di situ. membukit. membukit. kami beri nama bukit itu sebagai bukit tengkorak.

(pusat wisata bukit tengkorak, nikmati keindahan dari masa lalu, sebagai hiburan bagi keluarga anda.)

entah sejak tahun berapa. entah di masa kapan. tengkorak itu mulai menghuni lembah dan menjadi bukit. aku bayangkan burung-burung nazar, gagak, kondor mematuki daging-daging yang lunak dan mulai mencair dengan ulat belatung yang muncul dari sela-sela mata dan udara yang pengap dengan bau anyir dan busuk.

(ah, tapi itu dulu, kini bukit tengkorak yang permai, menjadi pusat wisata di negeri kami).

aku bayangkan: ribuan bahkan jutaan manusia, diangkut ke lembah itu, mula-mula mereka diminta menggali lubang besar bagi pemakamannya sendiri. lalu mereka ditusuk dengan bayonet, atau ditembak dengan tepat di dahi, di dada kiri, atau biarkan ditendang saja masuk lobang. di sebuah senja yang indah, saat matahari tenggelam, di saat kelelawar keluar dari sarangnya, mengepak dengan jerit di langit yang merah darah.

(ah, tapi itu dulu, kini bukit tengkorak demikian ramai dikunjungi, para wisatawan berpoto bersama dengan senyum ditebar ke sana ke mari.sebuah senyum, berarti devisa)

aku bayangkan: darah muncrat dari kepala dan dada. menyembur-nyembur membasahi tanah. desis, rintih, dan raung memenuhi udara. gelepar tak habis di setiap saat pembunuhan, pembantaian, kekejian di senja yang demikian indah. di saat matahari menutup tirainya.

(ya, ya, itu tercatat di brosur dan buklet yang kami bagikan ke seluruh penjuru dunia lewat agen perjalanan wisata kami. terima kasih bung, kami sediakan fasilitas hotel dengan jendela terbuka menghadap bukit tengkorak. selamat berlibur…)


9 Januari 2003



Narasi Pembantaian dan Nisan Tanpa Nama
seperti mimpimu:

nisan, sebuah batu duka, bertanda gambar tengkorak yang ditatah di situ. tanpa nama. tanpa tahun kelahiran dan kematian. hanya kengerian. terbayang di wajahmu. yang menziarahi dengan puisi di suatu waktu. bagaimana dapat digambarkan kebuasan, kekejian dan keliaran, dalam kata-kata.

pembantaian! bayangkan amis darah, anyir daging yang tersayat, ditusuk belati, dilubangi peluru panas, luka nganga, dan ulat yang menggeliat di sela-sela tulang dan patukan burung di lembah terbuka. inilah kengerian yang memasuki sajak-sajak yang hitam dalam kepak sayap gagak berputar meriuh di atas padang-padang berserak mayat dengan mata yang tercungkil, tangan yang hilang, kaki yang remuk dan daging dada serta kepala yang mengelupas tercabik-cabik di paruh burung gagak dan nazar.

jika malam tiba, rasakan dingin udara, hawa kematian dan terbayang hantu-hantu berkeliaran, ingin mencekik lehermu yang merindingkan sebulu-bulu pada tubuhmu, hingga tak sadar bau pesing menguar dari celana.

mimpi ini demikian buruk, katamu. sambil mencatat sajak di duka batu. nisan tanpa nama. puisi hitam. mimpi kelam di hitam malam.

depok, 9 Januari 2003




Comments

Popular posts from this blog

Sajak-sajak Terbaru dan Terbaik Nanang Suryadi 2011

KUCARI ENGKAU, TAPI KATAMU KAU CARI DULU DIRIMU SENDIRI kota demi kota menyimpan jejak kakiku, kenangan demi kenangan menera peta dalam sajakku, tapi dimana diriku sendiri? dari ceruk ke ceruk, dari palung ke palung, kucaricari rahasia diri, dimana sembunyi jawab atas tanya, o dimana? di tanur tanur rindu cintaku ditempa, hingga muai oleh api cemburu, hingga murni, cintaku padamu berkali-kali aku gawal dalam uji, berkali-kali kau ampuni, karena cintamu kutahu, karena cintamu. memberi arti di puncak malam ada yang tugur, menunggu sunyi gugur, sebagai airmata yang bercahaya, melarutkan kesah ke lautan maha Cinta Malang, 2011 DENGAN SAJAK  KUKABARKAN PUISI Sajak adalah mata kanak kanak yang bening tak berdosa, temukan rahasia di balik teka teki waktu, sebuah kehendak Kau tak dapat berbohong dengan sajak, karena sesungguhnya hatimu telah menera jejak Jika kabar demikian samar, sajak mengajakmu untuk menebak, teka teki kehendak Puisi telah memenuhi ruang kepala...

Sajak-sajak NANANG SURYADI

SELAMAT SENJA "selamat senja," katanya. puisi gemetar. lindap di balik remang cahaya. adalah gema. memantul mantul dalam dada. dalam kepala. sebagai dentang. sebagai kenang. berulang-ulang datang. "peluk aku dalam cintamu. rengkuh aku dalam rindumu. doa-doa yang ikhlas. menggetarkan semesta." pikiran-pikiran meruncing. seperti ingin menikam. dan jawab? serupa bening air. memantulkan wajah galau. 28 September 2015 SKETSA KATA-KATA 1. benar benar berkata benar benar sulit benar benar 2. tak ada tiada ada tak ada 3. di depan cermin mematut diri. belajar berpidato, tapi malu pada diri sendiri. seperti pejabat di televisi 4. separuh kosong atau separuh isi? dan kita berdebat dari sisi yang berbeda 5. semua dapat tempat semua dapat bagian. di panggung sejarah. dan kita bertepuk tangan. romeo juliet mati berpelukan. bukankah begitu tuan chairil bersabda? 6. "jangan ikuti aku, bila ku tersesat biarlah hanya diriku yang begitu". para pemujanya bertepuk tangan menge...